Friday, April 19, 2019
Home News Feature Akan Jadi Tambang Uang di Masa Depan, Berapa Harga Ideal Frekwensi 5G?

Akan Jadi Tambang Uang di Masa Depan, Berapa Harga Ideal Frekwensi 5G?

-

Jakarta, Seluar.ID – Meski umumnya operator di dunia saat ini tengah sibuk memonetisasi layanan 4G, namun pelucuran 5G sebagai teknologi lanjutan dipastikan hanya akan menunggu waktu.

Pada awal Januari 2018, operator Amerika Serikat AT&T, telah mengumumkan rencana meluncurkan layanan 5G sesuai panduan 5G NR yang dirilis oleh 3GPP. Sebagai operator terbesar di negeri Paman Sam, AT&T optimis dapat menggelar layanan selular generasi kelima itu pada akhir 2018, mendahului dua rivalnya, Verizon dan T-Mobile.

Di Eropa, jika Telia Sonera menjadi operator 4G pertama, namun untuk 5G, Deutsche Telecom  bersiap menjadi pionir. Lewat dukungan vendor jaringan asal China Huawei, operator yang berbasis di Bonn, Jerman itu mengklaim sukses meluncurkan jaringan 5G pra-standar di Berlin (12/10/2017).

Sebuah langkah yang digambarkan oleh perusahaan sebagai cikal bakal jaringan pertama 5G di benua biru. Alhasil, Deutsche Telecom optimis dapat meluncurkan teknologi 5G secara global pada 2020.

Selain Eropa dan AS, tentu saja Asia akan menjadi magnet bagi penerapan teknologi 5G. Dengan volume berlangganan yang signifikan, penetrasi 5G di awal penerapannya akan dipicu oleh tiga negara ras kuning, masing-masing Korea Selatan, Jepang dan Cina.

Meski bukan yang pertama, namun dengan dukungan basis pengguna yang sangat besar serta adopsi teknologi yang terbilang cepat, membuat kawasan Asia bakal memainkan peranan penting dari penerapan 5G kelak.

Baca juga: Asia Pasifik Berpotensi Jadi Pasar 5G Terbesar di Dunia, Apa Alasannya?

Tak dapat dipungkiri jaringan 5G akan menjadi standar penting di kawasan Asia Pasifik. Menyitir laporan berjudul “The Mobile Economy: Asia Pacific 2018” yang diterbitkan oleh Mobile Economy GSMA, sejumlah negara yang tergolong sebagai early adopter, seperti Australia, China, Jepang dan Korea Selatan akan merintis teknologi untuk memimpin penyerapan 5G mulai tahun depan.

Gabungan pasar potensial yang dipicu oleh empat negara itu, diperkirakan akan mendorong pertumbuhan 5G hingga mencapai 675 juta koneksi pada 2025. Itu berarti akan mencapai lebih dari setengah dari total pengguna global 5G yang diharapkan berkembang pada saat itu, sekaligus menempatkan kawasan Asia Pasifik sebagai pasar 5G terbesar di dunia.

Tentu saja, tingkat kecepatan dalam pengembangan 5G di suatu negara juga menyangkut ketersediaan spectrum. Pada dasarnya, 5G merupakan jaringan yang dapat menggunakan seluruh band spektrum, mulai dari band rendah seperti 1GHz, band sedang di sekitar 1GHz hingga 6GHz, hingga band tinggi di atas 24GHz yang juga dikenal sebagai milimeter wave.

Selain itu, teknologi ini juga mampu bekerja di seluruh spektrum, baik berbayar (unlicensed), berbagi (shared), maupun tidak berbayar (unlicensed).

Dengan potensi revenue yang sangat besar, operator-operator terkemuka di dunia saat ini memang tengah berupaya agar tak ketinggalan kereta. Alhasil, penguasaan frekwensi menjadi sangat krusial.

Baca juga: Menyoroti Kesiapan Vendor Jaringan Berebut Kavling 5G

Seperti halnya 4G, semua operator akan berusaha mendapatkan alokasi spectrum yang ideal dan luas demi keandalan layanan dan kenyamanan pengguna. Di sisi lain, tersedianya kavling 5G dapat memberikan kesempatan kepada negara untuk mendapatkan tambahan pemasukan dalam bentuk lisensi fee.

Karenanya, sejumlah negara di dunia bersiap mulai melakukan lelang untuk frekwensi 5G. Beberapa diantaranya bahkan sudah menggelar lelang lebih dahulu mengingat kebutuhan yang sudah bersifat mendesak. Seperti yang dilakukan pemerintah Spanyol.

Dalam sebuah lelang yang digelar belum lama ini, tiga operator di negeri matador, masing-masing Telefonica, Orange dan Vodafone berpartisipasi dalam lelang frekwensi memperebutkan spectrum seluas 200 MHz yang khusus dialokasikan untuk frekuensi 5G.

Vodafone Spanyol memenangkan alokasi terbesar yang ditawarkan dalam lelang tersebut. Operator yang identik dengan warna merah ini, memenangkan 90 MHz pada pita 3.7GHz seharga € 198 juta. Telefonica membayar € 107 juta untuk 50 MHz di pita 3,6GHz-3.8GHz, sementara Orange Spanyol membayar sekitar € 132 juta untuk 60 MHz juga di rentang frekuensi yang ditawarkan.

Setiap operator akan membayar angsuran tahunan, termasuk bunga, biaya reservasi spektrum dan biaya yang dipungut sebelumnya terkait dengan lelang.

Kementerian Ekonomi dan Enterprise Spanyol mengatakan bahwa semua lisensi yang diberikan berlaku selama 20 tahun. Pihaknya juga memastikan pemerintah akan mengantungi pendapatan senilai € 1,4 miliar dari tender tersebut.

Meski lelang merupakan mekanisme standar dalam memutuskan pemenang spectrum, tak urung kebijakan tersebut berujung pada pandangan berbeda dari sejumlah pihak. Salah satunya datang dari vendor penyedia jaringan Ericsson.

Baca juga: CEO Ericsson: Jangan Jadikan Frekuensi Sebagai Sumber Pendapatan

Saat menjadi keynote speaker pada gelaran MWC Shanghai (28/6/2018), CEO Ericsson Borje Ekholm menegaskan perlunya pemerintahan di berbagai belahan dunia agar mengubah mindset terhadap keberadaan frekuensi.

Menurutnya, di era digital yang tengah berkembang pesat, selayaknya negara-negara tidak lagi menganggap spectrum sebagai sumber pendapatan yang utama, tetapi sebagai bagian dari infrastruktur penting yang dibutuhkan untuk meningkatkan kekayaan nasional.

Alih-alih memberikan harga tinggi pada spektrum, ia mengatakan pemerintah harus mendorong operator untuk membangun jaringan berkualitas tinggi yang menghubungkan semua warga negara, tambah Ekholm.

Ekholm mengatakan menyelaraskan spektrum secara global dan operator yang dioperasikan demi mengamankan pita frekuensi adalah hal yang sangat penting, namun sangat menantang demi peluncuran 5G skala cepat.

Subscribe to Selular Newsletter

Dapatkan berita menarik seputar harga smartphone terbaru dan informasi telekomunikasi Indonesia.