Monday, May 27, 2019
Home News Feature Menghitung Nafas LG di Pasar Smartphone

Menghitung Nafas LG di Pasar Smartphone

-

Jakarta, Selular.ID – LG masih merupakan nama besar di industri elektronik dunia. Namun, di ranah smartphone, nafas chaebol Korea itu, kini tengah diuji.

Seperti halnya Sony, sejak beberapa tahun terakhir, LG terlihat keteteran menghadapi serbuan vendor-vendor China yang semakin agresif merebut pangsa pasar. Hal ini tercermin dari rapor unit mobile yang masih merah menyala.

Demi mengubah kinerja divisi mobile itu, LG berencana untuk menghentikan produksi ponsel di pasar dalam negeri dan mengalihkannya ke pabrik yang terletak di Vietnam.

Dilansir dari Kantor berita Yonhap, perusahaan akan menghentikan produksi handset di Korea Selatan pada akhir 2019. Pabrik tersebut menyumbang antara 10% – 20% dari total output ponsel pintar perusahaan, terutama terdiri dari model-model kelas atas.

Baca juga : LG Setop Produksi Smartphone di Korea

LG mengatakan, relokasi pabrik ke Vietnam akan meningkatkan kapasitas produksi tahunan sebesar 83% menjadi 11 juta handset pada paruh kedua tahun ini. Selain Vietnam, LG  diketahui juga memiliki basis produksi ponsel pintar di China, Brasil, dan India.

Pemindahan tersebut dengan sendirinya akan meningkatkan lini produksi smartphone LG di Vietnam. Sekaligus mendorong perubahan dalam bisnis selular yang terus berjuang dalam upaya mengurangi biaya produksi.

Seperti diketahui, unit mobile LG telah berada di zona yang mengkhawatirkan sejak Q2 2017. Perusahaan baru-baru ini melaporkan peningkatan kerugian operasional sebesar KRW322,3 miliar (US$ 280 juta) pada Q4 2018.

Penjualan sepanjang kuartal ke-empat 2018 tercatat hanya sebesar KRW1,7 triliun atau USD1,51 miliar. Jumlah itu terhitung menurun 16% dibanding kuartal ketiga tahun yang sama. Tercatat, unit mobile adalah satu-satunya divisi perusahaan yang membawa kerugian.

Keputusan LG memindahkan pabrik menyusul langkah yang sebelumnya telah dilakukan oleh dua pesaing tradisional, Samsung dan Sony. Keduanya juga merelokasi pabrik ke lokasi berbiaya rendah agar mampu berjuang ditengah penurunan permintaan global.

Baca juga : Ini Alasan LG Tidak Mengeluarkan Smartphone di Indonesia

Samsung, pembuat smartphone terbesar di dunia, mengatakan akhir tahun lalu akan menghentikan operasi di salah satu pabrik telepon selular di China.

Sebelum kebangkitan vendor-vendor domestik, Samsung merupakan pemain dominan di China. Menurut catatan Strategy Analytics, pada 2011 pangsa pasar raksasa Korea itu di China sebesar 12,4%. Kemudian melonjak menjadi 19,7% pada 2013.

Namun, pencapaian Samsung pada tahun-tahun berikutnya menjadi anti klimaks. Pada 2015, pangsa pasar vendor asal negeri Ginseng itu langsung anjlok menjadi 7,6%.

Pada kuartal pertama 2017, amblas lagi menjadi 2,7%. Bahkan pada kuartal terakhir 2017, market share Samsung tinggal tersisa 0,8%.

Alih-alih mempertahankan pasar China yang terus menciut, Samsung memilih untuk memperluas kapasitas produksi mereka di India. Begitu pun dengan langkah drastis yang diambil Sony Corp. Raksasa Jepang itu, memilih menutup pabrik smartphone di Beijing karena bisnis handset yang mereka hasilkan dari pabrik tersebut, terus-terusan merugi.

Baca juga : Nama LG Nyaris Tak Terdengar di Pusat Penjualan Ponsel

Penutupan pabrik tersebut merupakan bagian dari tujuan untuk membalikkan kondisi bisnis smartphone yang masih masih babak belur pada April 2022 mendatang. Divisi mobile Sony mengalami penurunan yang signifikan dalam pengiriman smartphone di Q3 tahun fiskal yang berakhir 31 Desember 2018. Tercatat, pengiriman hanya mencapai 1,8 juta unit dibandingkan dengan 4 juta unit pada periode yang sama 2017.

Tak dapat dipungkiri, persaingan yang keras membuat kinerja unit mobile Sony terus dalam tekanan. Dalam lima tahun terakhir, pangsa pasar Sony semakin digerus oleh vendor-vendor asal China.  Barisan vendor yang dipimpin oleh Huawei, Oppo, Vivo dan Xiaomi, membuat Sony seperti anak kemarin sore dalam bisnis smartphone.

Padahal, sebelum kebangkitan merek-merek China, Sony telah menjadi salah satu kekuatan industri ponsel sejak periode 2000. Sony bahkan berani mengakuisisi Ericsson pada 2011, setelah beberapa tahun sebelumnya kedua perusahaan melakukan merger.

