Saturday, May 25, 2019
Home News Ikuti Samsung, Sony Tutup Pabrik Ponsel di China

Ikuti Samsung, Sony Tutup Pabrik Ponsel di China

-

Jakarta, Selular.ID – Demi memangkas biaya pada bisnis ponsel yang terus bermasalah, Sony akhirnya memilih untuk menutup pabrik di Beijing dan mengalihkan produksi ke Thailand.

Seperti dilansir Reuters, penutupan pabrik tersebut merupakan bagian dari tujuan untuk membalikkan kondisi bisnis smartphone yang masih terus merugi pada April 2022 mendatang.

Sony menegaskan, keputusan itu tidak terkait dengan masalah perdagangan AS-Cina yang meruyak sejak tiga tahun terakhir. Sony juga tidak mengungkapkan jumlah pekerja yang akan terpengaruh akibat penutupan pabrik.

Demi mengembalikan kinerja, Sony mengumumkan sejumlah langkah restrukturisasi pada awal pekan lalu. Raksasa elektronik asal Jepang itu, memutuskan menggabungkan unit mobile-nya menjadi bagian dari divisi Electronics Products & Solutions mulai 1 April.

Laporan keuangan yang dikeluarkan minggu lalu, mencatat bahwa meskipun memiliki kredibilitas pencitraan digital yang kuat, produk smartphone buatan Sony gagal tumbuh mengesankan jika dibandingkan dengan para pesaing.

Unit selular mengalami penurunan yang signifikan dalam pengiriman smartphone di Q3 fiskal yang berakhir 31 Desember 2018. Pengiriman hanya mencapai 1,8 juta unit dibandingkan dengan 4 juta unit pada periode yang sama 2017.

Nilai penjualan cuma menembus JPY137,2 miliar ($ 1,3 miliar) turun 37% tahun-ke-tahun. Alhasil, perusahaan melaporkan kerugian operasional sebesar JPY15,5 miliar untuk bisnis tersebut, dibandingkan dengan laba tahun sebelumnya JPY15,8 miliar.

Tak dapat dipungkiri, persaingan yang keras membuat kinerja unit mobile Sony terus dalam tekanan.

Dalam lima tahun terakhir, pangsa pasar Sony semakin digerus oleh vendor-vendor asal China.  Barisan vendor yang dipimpin oleh Huawei, Oppo, Vivo dan Xiaomi, membuat Sony seperti anak kemarin sore dalam bisnis smartphone.

Padahal, sebelum kebangkitan merek-merek China, Sony telah menjadi salah satu kekuatan industri ponsel sejak periode 2000. Sony bahkan berani mengakuisisi Ericsson pada 2011, setelah beberapa tahun sebelumnya kedua perusahaan melakukan merger.

Sony kini dalam posisi yang sama dengan LG. Kuat di bisnis elektronik, entertainment dan home appliance, namun loyo di bisnis smartphone. Bahkan di Jepang, smartphone buatan Sony terus mengalami penurunan penjualan, sehingga berimbas pada meningkatnya kerugian.

Keputusan Sony menutup pabrik di China, mengulang langkah yang telah dilakukan Samsung. Chaebol asal Korea Selatan itu, terpaksa menutup salah satu fasilitas manufaktur ponsel di Tianjin, China pada akhir 2017.

Seperti halnya Sony, keputusan tersebut terpaksa diambil Samsung karena merek-merek China terus memakan pangsa pasarnya.

Sebelum kebangkitan Huawei, Oppo, Vivo dan Xiaomi, Samsung merupakan pemain dominan di China. Menurut catatan Strategy Analytics, pada 2011 pangsa pasar Samsung di China sebesar 12,4%. Kemudian melonjak menjadi 19,7% pada 2013.

Namun, pencapaian Samsung pada tahun-tahun berikutnya menjadi anti klimaks. Pada 2015, pangsa pasar vendor asal negeri Ginseng itu langsung anjlok menjadi 7,6%.

Pada kuartal pertama 2017, amblas lagi menjadi 2,7%. Bahkan pada kuartal terakhir 2017, market share Samsung tinggal tersisa 0,8%.

Subscribe to Selular Newsletter

Dapatkan berita menarik seputar harga smartphone terbaru dan informasi telekomunikasi Indonesia.

Latest