Monday, June 17, 2019
Home News Community Transportasi Pintar, Solusi Kemacetan Kota

Transportasi Pintar, Solusi Kemacetan Kota

-

IMG_20170209_134706
Jakarta, Selular.ID – Laju pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia kian tak terbendung. Data Badan Pusat Statistik selama kurun waktu 2010-2014, menunjukkan adanya peningkatan kendaraan bermotor mencapai angka 9,93 persen per tahun.
Bahkan, dua kota besar di Indonesia, Jakarta dan Surabaya, sempat menjadi kota termacet di dunia dalam laporan perusahaan riset Tomtom di tahun 2014.

Tentu saja, kemacetan yang terjadi di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia akan bisa terurai dengan sistem transportasi optimal berbasis teknologi dengan konsep Smart Cities (Kota Pintar).

Tak hanya itu, sistem transportasi terintegrasi yang dikenal dengan Intelligent Transportation System (ITS) juga merupakan modal penting untuk peningkatan kualitas hidup masyarakat, khususnya yang tinggal di perkotaan.

“Target kami pada tahun 2025 mendatang, durasi seseorang berada di jalan raya maksimal adalah 70 menit,” ujar Setiaji, Head Unit of Technical Management (UPT) Smart Cities Jakarta, dalam acara community gathering yang digelar Alcatel-Lucent Enterprise (ALE) Indonesia di Jakarta (9/2/2017).

Guna mencapai target itu maka dibutuhkan solusi berbasis teknologi dan komunikasi, sehingga seluruh sistem transportasi akan saling terintegrasi dan proses pengaturan lalu lintas menjadi lebih efisien dan efektif.

Hal itu juga yang menjadi salah satu fokus ALE dalam mengembangkan ITS. Ernest Lee, VP Government Vertical ALE Asia Pacific, meyakini penerapan teknologi berfungsi sebagai enabler yang memberikan kemudahan bagi masyarakat urban serta mendukung percepatan pembangunan Smart Cities di Indonesia.

“Kami telah menerapkan konsep ITS di beberapa kota besar di dunia seperti Finlandia, Yanjian China, dan Frankfurt Jerman,” jelas Ernest.

Bagaimana ITS bisa meningkatkan kualitas hidup masyarakat urban? Menurut Ernest sistem itu menghubungkan setiap kamera, sensor, marka jalan, sinyal, dan kendaraan bermotor ke pusat data dan operasional.

Dengan begitu, setiap individu bisa mendapat informasi yang relevan dengan aktivitasnya. Misalnya kapan bis TransJakarta tiba di selter A, atau berapa menit lagi Commuter Line tujuan Bekasi tersedia di stasiun B, dan lain sebagainya.

Sehingga, warga tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk menunggu di selter atau stasiun.

Menurut Setiaji, durasi perjalanan menggunakan TransJakarta dari Blok M ke Rawa Mangun, sudah sesuai target, yakni 35 menit. Namun dengan banyaknya pembangunan yang tengah terjadi di jantung Ibu Kota, maka wajar bila target keseluruhan akan lebih lama yakni tahun 2025.

Teknologi ITS tidak hanya memonitor dan mengevaluasi situasi, tetapi juga membantu menentukan tindakan yang harus segera diambil.

“Sistem berbasis komunikasi dan teknologi seperti ITS juga bisa diaplikasikan saat terjadi situasi darurat yang membutuhkan evakuasi masyarakat secepatnya,” pungkas Ernest.

Latest