Monday, December 9, 2019
Home News Feature Catatan Akhir 2017 : Saatnya Menaikkan Tarif Data

Catatan Akhir 2017 : Saatnya Menaikkan Tarif Data

-

IMG_20171217_225504Jakarta, Selular.ID – Industri selular mengalami perubahan drastis sejak beberapa tahun terakhir. Melonjaknya populasi smartphone membuat pergeseran perilaku pelanggan dalam berkomunikasi. Kini penggunaan layanan data terutama media sosial dan konten video semakin diminati ketimbang layanan dasar (suara dan SMS).

Hal itu memberikan kesempatan bagi operator untuk mendulang pendapatan dari platform digital yang terus tumbuh. Namun di sisi lain, pergeseran dari basic service ke digital service, sesungguhnya menjadi disruptive. Ujung-ujungnya, operator dihadapkan pada tiga tantangan berat.

Pertama, menjaga profitabilitas di tengah penurunan ARPU dan fenomena dumb pipe (dimana operator hanya jualan bandwidth). Munculnya pemain-pemain OTT (over the top) yang tak hanya membebani jaringan namun juga menawarkan layanan dasar sejenis, membuat keuntungan operator anjlok drastis hingga menjurus ke subsidi.

Kedua, bagaimana mengelola bandwidth dan trafik agar bisa menjawab ekpektasi pelanggan yang perilakunya mendadak berubah menjadi data hungry. Kondisi ini memaksa operator menjadi pelayan dalam mengiringi gaya hidup pelanggan, mulai dari bangun tidur, aktifitas keseharian, hingga menikmati week end bersama keluarga.

Ketiga, menurunkan biaya operasional yang tinggi untuk menjamin berlanjutnya profitabilitas perusahaan.

Dengan tiga tantangan tersebut, operator bergegas melakukan transformasi ke new business yang berpusat pada layanan data dan konten. Alhasil sejak 2012, operator di Indonesia mulai merintis berbagai layanan di luar core business. Seperti mobile entertainment, mobile commerce, mobile advertising, dan mobile money. Berbagai layanan tersebut diharapkan menjadi revenue generator baru, agar bisa bersaing dengan layanan OTT.

Sayangnya, ambisi mewujudkan new business sebagai kurva kedua pertumbuhan, tak semulus yang diharapkan. Sepanjang 2017, kita menyaksikan satu persatu operator memutuskan untuk tidak melanjutkan bisnis rintisan tersebut. Alasannya, layanan tak tersebut tak menguntungkan. Dikarenakan tingginya beban operasional yang tak sebanding dengan pendapatan, sehingga merusak EBITDA.

Pada Akhir Agustus lalu, XL Axiata resmi melepas kepemilikan sahamnya di Elevenia. Ini artinya XL jadi operator kedua yang menutup bisnis e-commerce-nya setelah Indosat Ooredoo yang juga melakukan hal sama kepada Cipika pada Juni 2017. Tak hanya menutup Cipika, Indosat Ooredoo juga mengurangi kegiatan layanan pembayaran digital Dompetku. Layanan e-wallet itu sudah melebur ke PayPro.

XL sendiri meski memiliki layanan sejenis yakni XL Tunai, belum lagi me-revamp layanan tersebut sejak dua tahun terakhir. Hal ini juga memunculkan spekulasi bahwa XL juga akan mengikuti jejak Indosat Ooredoo yang telah melepas layanan e-money-nya ke pihak ketiga.

Dengan melepas layanan e-commerce, baik XL maupun Indosat Ooredoo menyatakan akan kembali fokus pada core business. Perusahaan masih akan mengembangkan bisnis digital lainnya yang masih berdekatan dengan bisnis utama.

Tren kembalinya operator ke core business sesungguhnya dapat dimaklumi. Bisnis telekomunikasi dan e-commerce memang bak bumi dengan langit. Bisnis telko mengandalkan laba dari layanan yang disediakan perusahaan kepada pelanggan. Sementara e-commerce harus menggelontorkan subsidi agar meraup banyak pelanggan, menghasilkan jumlah belanja yang tinggi, serta meningkatkan valuasi perusahaan.

Dengan model bisnis yang berbeda, keduanya juga membutuhkan attitude dan ukuran kinerja investasi serta valuasi yang beda. Sehingga sangat sulit menyatukan dalam portfolio satu entitas usaha.

Tarif Data Murah

Namun dengan kembali ke core business (baca : penyedia jaringan), pertanyaannya adalah seberapa lama operator bisa bertahan, mengingat revenue layanan data tak sebanding dengan Capex yang digelontorkan.

