Friday, July 10, 2020
Home News Pengamat: Network Sharing Tidak Perlu Diatur Negara

Pengamat: Network Sharing Tidak Perlu Diatur Negara

-

agus-pambagioJakarta, Selular.ID – Tidak bisa dipungkiri bahwasanya persaingan di industri telkomunikasi kian sengit bahkan tergolong brutal. Hal ini, seperti diungkap Agus Pambagio, yang dikenal sebagai Pengamat Kebijakan Publik ini.

Berbicara di Seminar Nasional ‘Mendorong Efisiensi Berkeadilan Industri Telekomunikasi Nasional, Agus menyatakan bahwa industri telekomunikasi sudah masuk masa sunset. Seiring turunnya tarif voice, ‘perang’ antar operator pun jadi brutal, khususnya di daerah.

“Pemasarannya brutal sekali kalau di daerah, sampai dibeli semua kartu kemudian dibakar dan dibuang dan seterusnya. Lagi bikin acara, dicabutin benderanya dan seterusnya. Ini sudah engga sehat menurut saya,” kata Agus Pambagio seraya meminta KPPU untuk bisa mengontrol hal tersebut.

Soal jumlah operator, Agus juga menilai bahwa Indonesia masih cukup besar di dunia, dan ini perlu dipikirkan lagi. Sebagai perbandingan, Agus mengatakan bahwa di negara-negara lain, paling punya tiga operator.

“Tentu ini juga perlu dipikirkan lagi, kemudian juga regulasinya mandek. Bukan hanya telko sih, di Indonesia memang regulasinya mandeknya banyak,” tandas Agus.

Selain masalah di atas, hal yang juga disoroti Agus Pambagio di industri telekomunikasi adalah masalah network sharing. Secara tegas Agus mengatakan bahwa network sharing tidak perlu dibuat ribet, apalagi sampai diatur negara.

“(Soal network sharing) ya sudah Business-to-Business (B2B) aja lah. Bayar berapa lima kalinya, ‘lah kalau memang perlu ya bayar, kenapa harus ribet, itu kan B2B, masa diatur negara. Capek pak urusannya,” kata Agus Pambagio.

Lebih lanjut, masih soal network sharing Agus Pambagio mengungkapkan bahwa hal ini bisa menghemat biaya modal (capital expenditure/capex) maupun biaya operasional (operating expenditure/opex) sebuah operator.

“Kenapa harus berbagi jaringan sih. Ternyata bisa menurunkan (menghemat) capex-nya antara 14 – 30%, kemudian juga opex-nya pun juga bisa sampai 8-25%. ‘Kan artinya jelas, buat industri itu sendiri bisa bareng-barenglah. Istilah kasarnya kita bisa ‘salome’ lah, supaya bisa lebih irit. Kemudian di dunia juga modelnya sudah sharing,” tutupnya.

Latest