Wednesday, November 20, 2019
Home News Feature Empat Tahun Menahkodai XL, Apa Yang Sudah Ditorehkan Dian Siswarini?

Empat Tahun Menahkodai XL, Apa Yang Sudah Ditorehkan Dian Siswarini?

-

Jakarta, Selular.ID – April 2019 menjadi penanda empat tahun Dian Siswarini menjabat sebagai orang nomor satu di XL Axiata. Sebagaimana diketahui, sesuai keputusan RUPSLB yang digelar di Hotel Raffles, Jakarta, Rabu (1/4/2015), ibu dua orang anak itu, resmi diangkat menjadi President Director & CEO XL Axiata menggantikan Hasnul Suhaimi.

Tampilnya Dian di pucuk manajemen XL, sesungguhnya tidak ujug-ujug. Hasnul yang sebelumnya memimpin XL selama sembilan tahun, telah menetapkan Dian sebagai suksesor sejak 2011.

Dalam masa persiapan itu, Hasnul pun mempercayakan Dian untuk mengurusi bisnis layanan digital XL dengan meluncurkan layanan iklan digital, pembayaran mobile XL Tunai, hingga toko online Elevenia yang merupakan perusahaan patungan XL dengan SK Planet asal Korea Selatan.

Selama tiga tahun, Dian juga dipersiapkan dalam sejumlah pelatihan khusus. Mulai dari sekolah lagi di Amerika Serikat, hingga belajar memimpin di Axiata Group, Malaysia.

Di perusahaan induk itu, Dian menjabat sebagai Group Chief of Marketing and Operation Officer selama enam bulan. Posisi itu memberinya kesempatan memimpin anak-anak usaha Axiata di beberapa negara Asia, seperti Kamboja, Sri Langka, Bangladesh, dan Singapura.

Menjadi CEO sekaligus Dirut XL tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Dian. Apalagi, sebelumnya sosok Hasnul Suhaimi sudah sangat lekat dengan XL. Bisa dibilang, saat menerima tongkat estafet itu, Dian dalam bayang-bayang Hasnul.

Di tangan Hasnul, kinerja XL memang terbilang fenomenal. Keberanian pria asal Minang ini, menerapkan strategi low price low cost, membuat masyarakat berbondong-bondong menggunakan layanan XL. Padahal, sebelum ditukangi oleh Hasnul, XL dikenal sebagai operator dengan tarif mahal.

Imbasnya jumlah pelanggan XL melonjak drastis. Mencapai 40,1 juta di 2010. Padahal pada 2007, jumlahnya baru mencapai 15,5 juta pengguna. Jauh melampaui target.

Begitu pun dengan revenue pada 2010 yang tumbuh sebesar 27% dibandingkan 2009. Sementara laba bersih mencapai Rp 2,9 triliun, meningkat 69% ketimbang 2019.

Pencapaian yang signifikan itu, terutama dari sisi jumlah pelanggan, mendongkrak XL sebagai operator terbesar kedua di Indonesia, menggeser Indosat.

Semua itu berkat visi 123 yang digaungkan oleh Hasnul. Visi itu bertujuan agar XL menjadi operator dengan kualitas nomor satu, sekaligus ingin menjadi nomor dua dalam waktu tiga tahun.

Diujung masa pengabdiannya di XL, Hasnul juga sukses menjalankan agenda penting perusahaan, yakni akuisisi terhadap Axis (Saudi Telecom) pada 2013.

Pengambilalihan Axis, mampu meningkatkan level kompetisi XL menjadi sejajar dua kompetitor terdekatnya, Telkomsel dan Indosat. Pasalnya, kepemilikan frekwensi XL otomatis bertambah.

Pasca akuisisi, XL kini punya lebar spektrum 47,5 MHz. Masing-masing 7,5 MHz di 900 MHz, 22,5 MHz di 1.800 MHz, dan 15 MHz di 2,1 GHz.

Luasnya frekwensi yang dimiliki XL, pada gilirannya dapat meningkatkan kualitas layanan kepada pelanggan, sekaligus memaksimalkan trafik pada jaringan secara signifikan baik untuk 2G, 3G, dan kelak 4G.

