spot_img
BerandaNewsFeatureMenelisik Kebangkitan Motorola di Tangan Lenovo

Menelisik Kebangkitan Motorola di Tangan Lenovo

Artikel ini ditulis oleh Uday Rayana, Editor in Chief Selular Media Group

-

Motorola Optimis Moto Z2 PlayJakarta, Selular.ID – Transisi teknologi di industri selular terkadang merupakan mimpi buruk bagi penguasa pasar. Di era layanan dasar, yakni suara semata, dua vendor asal Eropa, Siemens atau Ericsson, pernah menikmati manisnya pasar ponsel global yang saat itu mulai berkembang luas.

Namun saat layanan komunikasi bertransformasi ke suara dan teks (SMS), keduanya mengalami kesulitan bersaing dengan pemain lainnya. Siemens bahkan akhirnya lenyap tak berbekas. Ericsson berusaha bertahan dan membentuk joint venture dengan Sony. Meski akhirnya juga tak kuat bertahan.

Penguasa selanjutnya yakni Nokia juga mengalami nasib yang tragis. Menerima tongkat estafet dari Ericsson, vendor asal Finlandia ini menunjukkan kedigdayaannya selama lebih dari satu dekade (1994 – 2006). Namun memasuki 2007, saat tren komunikasi bergeser dari sekedar voice dan SMS ke layanan data (multi media), peruntungan Nokia mulai meredup.

Keterlambatan membangun ekosistem digital dan ketidakmampuan membendung agresifitas Android, sistem operasi yang dibangun Google dan bebas dikembangkan oleh berbagai manufakur ponsel dunia, membuat popularitas Nokia anjlok ke titik terendah.

Sempat dikuasai Microsoft yang bernafsu masuk ke pasar smartphone dengan mengembangkan Windows Mobile, performa Nokia malah tak kunjung membaik.
Gelontoran dana senilai 7,2 miliar dollar AS atau sekitar Rp 79 triliun oleh raksasa peranti lunak itu pada April 2014, nyatanya tak mampu membendung laju vendor-vendor berbasis Android, terutama Samsung yang justru melejit menjadi pemain terdepan di era smartphone. Hingga akhirnya Microsoft menyerah dan membiarkan unit mobile Nokia kembali berpindah kepemilikan ke HMD Global hingga saat ini.

Selain Siemens, Ericsson dan Nokia, Motorola juga nyaris mengalami nasib serupa. Perbedaannya Motorola tak pernah benar-benar mati meski sempat vakum dan mengubah struktur bisnisnya. Hal itu membuktikan kemampuan adaptasi Motorola terhadap berbagai pergeseran tren dan perubahan zaman, meski harus berganti kepemilikan.

Perusahaan yang berdiri sejak 1928 itu menjadi salah satu yang tertua dan masih bertahan hingga kini. Motorola adalah pelopor telepon genggam yang merupakan cikal bakal smartphone. Mereka juga lah yang mengusung inovasi pertama ponsel model flip yang sangat hits. Tak kurang dari 24.500 paten dan portofolio dikantungi perusahaan asal Illinois, Amerika Serikat itu.

Di era awal 2000-an, Motorola merupakan pesaing berat Nokia dan Sony Ericsson. Namun memasuki era ponsel cerdas, Motorola kesulitan bersaing dengan iPhone dan Blackberry. Membuat vendor berlogo kelelawar ini merugi hingga US$1,2 miliar pada 2007.

Jalan terjal rupanya mulai menghadang Motorola. Agar tetap survive, langkah PHK terhadap karyawan di seluruh dunia tak terelakan. Tak tanggung-tanggung, sepanjang 2007 – 2009, total pekerja yang sudah meninggalkan perusahaan berjumlah 12 ribu orang. Selain pengurangan karyawan, upaya lainnya adalah mempercepat rencana pensiun dan mengurangi gaji pemimpin top perusahaan.