Tak dapat dipungkiri, Sony kini dalam posisi yang sama dengan LG. Kuat di bisnis elektronik, entertainment dan home appliance, namun loyo di bisnis smartphone. Bahkan di Jepang, smartphone buatan Sony terus mengalami penurunan penjualan, sehingga berimbas pada meningkatnya kerugian.

Handset 5G

Seperti halnya Samsung dan Sony, keputusan LG memindahkan basis produksi ke Vietnam, tak lepas dari upaya perusahaan agar bisa bertahan di tengah pasar smartpone yang kompetitif. Selain langkah relokasi, perusahaan juga berencana untuk mendorong perangkat dan smartphone 5G ke depan sebagai bagian dari upaya pemulihan. Manajemen LG  meyakini, produk berbasis 5G dan smartphone dengan rancang bangun dan desain berbeda, akan menjadi tambang uang perusahaan di masa datang.

Keseriusan LG dalam memenangkan pasar 5G, terlihat saat perusahaan memperkenalkan varian V50 ThinQ, dalam ajang MWC 2019. Smartphone 5G ini memiliki layar dengan poni (notch). Bentangnya selebar 6,4 inci berjenis OLED, memiliki resolusi 1440 x 3120, serta aspek rasio 19.5:9.

Baca juga : Harusnya Besok, LG Tunda Peluncuran Smartphone 5G

Selain menyiapkan smartphone 5G, perusahaan juga menyatakan akan berfokus pada pasar kunci, dimana merek LG terbilang masih cukup kuat. 

Itu sebabnya, LG memutuskan untuk mundur dari sejumlah negara, seperti Filipina. Memasuki April 2019, semua bisnis handset di negara itu telah tutup. Perangkat andalan terakhir yang muncul di Filipina adalah G7 ThinQ.

Seperti halnya di negara-negara lain, kinerja LG di Indonesia juga tidak kinclong. Perusahaan tak seagresif dulu dalam memasarkan produk baru. Diketahui, tidak ada ponsel yang dirilis sejak LG G7+ ThinQ akhir Mei 2018 dan BTS LG K9 yang meluncur Juni 2018.

Namun LG menampik bahwa mereka akan hengkang dari Indonesia. LG hanya rehat sebentar karena perusahaan tengah fokus untuk menghadirkan smartphone 5G yang handal.

Hal itu ditegaskan oleh Seungmin Park, President Director LG Electronics Indonesia, di sela-sela peluncuran jajaran produk rumah tangga terbaru LG di Jakarta, Kamis (11/4/2019).

“Sebenarnya saat ini kami sedang menantikan 5G. Sebentar lagi kan akan hadir. Dengan adanya 5G kami akan mempersiapkan lagi smartphone untuk Indonesia,” ujar Seungmin.

“Kami ingin memberikan teknologi smartphone yang paling baru untuk Indonesia,” imbuhnya.

Ketika disinggung mengenai tipe dan perkiraan waktu peluncuran smartphone 5G LG di Indonesia, Seungmin Park mengatakan, “Itu belum diputuskan.”

Kinerja LG yang tak menggembirakan, sesungguhnya terbilang anomali. Pasalnya, LG telah lama beroperasi di Indonesia dan pernah mengalami masa jaya.

Baca juga : Skala dan Interoperabilitas Jadi Alasan LG Tunda Peluncuran Smartphone 5G

Meski belum pernah mencapai tiga besar, namun sejumlah ponsel LG pernah menjadi buruan masyarakat, khususnya kalangan menengah atas. Sebut saja, LG Prada yang diperkenalkan pada 2011-2012. Ponsel yang tergolong fashion phone ini terbilang laris manis.

Memasuki era smatphone, LG juga begerak cepat. Produk-produk LG tak kalah dengan pesaing. Tengok saja LG G5, smartphone pertama yang mengusung konsep bongkar-pasang atau lebih akrab disebut modular.

Sayangnya, penjualan LG G5 terbilang mengecewakan. Manajemen LG secara resmi mengungkap bahwa total penjualan G5 tidak memenuhi ekspektasi. Sehingga pada varian selanjutnya, yakni LG G6 perusahaan tak lagi mengusung konsep modular.

Di sisi lain, harus diakui brand value LG masih belum mampu menyamai kompetitor. Sebut saja Samsung yang hingga kini masih sangat kuat di pasar high end. Sehingga saat LG mengeluarkan G Series seharga Rp 9 – 10 jutaan, konsumen belum tertarik untuk membeli.

Baca juga : LG Ajukan Paten Untuk Ponsel dengan Tiga Kamera Selfie

Dengan mundur sementara dari Indonesia, LG mencoba untuk menata kembali pasar yang kini compang camping dihantam pesaing. Meskipun pertaruhannya, adalah hilangnya loyalitas brand.

Apalagi saat ini LG tak masuk dalam jajaran top of mind smartphone di Indonesia. Merek LG bahkan kalah oleh Xiaomi yang popular di kalangan milenial.

Terlepas dari spekulasi itu, saat ini nafas LG di bisnis smartphone memang tengah diuji. Apakah LG mampu keluar dari lubang jarum dan memenangkan persaingan di era 5G? Ataukah perusahaan harus mengubur mimpi karena tak kuat bertahan dalam ketatnya persaingan?

Waktu yang kelak akan menjawabnya.

Subscribe to Selular Newsletter

Dapatkan berita menarik seputar harga smartphone terbaru dan informasi telekomunikasi Indonesia.

Latest