Monday, August 19, 2019
Home News Menagih Sumpah Operator Selular

Menagih Sumpah Operator Selular

-

Garuda Sugardo
Jakarta, Selular.ID – Tepat 28 Oktober lalu ada sebuah momen bersejarah yang kembali diperingati oleh bangsa ini. Sebuah momen yang mempersatukan seluruh pemuda di negeri, untuk melepaskan Indonesia dari belenggu penjajahan. Dalam sebuah kongres yang dihelat pada 20 Oktober 1928 itu, para pemuda Indonesia dipersatukan dalam sebuah sumpah, yang kita kenal saat ini sebagai “Sumpah Pemuda”.

Kini Sumpah Pemuda yang kita peringati setiap tahunnya, sudah berumur 88 tahun. Dalam 88 tahun perjalan Sumpah Pemuda, ikrar tersebut seakan menjadi pelecut bagi setiap anak muda negeri ini, untuk selalu memberikan yang terbaik bagi negaranya tercinta.

Walau dalam pelaksanaannya masih jauh dari kata sempurna, namun pencapaian anak muda Tanah Air untuk mengharumkan nama Indonesia dalam berbagai bidang, hingga bisa diakui dunia, sangat layak mendapat apresiasi.

Lalu apa hubungannya Sumpah Pemuda dengan perkembangan teknologi, khususnya industri operator selular di Indonesia?

Tanpa banyak diketahui, momentum Sumpah Pemuda dijadikan inspirasi oleh salah satu operator di negeri ini, untuk melakukan sumpah yang kurang lebih isinya sama. Menurut tulisan Garuda Sugardo,  mantan Direksi Telkomsel, Indosat BUMN dan Telkom Indonesia, tepat pada 28 Oktober 1996, Telkomsel nekad mencanangkan “sumpah selular”.

“Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, dan Satu Coverage, Indonesia,” itulah isi sumpah selular yang diucapkan Telkomsel.

Sumpah tersebut diucapkan, bertepatan dengan pencapaian sinyal coverage Telkomsel di provinsi ke 16 dari 27 provinsi NKRI (saat itu), dan diresmikan di Manado oleh Gubernur Sulawesi Utara, E.E. Mangindaan.

Berdasarkan data yang diuraikan Garuda Sugardo, sumpah tersebut terbilang cukup gila, pasalnya saat itu Telkomsel baru 1 tahun 5 bulan. Diceritakannya, kala itu bersama para patriot Tselfira (Telkomsel First Era), Telkomsel menggelar coverage (cakupan) Nusantara praktis tanpa restu para direksi pemegang saham (Telkom 42,72%; Indosat 35%; dan PTT Belanda plus Setdco 22,28%). Mereka menganggap penggelaran jaringan ke provinsi-provinsi “miskin” di luar Jawa adalah pemborosan, gila, over coverage dan tanpa pertimbangan bisnis. Namun para pemuda Telkomsel merangsek terus.

Hasilnya tanggal 29 Desember 1996, seluruh provinsi NKRI tuntas mendapatkan sinyal seluler Telkomsel. “Ya, dengan semangat Sumpah Pemuda, Telkomsel telah mengudara di seluruh Indonesia sejak 20 tahun lalu, bandingkan dengan kompetitornya (Indosat, XL, Smartfren, dan Hutchinson 3) yang sampai saat ini masih berputar-putar uplek di kota besar saja,” ucap Garuda dalam tulisannya.

Jika melihat situasi saat ini, terlepas dari segala kekurangan dan kelebihannya, bisa dikatakan sejauh ini Telkomsel berhasil membuktikan sumpah yang pernah diucapkan. Hal tersebut bisa terlihat dari coverage sinyal Telkomsel, yang bisa dinikmati hingga keseluruh pelosok.