Perampingan ini memang membuat Motorola mampu menghemat biaya hingga US$ 1,5 miliar. Namun langkah perampingan harus dibayar mahal. Sejumlah besar eksekutifnya memutuskan pindah ke Apple untuk mengembangkan generasi iPhone selanjutnya. Sayangnya, pengurangan pegawai hanya sekedar mempertahankan nafas, karena momentum pasar sepenuhnya telah bergeser ke iPhone dan Blackberry.

Tak ingin terus-terusan merugi, Motorola tak punya pilihan selain menerima pinangan Google. Pada 15 Agustus 2011, divisi yang membawahi ponsel, Motorola Mobillity, diakuisisi Google. Raksasa mesin pencari yang berbasis di Mountain View, California, rela menggelontorkan duit 12,5 miliar dollar AS atau senilai Rp 162 triliun.

Google tentu sudah memperhitungkan untung-rugi membeli Motorola yang kala itu dalam masa sulit. Ternyata, nilai utama Motorola di mata Google tak lain dan tak bukan adalah kekayaan patennya.

Menurut Google, raksasa lain seperti Microsoft, Oracle, dan Apple, secara agresif menyerang Android dengan tuntutan hukum soal paten dan lisensi. Hal ini sedikit banyak mengancam perkembangan Android sebagai sistem operasi terbuka. Untuk itu, Google mengindikasikan kekayaan paten Motorola sebagai pelindung agar perusahaan lain tak berani mengusik Android. Dengan demikian, portofolio paten Motorola Mobility akan membantu tumbuhnya ekosistem Android.
“Google sangat kuat di software, Motorola Mobility sangat kuat di hardware. Penyatuan keduanya akan sangat baik dan mempercepat inovasi,” kata perwakilan Google.

Akusisi Lenovo
Namun sekedar menjadikan Motorola sebagai tameng dari serangan para pesaing, jelas menunjukkan bahwa Google bukanlah pemilik yang tepat. Jika diibaratkan permainan sepak bola, Google memperlakukan pemain bintang sekelas Zlatan Ibrahimovic atau Ronaldo hanya sebagai penghangat bangku cadangan. Hingga pada akhirnya, Google resmi melepas kepemilikan Motorola ke Lenovo pada 2014 senilai 2,91 miliar dollar AS (sekitar Rp 35 triliun).

Langkah akusisi memberikan harapan bahwa brand ikonik itu, akan kembali mampu bersaing di industri ponsel dunia yang semakin mengarah ke digital. Pasalnya, Lenovo memiliki segudang portfolio yang bisa mengangkat Motorola dari keterpurukan.

Seperti halnya akuisisi terhadap IBM PC dan notebook yang sukses mengangkat Lenovo sebagai brand komputasi elit di dunia, Lenovo optimis kehadiran Motorola dapat memperkuat posisi mereka di pasar smartphone global. Terutama di Asia Pasifik. Kawasan yang menyimpan potensi pasar perangkat mobile paling besar.

GSM Association memprediksi jumlah pengguna komunikasi lewat perangkat mobile di Asia Pasifik akan meningkat hingga 3,1 miliar pada tahun 2020. Indonesia disebut akan menjadi kunci pertumbuhan layanan mobile di kawasan tersebut. Indonesia diprediksi akan menjadi salah satu dari empat negara dengan pasar terbesar dalam hal pengguna terbanyak.

Tiga negara lain dengan pasar mobile terbesar adalah China, India, dan Jepang. Jumlah pengguna dari empat negara itu sudah mencakup lebih dari tiga perempat dari total pengguna di kawasan Asia Pasifik.

“Mobile merupakan alat utama untuk meningkatkan konektivitas dan akses internet ke seluruh penjuru Asia Pasifik. Mengantarkan manfaat sosial dan ekonomi untuk kawasan,” kata Direktur Jenderal GSMA Mats Granryd, dalam ajang Mobile World Congress Shanghai 2016, Rabu (29/6/2016).

