Friday, November 22, 2019
Home News FinTech Pengamat : Berkedok Transportasi Online, Fintech Jadi Fokus Utama Gojek

Pengamat : Berkedok Transportasi Online, Fintech Jadi Fokus Utama Gojek

-

Jakarta, Selular.ID – Layanan transportasi online seperti Gojek dan Grab memiliki lini bisnis lain yakni metode pembayaran digital mereka. Seperti yang kita ketahui, Gojek dengan Gopay nya dan Grab dengan Grab Pay. Semua layanan Gojek dan Grab dapat dilakukan transaksi dengan pembayaran digital tersebut.

Gojek sudah meresmikan layanan Gopay-nya sebagai Fintech (Financial Technology) dan telah mendapat izin dari Bank Indonesia (BI). Sedangkan Grab belum meresmikan Grab Pay sebagai Fintech.

Ini yang menjadi pernyataan sejumlah orang tentang lini bisnis Gojek dan Grab sebenarnya apakah masih bergerak di transportasi online atau fokus di fintech. Atau layanan transportasi online milik mereka hanya sebagai topeng saja untuk mengembangkan bisnis fintech mereka.

“Saya bingung Gojek itu lebih fokus ke fintech atau transportasi online. Ketika order layanan Gojek menggunakan Gopay lebih murah. Sedangkan pakai cash lebih mahal,” Muslih Zainal Asikin, Masyarakat Transportasi Indonesia mengatakan kepada SelularID di Jakarta, Selasa (5/6/2018).

Dirasakannya ini hanya trik Gojek saja untuk lebih mengembangkan Gopay saja.

“Sebenarnya biaya Gojek sudah dinaikan dulu sebelum kita pakai Gopay. Layanan transportasi onlinenya sebagai pintu masuk untuk fintech. Dengan begitu, semakin banyak pengguna yang top-up Gopay. Maka secara otomatis bisnis Gopay meningkat,” papar Muslih.

Menurutnya, jelas Gojek dan Grab lebih fokus ke fintech karena income-nya pun lebih besar.

Baca jug: Resmi Jadi Fintech, GO-PAY Fokus Kembangkan QR Code

Hal senada juga diungkapkan oleh Pratama Persadha, Pengamat Cyber Security.

“Fintech cost ny lebih kecil, namun income nya justru lebih besar. Ini berbanding terbalik dengan layanan transportasi online. Resiko yang ditimbulkan oleh layanan transportasi online juga cukup besar seperti kecelakaan dll. Kalau fintech kan tidak terlalu besar resikonya,” tegas Pratama.

Dikatakanya, masyarakat Indonesia jadi ketergantungan dengan layanan Gojek.

“Semua order dapat dilakukan di Gojek, mulai dari pesan makanan, pijit, membersihkan rumah, cukur rambut. Namun, jika Gojek fokus ke fintech, bagaimana nasib driver nya,” imbuhnya.

Bima Yudistira, Pengamat Ekonomi INDEF juga memberikan tanggapan. Bima meyakini bahwa layanan fintech mampu meningkatkan valuasi Gojek.

“Jika Gopay tidak hanya digunakan untuk layanan Gojek saja maka valuasinya terus meningkat. Contohnya, Gopay bisa digunakan untuk membayar listrik. Saat ini, valuasi Gojek mencapai hampir Rp 54 triliun,” tandas Bima.

Valuasi tersebut diperoleh Gojek saat masih fokus mengembangkan transportasinya. Diperkirakan Bima, angka tersebut terus naik hingga Rp100 triliun jika Gojek fokus merambah bisnis fintech.

Latest