Jelas dengan beragam pencapaian tersebut, Hasnul telah menetapkan standar yang tinggi bagi penerusnya. Meski demikian, Dian tetap optimis bahwa ia dapat membawa pertumbuhan XL lebih baik.

Yang diperlukan adalah merumuskan strategi yang sesuai dengan dinamika dan tuntutan jaman, terutama bagaimana mengembangkan layanan data sesuai kebutuhan masyarakat saat ini.

Lima Tantangan Besar

Faktanya saat suksesi terjadi, industri industri selular mulai berevolusi dari layanan dasar (voice dan SMS) ke layanan data. Kondisi itu memunculkan lima tantangan berat bagi operator.

Pertama, menjaga profitabilitas di tengah penurunan ARPU dan fenomena dump pipe. Di mana operator hanya jualan bandwidth, karena kehadiran pemain-pemain OTT (over the top) yang menguras jaringan, seperti Google, Facebook, Twitter, Youtube, Instagram, dan lainnya.

Kedua, bagaimana mengelola bandwidth dan trafik agar bisa menjawab ekpektasi pelanggan yang perilakunya mendadak berubah menjadi data hungry.

Kondisi ini memaksa operator menjadi pelayan dalam mengiringi gaya hidup pelanggan. Mulai dari bangun tidur, aktifitas keseharian, hingga menikmati week end bersama keluarga.

Ketiga, menurunkan biaya operasional yang tinggi untuk menjamin berlanjutnya profitabilitas perusahaan.

Keempat, bagaimana bersaing di pasar yang sudah jenuh dengan tarif data yang menukik, namun operator tetap dituntut untuk melakukan investasi terutama di sisi jaringan.

Kelima, transformasi sumber daya manusia. Dalam hal ini sangat penting mengubah mindset karyawan dari pemikiran lama lama seperti berapa minute of usage pelanggan atau berapa trafik SMS pelanggan.

Sekarang pemikirannya adalah berapa bandwith yang harus disiapkan untuk masing-masing pelanggan. Berapa bits kecepatan yang dibutuhkan oleh rata-rata pelanggan. Ini sebuah tantangan baru.

Di sisi lain, mobile internet memberikan kesempatan kepada operator untuk mengembangkan new business yang benar-benar baru di banding legacy services.

Kehadiran internet cepat seperti 4G, memungkinkan operator mengembangkan beragam new bussines lebih optimal, seperti layanan mobile music, mobile video, mobile advertising dan banyak layanan lain berbasis content yang bisa dilakukan.

Namun untuk bisa sukses di new business, operator perlu menjalin kemitraan dan kolaborasi. Itu sebabnya, para pemimpin maupun karyawan operator selular, kini harus open minded dan berfikir win-win.

Untuk bisa memenangkan persaingan, operator tak bisa lagi mengandalkan resources yang dimiliki. Sebab, new business tidak bisa dikerjakan sendiri, operator harus mengundang mitra. Operator tidak bisa lagi mau menang sendiri.

Strategi 3 R

Dengan lima tantangan besar itu, Dian pun bergerak cepat. Wanita yang pernah berkarir di Satelindo ini, mengusung transformasi bisnis yang dijalankan sejak awal 2015, yaitu melalui strategi 3R (Revamp, Rise, Reinvent).

‘Revamp’ adalah mengubah model bisnis pencapaian jumlah pelanggan, yaitu dari “volume” ke “value” dan strategi bisnis untuk meningkatkan profitabilitas produk.

‘Rise’ berarti meningkatkan nilai merek XL melalui strategi dual-brand dengan AXIS guna menyasar segmen pasar yang berbeda. Positioning XL dinaikkan, sedangkan Axis sebagai fighting brand, mengisi posisi pasar yang ditinggalkan XL.

Sedangkan yang terakhir ‘Reinvent’. Dengan strategi ini, XL akan terus membangun dan menumbuhkan berbagai inovasi-inovasi bisnis.

Salah satu implementasi dari strategi 3R adalah keputusan XL melepas kepemilikan sahamnya di Elevenia pada akhir Agustus 2017.