Dengan potensi pasar yang sangat besar itu, sejak awal petinggi Lenovo dan Motorola telah menjadikan Asia Pasifik sebagai pijakan penting. Selain tetap memperkuat pasar di negeri sendiri, Lenovo berupaya agresif merebut market share di negera-negara berkembang lainnya. Dan sejauh ini, strategi dual brand, Lenovo dan Motorola, terbukti manjur.

Saat peluncuran varian terbaru Motorola, Moto Z2 Play di Bangkok, Rabu (5/7/2017), Dillon Ye, VP Asia Pacific Sales Lead, Lenovo Mobile Business Group, mengungkapkan sepanjang 2016 lalu, pencapaian Lenovo dan Motorola meningkat signifikan.

“Lenovo dan Motorola kini menempati posisi empat besar brand smartphone dengan pertumbuhan penjualan tertinggi di kawasan Asia Pasifik”, ungkap Dillon.
Di sejumlah negara seperti Brazil, India, Meksiko dan Uni Emirat Arab, pencapaian Lenovo dan Motorola bahkan melebihi target, karena mampu menempati posisi kedua sebagai brand dengan market share terbanyak.

Menurut Dillon, salah satu langkah strategis yang terbukti mampu mengatrol popularitas sekaligus market share adalah kehadiran varian Moto Z. Smartphone di segmen premium dengan teknologi modular ini, menawarkan pengalaman berbeda bagi pengguna dalam menikmati smartphone.

Dengan Moto Mods pengguna langsung dapat mengubah Moto Z menjadi smartphone yang bisa menyesuaikan dengan kebutuhan. Baik untuk mengambil foto lebih tajam, mendengarkan musik, memaksimalkan daya tahan baterai, hingga mengubah smartphone menjadi sebuah layar proyektor atau konsol game.

Selain Moto Z, Motorola sejauh ini sudah memperkenalkan sejumlah produk dari berbagai lini. Seperti Moto E, Moto M, Moto G, dan Moto C. Motorola juga disebut-sebut akan kembali menghadirkan Moto X, salah satu varian fenomenal yang diminati konsumen global.

Pasar Indonesia
Di Indonesia sendiri, Motorola sudah hadir kembali sejak November 2016 dan terus berlanjut hingga kini. Dimulai dengan Moto E3 Power, Moto Z dan Z Play, Moto M, Moto E4 Power, dan teranyar generasi kedua smartphone modular, Moto Z2 Play.

Dengan peluncuran produk secara berkala, Motorola berusaha menerapkan strategi dengan memperkuat line up produk yang lengkap untuk berbagai segmen, membuat pilihan konsumen menjadi lebih luas. Hal itu diyakini dapat memperkuat daya saing, mempercepat pertumbuhan, dan memenangkan pasar smartphone global, termasuk Indonesia.

Menurut Augustin Becquet, Executive Director of Asean, Lenovo Mobile Business Group and Motorola Mobility, Indonesia adalah pasar yang sangat penting bagi Lenovo dan Motorola. Dengan permintaan ponsel mencapai lebih dari 40 juta unit per tahun, khususnya smartphone yang tumbuh pesat, Indonesia kini menjadi pasar terbesar kedua setelah China di kawasan Asia Pasifik, mengalahkan India.

“Kehadiran kembali Motorola sejak akhir tahun lalu, menunjukkan Indonesia adalah pasar yang sangat strategis. Kami fokus untuk terus menghadirkan produk yang inovatif dan sesuai dengan kebutuhan konsumen”, ujar Augustin.

Kehadiran varian baru, termasuk Moto Z2 Play, membuatnya optimis market share Lenovo dan Motorola akan semakin meningkat.

“Pada akhirnya dalam beberapa tahun ke depan, target kami bisa mencapai tiga besar di Indonesia”, kata Augustin optimis.

Artikel Terbaru