Sunday, June 16, 2019
Home News Feature Saatnya Operator Fokus Pada Upaya Meningkatkan ARPU

Saatnya Operator Fokus Pada Upaya Meningkatkan ARPU

-

Jakarta, Selular.ID – Program registrasi pra-bayar memberi dampak yang signifikan bagi operator. Jumlah pelanggan menciut drastis karena ada lebih dari 150 juta nomor yang raib. Berdasarkan data hasil rekonsiliasi hingga 30 April 2018 lalu, tercatat hanya 254.792.159 nomor pelanggan yang telah teregistrasi.

Agung Harsoyo, Komisioner Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) mengatakan bahwa, angka tersebut merupakan angka yang paling realistis yang mencerminkan jumlah pengguna nomor selular di Indonesia.

“Selama ini kan referensi jumlah pelanggan selular tidak jelas, ada yang bilang 300 jutaan atau 400 jutaan. Data hasil registrasi yang sekarang lebih bisa dijadikan acuan mengenai jumlah pelanggan selular di Indonesia,” katanya.

Agung pun memprediksi, pelanggan prabayar nantinya tidak akan beranjak jauh dari angka  254 juta meskipun proses registrasi pelanggan baru masih akan berlanjut.

Tak dapat dipungkiri, bagi operator, aturan registrasi yang lebih ketat, merupakan titik balik yang akan berdampak pada banyak hal, terutama terpangkasnya revenue.

Kedepannya, operator sedikit banyak mengubah model bisnis. Jika sebelumnya penjualan starter pack (kartu perdana sekaligus paket kuota) laris manis, maka ke depan tak bisa lagi berharap di sektor itu.

Selama ini, starter pack memang menjadi incaran karena kebiasaan masyarakat yang tak mau repot isi kuota. Komisi penjualannya untuk para mitra pun terbilang besar, yakni 10 persen.

Tentunya saat ini semua operator belum bisa memastikan sedalam apa penurunan revenue yang bakal terjadi. Karena dampaknya baru akan terasa pada laporan kuartal pertama 2018.

Yang jelas, mereka tengah mencari solusi untuk menggenjot pendapatan dari sektor lain. Namun dapat dipastikan, strategi menggenjot penjualan voucher dan top up pulsa (paket data) dipastikan akan lebih ramai di masa datang.

Meski bakal memangkas pendapatan, namun operator tentunya akan melihat peluang jangka panjang dalam kondisi pasar yang baru terbentuk sebagai dampak dari registrasi kartu perdana.

Perbaikan tersebut utamanya adalah basis pelanggan yang lebih loyal, serta tingkat churn yang lebih rendah yang pada akhirnya memberikan marjin yang lebih besar.

Seperti diketahui, selama ini akibat jor-joran jualan kartu perdana yang lebih menarik dibandingkan top up pulsa atau paket data, churn rate yang dialami oleh operator di Indonesia terbilang tinggi. Jumlahnya berkisar hingga 26%. Lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara ASEAN yang hanya sebesar 15%. Padahal churn rate adalah indikator tingkat kemapanan operator. Semakin rendah tingkat churn rate, semakin bagus kinerja operator tersebut.

Menurut Andri Ngaserin, Head of Research PT Bahana Sekuritas, Churn yang terbilang tinggi berdampak pada rendahnya ARPU (Average Revenue Per User). Ia menilai saat ini ARPU industri telekomunikasi di Indonesia terbilang rendah dan tidak sehat. Bahkan terendah kedua setelah India.

Dari kalkulasi yang dimiliki Andri, idealnya ARPU operator di atas Rp40 ribu. Dengan ARPU sebesar itu, operator memiliki kemampuan untuk menggembangkan layanannya dan mempertahankan kualitas jaringannya.

Baca juga: Registrasi Prabayar Sehatkan Industri Telekomunikasi

“Jika ARPU di bawah Rp20 ribu, maka operator akan mengalami kesulitan dalam mempertahankan kualitas jaringan dan melakukan penggembangan teknologi,” pungkas Andri kepada Indra Khairudin, Editor Selular.

Berdasarkan catatan yang dimiliki oleh Bahana Sekuritas, ARPU emiten telekomunikasi yang paling rendah dipegang oleh Indosat yang hanya Rp20.300 (blended). Sedangkan ARPU XL Axiata mencapai Rp36.000. Sementara ARPU Telkomsel saat ini Rp42.000.

Latest