Beranda Headline Persaingan Operator Dinilai Cenderung Brutal dan Sudah Melanggar Aturan

Persaingan Operator Dinilai Cenderung Brutal dan Sudah Melanggar Aturan

-

Muhamad Jumadi, Sekjen IDTUG
Muhamad Jumadi, Sekjen IDTUG

Jakarta, Selular.ID – Tensi konflik kampanye perang tarif antara Indosat dan Telkomsel belum juga reda. Bahkan merambat ke berbagai pihak. Salah satu pihak yang turut concern atas masalah ini yaitu Indonesia Telecommunication User Group (IDTUG). Mereka menilai apa yang terjadi antar operator telekomunikasi di Indonesia, terutama kasus Indosat dan Telkomsel, sudah memperlihatkan aroma dan gelagat yang tidak elok dan cenderung brutal.

 

Kesan tidak elok dan brutal itu, menurut IDTUG, tampak dalam berusaha dan mempromosikan produk yang mereka jual kepada pengguna telekomunikasi di Indonesia, begitu juga sikap masing-masing operator dalam bersaing sudah melanggar batas-batas etika dalam berusaha.

 

Dalam pernyataan resmi yang Selular terima, IDTUG juga memandang perlu untuk menghimbau kepada operator-operator tersebut untuk bersaing secara sehat, karena sekarang ini di tenggarai sudah melanggar :

 

Pasal 19 UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat

Pelaku usaha dilarang melakukan satu atau beberapa kegiatan, baik sendiri maupun bersama pelaku usaha lain, yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat berupa:

 

  1. menolak dan atau menghalangipelaku usaha tertentu untuk melakukan kegiatan usaha yang sama pada pasar bersangkutan; atau
  2. menghalangi konsumen atau pelanggan pelaku usaha pesaingnyauntuk tidak melakukan hubungan usaha dengan pelaku usaha pesaingnya itu; atau
  • membatasi peredaran dan atau penjualan barang dan atau jasa pada pasar bersangkutan; atau
  1. melakukan praktek monopoli terhadap pelaku usaha tertentu.

 

Pasal 17 UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat

1)      Pelaku usaha dilarang melakukan penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.

2)      Pelaku usaha patut di duga atau dianggap melakukan penguasaan atas produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) apabila:

  1. barang dan atau jasa yang bersangkutan belum ada substitusinya; atau
  2. mengakibatkan pelaku usaha lain tidak dapat masuk ke dalam persaingan usaha barang dan atau jasa yang sama; atau
  3. satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 50% (lima puluh persen) pangsa pasarsatu jenis barang atau jasa tertentu.

 

Disamping itu melihat yang terjadi akhir-akhir ini IDTUG memandang perlu untuk mengambil sikap agar hal ini tidak terus berlangsung sehingga akan merugikan operator dan pengguna telekomunikasi di Indonesia, karena pada prinsipnya pengguna memerlukan pilihan yang bervariasi agar pengguna dapat mendapatkan layanan dan harga yang sesuai, sehingga level playing field antar operator menjadi seimbang dan operator tidak fokus hanya dengan menggunakan “Price War” untuk mendapatkan pelanggan tetapi dengan cara meningkatkan “Quality of Service “.

 

IDTUG mendesak BRTI agar mengambi sikap yang tegas dan jangan hanya sebagai “pemadam kebakaran” sehingga kalau terjadi masalah baru rebut, padahal seharusnya membina dan mengawasi operator adalah salah satu yang harus dikedepankan sehingga BRTI berfungsi dengan baik. Selain itu IDTUG juga mendesak KPPU untuk memanggil operator telekomunikasi untuk mengambil sikap apakah benar telah terjadi persaingan yang tidak sehat antar operator terutama di luar pulau jawa.

Dan terakhir IDTUG mendesak kominfo untuk melihat konsep “Modern Licensing” yaitu kewajiban operator untuk membangun dan melayani pengguna telekomunikasi diseluruh Indonesia apakah sudah dijalankan atau bahkan dengan kejadian ini malah menghambat proses Modern Licensing itu sendiri.

 

 

Artikel Terbaru