Dengan melepas Elevenia, XL ingin kembali fokus pada bisnis utama, yakni sebagai operator telekomunikasi. Dana segar hasil penjualan itu akan digunakan untuk pengembangan core business perusahaan dan bisnis digital lainnya yang masih berdekatan dengan bisnis utama.

Melengkapi transformasi bisnis, Dian fokus pada upaya memperbaiki dan meningkatkan kualitas jaringan. Khusus BTS 4G/3G, jumlahnya terus diperbanyak agar akses terhadap layanan data pelanggan bisa maksimal.

Kota-kota dengan akses 4G pun dibangun di seluruh Indonesia. Dengan Capex rata-rata mencapai Rp 7 triliun per tahun, Dian melakukan perbaikan besar-besaran di sisi jaringan, sejalan dengan pembenahan di sisi marketing dan system support, terutama dalam mengantisipasi booming layanan data yang semakin hype.

Sejauh ini, agenda transformasi membuat XL selangkah di depan operator lain. XL kini menjadi operator dengan pengguna data terbanyak, mencapai 80%. Salah satunya berkat pembangunan jaringan BTS 4G yang terbilang massif.

Demi mewujudkan transformasi agar XL Axiata menjadi lebih fokus pada bisnis data dan menjadi penyedia internet selular terkemuka di Indonesia, Dian bahkan memutuskan untuk mempercepat pengurangan penggunaan jaringan 2G. Meski hal itu berdampak pada biaya penyusutan dan amortisasi yang tercermin dalam kinerja keuangan 2018.

Namun dengan investasi besar-besaran di sisi jaringan, hasilnya hingga kuartal pertama 2019, jaringan data XL telah menjangkau sekitar 440 kota/kabupaten di berbagai wilayah di Indonesia.

Guna mengimbangi Telkomsel, sepanjang 2019 XL akan terus melanjutkan kebijakan pembangunan jaringan data hingga menjangkau daerah-daerah terpencil dari Kawasan Barat hingga Timur Indonesia.

Di wilayah Barat, XL telah memulai pembangunan jaringan di Kepulauan Anambas. Tahun ini juga perluasan jaringan di Kawasan Timur Indonesia dilaksanakan di wilayah Nusa Tenggara Timur, Maluku Utara, Maluku, dan Papua.

Selain untuk mendorong digitalisasi di berbagai daerah, pembangunan jaringan tersebut juga bertujuan untuk meraih revenue yang lebih maksimal karena potensi pertumbuhan masih terbuka lebar. Apalagi saat ini hanya Telkomsel yang terbilang kuat di luar Jawa.

Kinerja Keuangan

Nah, setelah empat tahun berlalu, bagaimana kinerja XL Axiata saat ini?
Harus diakui, tak mudah bagi Dian untuk mengembalikan performa XL dengan cepat. Kondisi pasar yang telah jenuh, tarif data yang murah, persaingan dengan para pemain OTT, dan keharusan untuk terus berinvestasi di sisi jaringan, membuat hampir semua kinerja operator termasuk XL tertekan.

Mari kita rinci, performa XL sepanjang 2014 – 2018.

Pada 2014, setahun setelah proses akuisisi terhadap Axis, XL mencatat kerugian sebesar Rp 891 miliar pada 2014. Kerugian tersebut akibat beban utang yang meningkat dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Begitupun pada 2015, perusahaan masih harus menelan kerugian, meski angkanya menurun signifikan, yakni Rp 25 miliar.

Pada akhir 2016, performa XL memang mulai membaik. Operator yang identik dengan warna biru itu, mencatat laba bersih sebesar Rp 376 miliar. Ini adalah laba pertama yang diraih perusahaan, setelah dua tahun berturut-turut mengalami kerugian.

Begitupun pada akhir 2017, XL kembali mampu mendulang laba, meski terbilang tipis, Rp 375 miliar. Walau demikian, pada periode itu, perusahaan mencatat peningkatan pendapatan sebesar 7% menjadi Rp 22,9 triliun yang mayoritas mulai berasal dari layanan data. Sebelumnya pada 2016, pendapatan XL sebesar Rp 21,4 triliun.