Dengan pencapaian tersebut, jangan heran jika Telkomsel saat ini menjadi penguasa pasar. Dan bagi para kompetitornya jangan iri dengan pencapain Telkomsel saat ini. Karena pencapaian Telkomsel saat ini merupakan buah dari kerja keras mereka membangun infrastuktur jaringan.

Hal ini justru sedikit bertolak belakang dengan apa yang dilakukan para kompetitornya. Seperti yang diungkapkan Garuda Sugardo, saat ini pesaing Telkomsel masih sibuk membangun infrastuktur di kota besar saja, yang secara ekonomis memang menghasilkan.

Sejatinya para operator pesaingin bukan tidak ingin membangun di daerah pelosok, seperti yang dilakukan Telkomsel.  Mendorong revisi PP 52/53 tahun 2000 tentang telekomunikasi, adalah satu cara yang digunakan operator pesaing Telkomsel, agar bisa memperluas coverage hingga ke pelosok nusantara.

Network sharing serta interkonekoneksi, yang menjadi salah satu bagian rencana revisi PP tersebut, memang secara awam bisa membuat operator pesaing Telkomsel mampu memperluas cakupannya. Sehingga mereka (Indosat Ooredoo, XL, Smartfren, dan Hutchinson 3) bisa bersaing dengan Telkomsel di daerah pelosok. Hanya saja manuver yang dilakukan para operator pesaing, untuk memperluas cakupannya, justru menimbulkan polemik di industri selular Tanah Air.

Menurut Garuda, isu perubahan PP 52/2000 menjadi lebih seksi karena ditengarai melibatkan kondisi bisnis para operator penyelenggara telekomunikasi dan sedikit banyak diaromai dengan “kepentingan politik” beberapa pihak. “Interkoneksi serta network sharing yang fair dan terjangkau, bukanlah momok dan substitusi dari sebuah penyelenggaraan jasa. Keterhubungan dan berbagi justru akan menciptakan sebuah konsep kompetisi modern, yaitu seiring, bersaing dan bersanding,” urai Garuda.

Sejauh ini polemik revisi PP 52/53 tahun 2000, belum diketahui akan bagaimana akhirnya. Terkait polemik tersebut, Dewan Perwakilan Rakyat, sudah memanggil semua pihak yang terkait, mulai dari pemerintah (Kemkominfo), hingga seluruh operator selular yang beroperasi di negeri ini.

Salah satu poin yang patut dicatat dalam pertemuan tersebut, anggota DPR-RI menagih janji dari modren licensing setiap operator. Mereka (anggota DPR-RI) ingin memeriksa sejauh mana para operator menepati janji mereka dalam membangun infrasstuktur.

Jika melihat situasi saat ini, jelas Telkomsel sudah merealisasikan janjinya. Bahkan operator plat merah ini dengan suka rela membangun infrakstuktur hingga ke pelosok, walaupun kabarnya tidak ada pihak yang menyuruh Telkomsel melakukan hal tersebut.

Lalu bagaimana dengan operator lain, apakah mereka sudah menepati janjinya?

Sejauh ini memang tidak ada keterangan yang pasti, apa tolak ukur sebuah oeprator sehingga bisa dikatakan berhasil menepati janjinya dalam hal membangun infrastuktur. Terlepas dari janji tersebut, akan sangat bijak jika Indosat Ooredoo, XL, Smartfren, dan Hutchinson 3, mengambil langkah serupa jika ingin bersaing dengan Telkomsel, di daerah-daerah terpencil.

Toh, pada dasarnya jika mereka (Indosat Ooredoo, XL, Smartfren, dan Hutchinson 3) mau membangun di daerah terpencil, konsumen akan sangat diuntungkan. Pasalnya konsumen di daerah pelosok, nantinya tidak lagi tergantung oleh satu operator saja.

Hal ini juga bisa menghadirkan persaingan sehat, sekaligus menghilangkan anggapan monopoli, yang dilakukan Telkomsel di daerah terpencil.

Latest