Beranda News Gerbang Digital Itu Bernama BTS

Gerbang Digital Itu Bernama BTS

-

BTS 22Jakarta, Selular.ID – Di Indonesia, Digital devide atau kesenjangan penguasaan teknologi terbilang masih cukup tinggi dikarenakan tidak meratanya pembangunan infrastruktur jaringan telekomunikasi di berbagai daerah, terutama di daerah terluar, terpencil dan tertinggal.

Di era ekonomi digital ini pemerataan terhadap akses teknologi informasi, seperti jaringan internet sangat diperlukan dalam mengenalkan dan memasarkan produk industri kreatif. Terlebih Pemerintah sendiri saat ini terus mendorong pelaku industri kreatif untuk terus berkembang.

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) baru-baru ini menyebutkan, jika mengacu data 2016, industri kreatif menyumbang sekitar Rp800 triliun atau 8% dari total produk domestik bruto (PDB), dengan growth dari tahun ketahun mencapai 5%. Selain menyumbang PDB nasional, Fadjar menuturkan industri kreatif merupakan sektor keempat terbesar dalam penyerapan tenaga kerja.

“Harus diakui bahwa jaringan internet sangat berperan penting dalam mengenalkan dan memasarkan produk industri kreatif. Pemasaran sistem online memiliki jangkauan sangat luas dan dalam waktu singkat,” jelas Fadjar Hutomo, Deputi Akses Permodalan Bekraf.

Namun sayangnya, akses internet di Indonesia belum tersedia merata ke seluruh wilayah khususnya di daerah pelosok. Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2016 mengungkap bahwa penetrasi internet mayoritas masih berada di Pulau Jawa. Dari survei yang dipresentasikan oleh APJII itu tercatat bahwa sekitar 86,3 juta orang atau 65 persen dari angkat total pengguna internet tahun ini berada di Pulau Jawa.

Sedangkan sisanya adalah 20,7 juta atau 15,7 persen di Sumatera. 8,4 juta atau 6,3 persen di Sulawesi. 7,6 juta atau 5,8 persen di Kalimantan. 6,1 juta atau 4,7 persen di Bali dan NTB. 3,3 juta atau 2,5 persen di Maluku dan Papua.

Kondisi geografis dan besarnya investasi yang dikeluarkan untuk membangun akses telekomunikasi di daerah menjadi alasan utama enggannya operator telekomunikasi untuk menghadirkan layanannya di daerah pelosok.

Brahima Sanou, International Telecommunication Union (ITU) Development Bureau, di ajang ITU ICT Summit di Bali beberapa waktu lalu menyampaikan bahwa kondisi geografis seharusnya tidak menjadi halangan bagi swasta untuk membangun infrastruktur telekomunikasi.

“Jika pembangunan infrastruktur tidak segera diratakan bagaimana mungkin digital economy bisa terwujud,” tegasnya.

Berdasarkan survei International Telecommunication Union (ITU) mencatat, pada setiap peningkatan penetrasi boardband sebesar 10% maka negara itu akan mengalami kenaikan gross domestic product (GDP) sebesar 1,38%. Sementara itu menurut bussines world, pada tahun 2008, rata-rata peningkatan broadband mampu menyumbang GDP 2%.

Komitmen Operator

Dari sekian banyak operator yang ada di Indonesia, Telkomsel menjadi satu-satunya operator yang memiliki wilayah cakupan layanan terluas di Indonesia yang menguasai 95 persen populasi di Indonesia dengan lebih dari 140 ribu ribu BTS yang sudah digelar. Dari jumlah tersebut, sebanyak 50 persen merupakan BTS broadband (3G dan 4G) yang akan mendukung pelanggan mendapatkan layanan data.

Telkomsel secara konsisten menghadirkan infrastruktur jaringan di wilayah-wilayah terdepan dan terluar di Indonesia. Hal ini dilakukan sebagai upaya menegakkan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan mengakselerasi pertumbuhan perekonomian masyarakat.

Ririek Adriansyah Direktur Utama Telkomsel menjelaskan, bahwa sepanjang satu tahun terakhir, Telkomsel telah membangun lebih dari 120 base transceiver station (BTS) baru di daerah-daerah yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, sehingga secara total kini 753 BTS telah beroperasi melayani berbagai wilayah perbatasan di Indonesia.

