Friday, November 22, 2019
Home News Feature KPPU Diminta Lebih Aktif Mengawasi Tarif Data Operator

KPPU Diminta Lebih Aktif Mengawasi Tarif Data Operator

-

Syarkawi RaufJakarta, Selular.ID – Penerapan tarif data murah yang diterapkan oleh sejumlah operator membuat industri selular tak lagi sehat. Untuk mencegah agar kondisi tak semakin memburuk, Menkominfo Rudiantara telah meminta agar BRTI segera mempercepat penyusunan formulasi tarif data. BRTI pun menyanggupi permintaan tersebut.

Komisioner BRTI, I Ketut Prihadi Kresna menyatakan pihaknya akan segera mematangkan formula tarif sesuai amanat pasal 28 UU no. 36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi. Khususnya, revisi PM 9/2008 untuk mengakomodir layanan data.

“Kami masih membahas internal. Dalam waktu dekat kami akan mengumpulkan seluruh operator. Semoga dalam 3-4 bulan Peraturan Menteri (PM) tentang formula tarif data akan keluar,” kata Ketut.

Dalam menyusun formula tarif tersebut terdiri dari biaya elemen jaringan (network element cost) ditambah biaya aktivitas layanan retail (retail services activity cost) dan profit margin. Sehingga nantinya akan terlihat berapa tarif yang sesuai dengan formula yang ada. Jika aturan ini jadi disahkan, operator harus menyerahkan data mereka ke BRTI.

Jika tak ada aral melintang, BRTI menargetkan pada akhir 2017, formulasi tarif data, sudah rampung dan bisa menjadi acuan bagi seluruh operator dalam menerapkan tarif data yang baru kepada konsumen.

Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah, mendukung rencana formulasi tarif data, sepanjang itu bisa membuat industri selular kembali sehat. Ia menilai operator sebenarnya menyadari bahwa praktek banting harga tidak menguntungkan.  

Tarif murah memang terkesan menguntungkan bagi konsumen. Apalagi jika tarif murah itu ditawarkan oleh banyak operator, sehingga konsumen dengan mudah berpindah dari satu operator ke operator lain.

“Namun, dalam jangka menengah dan panjang, praktek tarif murah akan berdampak buruk karena operator tak akan bisa memperluas dan mengembangkan layanan”, ujar Ririek.

Meski kelak akan diberlakukan formulasi tarif data, pada akhirnya, Ririek menyatakan bahwa kondisi tarif data akan bergantung pada intensi dari para pelaku operator itu sendiri.

Jika sejak awal ingin melakukan perang harga, tentu ada saja celah yang digunakan untuk melanggar aturan yang ada. Sebaliknya, jika intensi operator ingin melakukan persaingan yang sehat, maka tanpa ada aturan pun industri akan stabil.

Ririek menegaskan, untuk kembali sehat terpenting adalah di harga layanan tidak boleh serendah sekarang. Karena itu, ke depan Ririek meminta pihak lain juga turut serta terlibat dalam penerapan tarif data.

“Sebenarnya KPPU bisa berperan lebih aktif mengawasi. Dari beberapa statement yang dikeluarkan, KPPU ada intensi ke arah itu”, tandas Ririek.

Di lain pihak, Syarkawi Rauf , Ketua KPPU mengatakan bahwa hingga saat ini, mereka masih dalam posisi melakukan riset. KPPU tengah mempelajari sangkaan operator yang mengarah pada predatory pricing. Motif dari penetapan harga jual sangat rendah untuk membangkrutkan pesaing. Setelah pesaing nya mati maka perusahaan tersebut menguasai pasar sebagai monopolis.

“Tindakan predatory pricing merupakan pelanggaran hukum persaingan usaha”, tegas Syarkawi.

Latest