Jakarta, Selular.ID – Hiruk pikuk teknologi generasi kelima diperkirakan akan segera mencapai puncaknya. Jika tak ada aral melintang, jaringan 5G komersial akan melenggang pada akhir 2018. Sebagai pasar smartphone terbesar ketiga di dunia, Amerika Serikat digadang-gadang akan menjadi negara pertama yang mencicipi layanan 5G.

Pada awal Januari 2018, operator terbesar di negeri Paman Sam, AT&T, telah mengumumkan rencana meluncurkan layanan 5G sesuai panduan 5G NR yang dirilis oleh 3GPP. AT&T optimistis dapat menggelar layanan jaringan selular generasi kelima itu pada akhir 2018, mendahului dua rivalnya, Verizon dan T-Mobile.

Langkah AT&T diprediksi akan menjadi bola salju karena operator di berbagai belahan dunia, termasuk Eropa juga bersiap untuk menggelar 5G. Simak saja manuver yang dilakukan Deutsche Telekom.

BACA JUGA:
GSMA: Alokasi Frekuensi 700MHz untuk Selular Tingkatkan Perekonomian Indonesia

Lewat dukungan vendor jaringan asal China Huawei, operator asal Jerman itu mengklaim sukses meluncurkan jaringan 5G pra-standar di Berlin (12/10/2017). Sebuah langkah yang digambarkan oleh perusahaan sebagai jaringan pertama 5G di Eropa. Deutsche Telekom pun optimis pihaknya siap melakukan peluncuran teknologi 5G secara global pada 2020.

Tak dapat dipungkiri, seperti halnya teknologi selular sebelumnya (2G, 3G dan 4G), AS dan Eropa akan selalu menjadi pionir dalam pengembangan 5G. Meski demikian, pasar terbesar di dunia, lagi-lagi bukanlah di dua kawasan itu, melainkan Asia Pasifik.

Mengacu kepada laporan Mobile Economy GSMA, Asia Pasifik diperkirakan akan mencapai 675 juta koneksi 5G dalam tujuh tahun mendatang. Pencapaian itu sekaligus menempatkan kawasan ini sebagai pasar 5G terbesar di dunia pada 2025.

BACA JUGA:
GSMA: Alokasi Frekuensi 700MHz untuk Selular Tingkatkan Perekonomian Indonesia

Laporan berjudul β€œThe Mobile Economy: Asia Pacific 2018”, memperlihatkan bahwa negara-negara yang tergolong sebagai early adopter, seperti Australia, China, Jepang dan Korea Selatan akan merintis teknologi untuk memimpin penyerapan 5G. Keempat negara tersebut, diketahui tengah bersiap melakukan peluncuran jaringan 5G komersial yang diharapkan akan dimulai di pasar-pasar ini tahun depan.
Gabungan pasar potensial yang dipicu oleh empat negara tersebut, diperkirakan akan mendorong pertumbuhan 5G hingga mencapai 675 juta koneksi pada tahun 2025. Itu berarti akan mencapai lebih dari setengah dari total global 5G yang diharapkan berkembang pada saat itu.

Mats Granryd, Direktur Jenderal GSMA, mengatakan bahwa kawasan Asia Pasifik telah mengalami migrasi cepat ke jaringan broadband bergerak dalam beberapa tahun terakhir dan sekarang tengah bergerak untuk memainkan peran strategis di era 5G.

BACA JUGA:
GSMA: Alokasi Frekuensi 700MHz untuk Selular Tingkatkan Perekonomian Indonesia

Baca juga: Karena Alasan Keamanan, Huawei Terancam Tak Bisa Ikut Tender 5G

“Operator selular akan menginvestasikan hampir USD200 miliar selama beberapa tahun ke depan dalam meningkatkan dan memperluas jaringan 4G dan meluncurkan jaringan 5G baru untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi digital dan masyarakat Asia,” katanya.

Saat ini diketahui bahwa industri selular Asia telah mampu menghasilkan USD1,5 triliun dalam nilai ekonomi tahun lalu, setara dengan 5,4% dari PDB regional. Hal itu mencerminkan nilai ekosistem yang semakin berkembang untuk ekonomi kawasan.

Dengan teknologi 5G yang ditargetkan meluncur di Asia pada 2019, penerapan 5G awal – berdasarkan standar 3GPP Release 15 – diharapkan dapat meningkatkan kualitas layanan mobile broadband. Sehingga akan menambah kapasitas dan kemampuan jaringan broadband yang ada, terutama di daerah perkotaan yang padat.

BACA JUGA:
GSMA: Alokasi Frekuensi 700MHz untuk Selular Tingkatkan Perekonomian Indonesia

Fase berikutnya dari 5G adalah pengaktifan standar 3GPP Release 16. Pada fase ini Asia Pasifik untuk mendukung berbagai use cases (kasus penggunaan) dan inovasi 5G di masa mendatang, seperti konektivitas masif dan layanan latensi rendah untuk internet, layanan komunikasi kritikal, serta realitas virtual.

Sementara 5G akan segera memulai debutnya secara komersial, 4G yang kini menjadi teknologi selular yang dominan di kawasan Asia Pasifik, juga akan terus tumbuh dengan cepat. Secara total, saat ini terdapat 62% koneksi seluler Asia akan berjalan pada 4G dan 14% pada 5G pada 2025.