Bagaimana dengan 2018?

Tercatat, pendapatan XL hanya naik tipis sebesar 0,4% menjadi 23,001 triliun dibandingkan Rp 22,901 triliun di periode 2017. Meski demikian, kinerja yang dibukukan XL jauh lebih baik dibandingkan operator lainnya.

Pasalnya, pada 2018, industri selular untuk pertama kali tumbuh minus, mencapai hingga 7,4%. Namun XL menjadi satu-satunya operator yang tetap tumbuh positif.

Masifnya pembangunan BTS 4G/3G, membuat mayoritas pendapatan itu berasal dari layanan data. Pada kuartal terakhir 2018, XL Axiata melaporkan kontribusi pendapatan data mencapai 82% dari total layanan, atau naik 13% dari periode Oktober–Desember 2017 yang masih di angka 69%.

Meski kontribusi dari pendapatan data naik signifikan dibandingkan operator lainnya, anak perusahaan Axiata Group itu, membukukan kerugian sebesar Rp 3,3 triliun.

Namun patut dicatat, kerugian itu, lebih disebabkan oleh beban biaya penyusutan yang dipercepat, bukan menyangkut operasional perusahaan.

Beban penyusutan yang dimaksud adalah biaya penyusutan di kuartal 4-2018, sehubungan dengan pengurangan penggunaan jaringan 2G terutama yang telah dimatikan, dibongkar dan usang atau tidak lagi digunakan.

Sejak awal tahun 2018, XL Axiata telah mulai mengurangi jaringan 2G di area tertentu, sambil terus mengurangi kapasitas di area lain di mana penggunaan 2G menurun.

Meski tumbuh nyaris stagnan, namun EBITDA yang diraih XL pada 2018 masih lebih baik dibandingkan pesaing terdekat, yakni Indosat. Tercatat dalam tiga tahun terakhir, EBITDA XL terus meningkat, yakni 8.058 (2016), 8.320 (2017), dan 8.512 (2018).

Sebaliknya EBITDA Indosat Ooredoo terus menukik. Masing-masing 11.063 (2016), 10.788 (2017), dan amblas sangat dalam hanya sebesar 4.972 (2018).

Sejauh ini sebagai penguasa pasar, EBITDA Telkomsel masih yang tertinggi, meski kinerja anak perusahaan Telkom itu sedikit mengendor pada tahun lalu. Tercatat EBITDA Telkomsel sebagai berikut : 49.828 (2016), 53.592 (2017), dan 43.370 (2018).

Bagaimana dengan market share? Seperti EBITDA, pangsa pasar XL juga terus mengalami peningkatan. Masing-masing 10,2% (2016), 16,3% (2017), dan 17,7%.

Sebaliknya, pangsa pasar Indosat terus menurun. Padahal pada 2016, masih cukup signifikan mencapai 18,2%, namun turun menjadi 14,4% (2017), dan tersisa 13,8% (2018).

Dalam periode yang sama, pangsa pasar Telkomsel justru mengalami kenaikan yang signifikan. Sebagai berikut, 65,6% (2016), 66,3% (2017), dan 68,5% (2018).

Dari sisi jumlah SIM card, XL juga mampu meminimalisir dampak dari kebijakan registrasi prabayar yang memangkas pelanggan operator. Tercatat, pengguna SIM card XL mencapai 46,5 juta (2016), 53,5 juta (2017), dan 54,9 juta (2018).

Dengan berbagai parameter tersebut, sesungguhnya XL sudah berada di jalur yang tepat. Persepsi sebagai operator dengan jaringan yang kuat, luas dan stabil mulai menancap di benak konsumen.

Di sisi lain, langkah ekspansi ke luar Jawa, memberikan XL kesempatan memperoleh lumbung pendapatan baru, karena pasar Jawa sudah penuh sesak. Meski perusahaan harus mengeluarkan dana investasi yang tak sedikit.

Sejatinya, Hanya tinggal waktu bagi Dian, untuk menikmati hasil dari transformasi yang sudah dijalankan oleh perusahaan selama ini.

Latest