Seperti diketahui, ditengah lonjakan pengguna, operator sesungguhnya dihadapkan pada kondisi yang sangat sulit. Faktanya, operator harus mensubsidi tarif data yang sejak awal dipatok terlalu murah.

Murahnya tarif data di Indonesia bahkan pernah menjadi bola panas yang merebak pada pertengahan 2017. Mantan Dirut Indosat Ooredoo Alex Rusli melempar isu bahwa industri selular saat ini sudah dalam taraf mengkhawatirkan.

Alex menyebutkan, akibat persaingan yang ketat, membuat hampir semua operator tak punya pilihan selain menggunakan tarif sebagai senjata untuk meraih pelanggan.

“Tak heran jika operator terus-terusan terjebak dalam perang tarif yang mengancam kelangsungan industri telekomunikasi. Tingkat harga layanan komunikasi data di Indonesia sudah sangat rendah dan jauh di bawah harga layanan sejenis di negara lain. Layanan ini dijual dengan harga di bawah biaya produksi”, ujar Alex dalam satu seminar di Jakarta, (26/7/2017).

Menurut Alex, pada dasarnya semua operator ingin kompetisi yang sehat, tarif yang terjangkau, coverage yang luas, demi melayani pelanggan. Namun, saat ini operator telah terjebak pada penetapan harga murah yang seolah tak berujung. Jika tidak ada langkah dukungan dari pemerintah sulit bagi operator menahan penurunan yield data yang terjadi dalam beberapa tahun ini.

“Penurunan itu makin irrasional dan bisa menjadi tak prospektif lagi memberikan layanan data kepada masyarakat,” kata Alex.

Tarif data di Indonesia memang terbilang murah dibandingkan negara-negara lain di dunia. Padahal di negara-negara emerging market, operator menerapkan tarif data yang tinggi.

Misalnya, perusahaan telekomunikasi di India menjual paket internetnya antara Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. Sedangkan AT&T dan T-Mobile di Amerika Serikat, rata-rata paket yang mereka jual antara Rp 900 ribu hingga Rp 1 juta.

Sedangkan SingTel di Singapura, rata-rata mematok harga Rp 300 ribu hingga Rp 600 ribu. Sementara di Indonesia, tarif internet yang dijual operator dalam bentuk paket data dibanderol antara Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu.

Dengan penerapan tarif data yang terbilang murah, tentunya tidak sehat karena akan mengurangi kemampuan operator dalam menjaga kualitas mengingat tarif yang murah. Apalagi jika ditawarkan di bawah harga produksi tentu akan berakibat pada berkurangnya revenue.

Merza Fachys, Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) menilai strategi adu murah tarif ini tidak mencerminkan kebutuhan masyarakat Indonesia akan jasa telekomunikasi. Menurutnya, berdasarkan hasil survey yang ada, harga merupakan faktor ketiga yang dibutuhkan masayarakat dalam pemenuhan akses telekomunikasi.

“Harga itu faktor ketiga, utamanya kecepatan dan kualitas coverage yang dibutuhkan oleh masyarakat,” jelas Merza.

Lebih lanjut disampaikan Merza, berdasarkan survey yang sama juga disebutkan bahwa 70 persen masyarakat Indonesia pengguna jasa telekomunikasi mampu untuk membayar layanan yang digunakan.

“Masyarakat saat ini tidak perlu tarif murah,” tegas Merza.

Sejalan dengan pernyataan Merza, Raymond Kosasih, CFA analis dari PT Deutsche Verdhana Sekuritas Indonesia mengatakan bahwa harga paket data di Indonesia berada di harga Rp 14 hingga Rp 23 untuk setiap mega byte (Mb). Padahal pada 2011 harga data di Indonesia pernah mencapai Rp 350 per Mb.

“Kami percaya bahwa kenaikan harga data sangat penting untuk meningkatkan profitabilitas industri yang sehat. Kenaikkan bisa dimulai dari Rp 1 untuk setiap Mb. Kenaikan tersebut cukup realistis karena adanya peningkatan daya beli masyarakat,” jelas Raymond dalam hasil riset yang dipublikasikan 5 Mei 2017.

Dari kalkulasi yang dibuat Raymond, dengan kenaikkan tarif data Rp 1 per Mb, maka akan meningkatkan ARPU XL dan Indosat sebesar Rp 1.000 perbulan. Sedangkan kenaikkan tarif data Rp 1 per Mb akan meningkatkan ARPU Indosat sebesar Rp 600 per bulan.

Latest