Beranda Fokus Menkominfo Dinilai Cari Popularitas Lewat Kebijakan Interkoneksi

Menkominfo Dinilai Cari Popularitas Lewat Kebijakan Interkoneksi

-

Menkominfo Rudiantara saat ditemui di kantor kemkominfo (foto: Choi/Selular)
Menkominfo Rudiantara saat ditemui di kantor kemkominfo (foto: Choi/Selular)

​Jakarta, Selular.ID – Rencana Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) melakukan penurunan tarif Interkoneksi dinilai oleh Federasi Serikat Pekerja BUMN Strategis sekedar mencari popularitas dengan merugikan negara dan menguntungkan operator asing yang beroperasi di Indonesia.

“Penurunan Tarif Interkoneksi oleh Menkominfo tidak menjamin penurunan tarif ke pelanggan, ini hanya langkah mencari popularitas bagi pengguna jasa  saja, yang sudah jelas adalah menguntungkan operator asing dan merugikan negara karena pihak yang dirugikan adalah  BUMN,” diungkapkan Wisnu Adhi Wuryanto Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Strategis dalam konferensi pers di Bandung 28 Agustus 2016.

Wisnu menyoroti disamping prosesnya yang terkesan terburu-buru, azas kepatutan penandatangan diabaikan, untuk kondisi sekarang tanpa adanya Ketua Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) seharusnya tidak layak seorang Plt Dirjen menandatanganinya.

Isi surat tersebut juga terindikasi melanggar Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi, khusus mengenai penetapan tarif interkoneksi yang seharusnya didasarkan pada Pasal 22 dan 23 PP tersebut.

Dimana Pasal 22 menyebutkan bahwa “Kesepakatan interkoneksi antar penyelenggara jaringan telekomunikasi harus tidak saling merugikan dan dituangkan dalam perjanjian tertulis”. Artinya tarif interkoneksi tersebut harusnya merupakan kesepakatan seluruh operator. Sedangkan di pasal 23 ayat (1) juga dijelaskan “Dalam menyelenggarakan jasa telekomunikasi melalui 2 (dua) penyelenggara jaringan atau lebih, dikenakan biaya interkoneksi”.

Kemudian dilanjutkan di ayat (2) bahwa “Biaya interkoneksi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan berdasarkan perhitungan yang transparan, disepakati bersama dan adil”. Sementara sebagian operator tidak sepakat hasil penetapan pihak Kominfo karena perhitungannya tidak tratsparan, merugikan, dan tidak adil.

“Karena terindikasi melanggar, surat edaran ini potensial dilakukan gugatan ke PTUN, atau bila nantinya dikeluarkan melalui Peraturan Menteri maka potensial diajukan Judicial Review ke Mahkamah Agung” Kata Wisnu menambahkan.

Dari sisi besar keuntungan operator asing dan kerugian negara, Wisnu menjelaskan jika melihat besaran tarif interkoneksi yang ditetapkan Rp. 204, sedangkan pada Rapat dengar pendapat antara kOMISI I DPR dengan  para CEO operator pada tanggal  25 Agustus 2016 lalu, dengan Cost Recovery Rp65/menit XL akan untung Rp139/menit, untuk INDOSAT  dengan Recovery Rp87/menit  akan  untung Rp117/menit, untuk Hutchinson dengan Cost Recovery Rp120/menit akan  jadi untung Rp. 84/menit, Khusus ntuk Telkomsel dengan Cost Recovery Rp285/menit akan rugi Rp. 81/menit. Jika trafik interkoneksi antar operator 10 milyar menit per bulan, bisa dihitung berapa keuntungan operator asing tersebut dan kerugian Telkomsel, misal kerugian Telkomsel di sini Rp800 milyar per bulan”.

“Idealnya Kementerian menetapkan tarifnya tidak sama rata, tetapi konsisten berbasis biaya masing masing operator. Melihat indikasi kerugian negara karena Telkomsel adalah anak usaha BUMN dan indikasi memperkaya pihak lain ini, walau kebijakan ini populis, kami sedang mengkaji dengan serius untuk melaporkan kebijakan ini KPK dan BPK” Kata Wisnu menambahkan.

“Kami  juga berencana menyampaikan aspirasi dalam bentuk unjuk rasa damai kepada DPR  minggu depan” Pungkas Wisnu.

Sementara itu di tempat yang sama, Ketua Umum Serikat Karyawan Telkom Asep Mulyana menyatakan bahwa kebijakan tarif interkoneksi dari Menkominfo memang akan membuat Telkomsel sebagai anak usaha Telkom rugi 2 kali yaitu dibayar lebih rendah dari biaya yang seharusnya saat pelanggan Telkomsel dihubungi pelanggan non Telkomsel dan membayar lebih tinggi dari yang seharusnya saat pelanggan Telkomsel menghubungi, sehingga Serikat Karyawan Telkom menolak kebijakan tersebut dan mendukung apa yang akan dilakukan Federasi Serikat BUMN Strategis.

Artikel Terbaru