Jakarta, Selular.ID – Fenomena tuyul ataupun order fiktif memang kerap terjadi belakangan waktu terakhir. Istilah ini identik dengan ojek online. Dimana sang driver nakal berbuat curang menggunakan aplikasi fake GPS untuk memanipulasi order.

(Kiri – kanan : Muslih Zainal Asikin, Masyarakat Transportasi Indonesia ; Pratama Persadha, Pengamat Cyber Security dan Bima Yudistira, Pengamat Ekonomi INDEF) (Donnie Pratama Putra/Selular.ID)

“Si driver menempatkan si tuyul ke titik yang ramai order. Misalnya di kalibata city ramai order, namun sang driver berada di Kartika Chandra. Sensor aplikasi ojek online tersebut menunjukan lokasi yang real sehingga pengguna percaya. Namun nyatanya beda,” papar Pratama Persadha, Pengamat Cyber Security di Jakarta, Selasa (5/6/2018).

BACA JUGA:
Grab Sukses Antarkan 13 Juta Ayam

Menurutnya, tuyul atau order fiktif ini sangat merugikan banyak pihak, baik bagi driver lain, perusahaan transportasi itu sendiri maupun penumpang.

“Contohnya, driver yang ada di Kalibata City, tiba-tiba driver nakal merebut order tersebut. Jelas pemasukan dan bonus yang didapat driver jujur tersebut berkurang. Income perusahaan transportasi online tersebut juga jelas berkurang. Perusahaan tersebut secara tidak sengaja dipaksa membayar bonus lebih atas tindakan curang ojek fiktif tersebut,” jelas Pratama.

Pratama mengatakan untuk menggunakan fake GPS sangat mudah.

BACA JUGA:
Dicegah Masuk Filipina, GoJek Pilih Bungkam

“Dulu aplikasi fake GPS hanya bisa diinstal di smartphone yang telah di root. Sekarang tidak perlu di root, bisa install aplikasi fake GPS di smartphone. Tak hanya itu aplikasi tuyul pun diperjulabelikan sehingga mudah didapatkan. Kisaran harganya Rp 50 ribu,” terangnya.

Dijelaskannya, aplikasi fake GPS juga digunakan untuk bermain game Pokemon Go. Cara kerjanya sama. Pemain hanya perlu duduk di rumah saja kemudian fake GPS tersebut mencari Pokemon secara otomatis.

BACA JUGA:
Yuk Tukar Poin Grab untuk Bantu Banten dan Lampung Bangkit Kembali

Namun, ini tidak berlangsung lama. Sang developer segera memblokir fake GPS tersebut, sehingga tidak bisa lagi digunakan ketika bermain game Pokemon Go.

“Peran serta pemerintah dan penyedia layanan transport online sendiri harus tanggap terhadap masalah ini. Seharusnya pemerintah Indonesia dan penyedia layanan transportasi harus membuat sebuah sitem keamanan berbasis hardware dan software. Sehingga dapat mengurangi tuyul tersebut seperti yang dilakukan Pokemon Go. Tapi, nyatanya belum bisa diwujudkan dan upaya pemerintah masih belum maksimal,” tutup Pratama.