“Kami yakin bahwa berkomunikasi dan saling terhubung merupakan hak seluruh masyarakat Indonesia, tanpa terkecuali. Sudah menjadi tanggung jawab kami untuk mempersatukan negeri secara berkesinambungan dengan terus membangun dan membuka akses layanan telekomunikasi di seluruh wilayah Indonesia, termasuk wilayah perbatasan negara,”*kata Ririek

Dikatakan Ririek, 753 BTS yang telah dibangun Telkomsel berlokasi di perbatasan dengan tujuh negara tetangga, yakni 17 BTS berlokasi di Batam dan Bintan yang berbatasan dengan Singapura; 276 BTS berbatasan dengan Malaysia di Dumai, Rokan, Bintan, Karimun, Anambas, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Sumatera bagian Utara, Rokan Hilir; 70 BTS di Natuna dan Anambas berbatasan dengan Vietnam, 210 BTS di Nusa Tenggara Timur berbatasan dengan Timor Leste; 66 BTS di Pulau Rote dan Maluku berbatasan dengan Australia; 70 BTS di Sulawesi Utara berbatasan dengan Filipina; dan 44 BTS di Papua bagian Timur berbatasan dengan Papua Nugini.


Membuka Daerah Terisolasi

Kondisi geografi Indonesia yang cukup menyulitkan bagi pembangunan infrastruktur membuat beberapa daerah terlambat merasakan akses telekomunikasi. Bahkan sempat terisolasi karena minimnya infrastruktur yang ada di daerahnya. Padahal akses terhadap infrastruktur dan layanan telekomunikasi ini merupakan hak seluruh warga Indonesia.

“Semua warga negara Indonesia mempuyai hak akses untuk mendapatkan layanan telekomunikasi,” ungkap Menkominfo Rudiantara (22/11/2016) saat mengunjungi Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara seperti Selular kutip dari laman resmi Kominfo.

Namun sayangnya hak tersebut sulit terpenuhi oleh operator karena banyak diantara wilayah yang belum mendapatkan akses telekomunikasi karena secara bisnis tidak layak bagi operator untuk menghadirkan layanannya.

“Kewajiban operator itu dituangkan dalam perjanjian dengan pemerintah jadi tiap operator mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda. Karena kita ingin menghubungkan seluruh Indonesia, 2014 akhir dan 2015 awal Kemkominfo mengajak berbicara dengan operator telekomunikasi. Mereka mengatakan mereka tidak membangun seperti di Natuna karena secara bisnis tidak layak,” jelasnya.

Menurut Rudiantara dari 514 kabupaten dan kota di Indonesia, masih ada sekitar 114 kabupaten dan kota yang belum terhubung dan masih terisolasi dari akses layanan telekomunikasi.

Untuk membantu terbukanya akses telekomunikasi di seluruh Indonesia, Telkomsel secara konsisten menghadirkan infrastruktur jaringan di wilayah-wilayah terdepan dan terluar di Indonesia. Hal ini dilakukan sebagai upaya menegakkan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan mengakselerasi pertumbuhan perekonomian masyarakat.

Bahkan dari seluruh BTS di wilayah perbatasan negara yang telah dibangun tersebut, 240 BTS di antaranya hadir di lokasi-lokasi yang sebelumnya tidak tersentuh akses telekomunikasi.

Di beberapa titik perbatasan, Telkomsel bekerjasama dengan pemerintah membangun untuk memajukan masyarakat di wilayah tersebut. Bahkan, untuk memberikan kenyamanan masyarakat dalam menggunakan layanan data, 177 BTS perbatasan telah dilengkapi teknologi mobile broadband berbasis 4G dan 3G.

Hadirnya layanan broadband bagi masyarakat setempat ini diharapkan dapat mendorong pembangunan di daerah perbatasan, di antaranya mempercepat pertumbuhan perekonomian dan kemasyarakatan, sekaligus mampu menjadi katalisator dalam mempromosikan potensi daerah, serta meningkatkan daya tarik investasi, peluang usaha, bahkan lapangan kerja baru.

Artikel Terbaru