Jakarta, Selular.ID – Penelitian terbaru Avast menyatakan hampir 10% pengguna komputer di Indonesia tidak peduli dengan malware crypto mining yang menginfeksi perangkat mereka.

Crypto mining sendiri merupakan proses jahat yang secara diam-diam menambang crypto coin menggunakan malware yang tertanam di perangkat komputer personal.

Sekitar 44% pengguna perangkat telah salah mempercayai bahwa malware crypto mining tidak bisa menyerang device mereka karena tidak memiliki crypto currencies.

Dibawah dua pertiganya sekitar 49% konsumen Indonesia mengatakan bahwa mereka pernah mendengar malware atau website yang terinfeksi dengan pertambangan cryptocurrencies.

Ini menunjukan bahwa konsumen Indonesia menganut sikap apatis terhadap cryptomining, ataupun pengetahuan mereka seputar cryptocurrencies masih sangat rendah.

BACA JUGA:
Pembaruan WhatsApp Gold, Berpotensi Ada Malwarenya

65% responden mengaku bahwa mereka akrab dengan mata uang digital. Namun, mereka belum menyadari bahaya serangan malware yang dialami mata uang digital tersebut. Selama setahun terakhir, malware penambang bitcoin telah berkembang semakin canggih dan luas.

Apabila dulu serangan cyber hanya terjadi di PC, sekarang malware menyerang semua perangkat IoT.

Untuk menjadi lebih efektif dan menguntungkan, cryptomining membutuhkan performa komputer yang masksimal. Sejak biaya yang dibutuhkan untuk menambang sangat tinggi dan kekuatan CPU pada PC dan smartphone cenderung rendah, para penjahat cyber berusaha membajak jaringan pada perangkat yang terhubung.

BACA JUGA:
Google Play Store Disusupi Malware Clipper Intai Cryptocurrency

Metode ini dikenal dengan sebutan botnets yang bertujuan untuk meraih keuntungan pribadi.

Perangkat yang diserang, beresiko kehilangan data pribadi. Meningkatnya tagihan listrik, masa pakai perangkat lebih pendek dan performa perangkat menurun menjadi ancaman serius bagi serangan ini.

“Kami melihat peningkatan signifikan serangan malware ke perangkat IoT oleh penjahat cyber untuk menambang cryptocurrencies. Malware dapat berkerja secara diam-diam di perangkat IoT tersebut meskipun korban memiliiki cryptocurrency atau tidak. Biasanya, pengguna PC bisa mengetahui apakah komputer mereka merupakan bagian dari botnet atautidak. Karena PC cenderung merespon lebih lamban dibandingkan biasanya, memanas, atau mendistribusi traffic yang mencurigakan. Kalau di perangkat IoT jelas ini tidak bisa dilakukan,” ujar Martin Hron, Peneliti Keamanan di Avast melalui keterangan tertulis yang diterima SelularID.

BACA JUGA:
Avast PC Trends Report 2019: Software Kadaluwarsa Rentan Serangan Cyber

Menurutnya, pengguna perangkat IoT membutuhkan solusi keamanan yang memantau traffic, perilaku dan memperingatkan mereka ketika ada sesuatu yang mecurigakan. Martin mengatakan bahwa Avast memiliki solusi yang dapat mengatasi serangan malware tersebut dan mengedukasi masyarakat akan bahaya malware penambang mata uang digital.