Jakarta,Selular.ID- Bencana yang terjadi di Indonesia memang tidak bisa dihindari.Tercatat berdasarkan data yang dihimpun Badan Nasional Penanggulangan becana (BNPB), sedikitnya ada 1,134 kejadian bencana selama 2018, dengan jumlah korban dan mengusi sebanyak 777.620 jiwa.

Dikatakan Arri Marsenaldi, Executive Product Manager Huawei Indonesia, itu merupakan tantangan dalam dalam penangulangan bencana, terkait sistem peringatan bencana.

“Tantangan penanganan bencana, yang dihadapi meliputi sulitnya memprediksi bencana alam seperti gempa dan lonsor,”ujar Arri di Jakarta (11/10/18).

BACA JUGA:
Huawei P Smart 2019 Meluncur Sebelum Akhir Tahun 2018

Melihat itu, Huawei mendorong optimalisasi dan adopsi solusi manajemen berbasis teknologi dalam sistem manajemen bencana di Indonesia.

Pasalnya, teknologi informasi dan konunikasi memiliki peran signifikan dalam manajemen bencana dan pengambilan keputuan terkait bencana.

Dikatakan Arri, Huawei mengembangkan model bencana 2P2R (Prevetion, Pre warning, response, recovery) yang dirancang dalam mendukung dilakukannya langkah-langkah tepat, terkait dengan upaya pencegahan, kesiagaan, tanggap darurat, dan pemulihan bencana.

BACA JUGA:
Sodok Apple, Huawei Raih Posisi Kedua di Pasar Global

“Pengembangan berbasis teknologi ini menjadi kekuataan utama Huawei. Solusi penanggulangan ini mendukung terwujudnya upaya-upaya kolaboratif yang cepat,”tutur Arri.

Sementara tahap preventif, Huawei mengembangkan solusi-solusi untuk mengkaji resiko dan potensi rawan bencana yang menjadi landasan dalam managemen resiko dan tanggap bencana.Serta membangun rencana tanggap darurat dan simulasi tanggap bencana bagi pihak-pihak terkait.

Tidak hanya itu, dikatakan Arri Huawei juga mengembangkan pusat operasional darurat tersebut dilengkapi dengan fasilitas komando dan pengendalian. Sehingga mendukung dalam proses pengambilan keputusan yang lebih cepat.

BACA JUGA:
Demi Menghindari Sanksi, Huawei Tunduk Pada Tuntutan keamanan Inggris

Untuk tahap pemulihan bencana, Huawei mengembangakan solusi-solusi untuk mendukung proses pemulihan dan pencegahan paska bencana.

Disinggung mengenai investasi dan berapa lama pembangunan teknologi itu, dikatakan Arri waktu yang dibutuhkan sekira satu tahun.

“Sementara investasi saya tidak bisa sebutkan karen tergantung kebutuhan masing-masing wilayah,”tutup Arri