Beranda Chatting Tidak Selalu Berkaitan Dengan Teknologi

Tidak Selalu Berkaitan Dengan Teknologi

-

Hardyana Syintawati - Vice President Marketing Communication Ericsson Indonesia
Hardyana Syintawati – Vice President Marketing Communication Ericsson Indonesia

Sudah sejak tahun 1907, Ericsson menjejakkan kaki bisnisnya di Indonesia. Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, vendor jaringan asal Swedia ini pun berhasil menjaga hegemoninya sebagai penguasa pasar. Tentu bukan hal yang mudah, apalagi di tengah persaingan layanan solusi teknologi yang semakin sengit. Beberapa vendor jaringan pun sudah ada yang tidak kuat menghadapi tantangan pasar, hingga akhirnya memilih melebur bahkan mundur.

Ericsson justru kian membuktikan kedigdayaannya. Termasuk di era 4G yang baru saja lepas landas di pasar Indonesia. Dengan berbagai solusi yang dimilikinya, Ericsson bertekad untuk ikut serta dalam mengembangkan layanan 4G di Indonesia yang baru akan tumbuh. Yang menarik, Ericsson memandang strategi pengembangan 4G tidak selalu harus berkaitan dengan teknologi. Seperti apa sepak terjang dan strategi Ericsson di pasar layanan solusi teknologi di Indonesia? Simak wawancara khusus Selular dengan Hardyana Syintawati, Vice President Marketing Communication Ericsson Indonesia berikut ini:

Di era 4G saat ini dan persaingan yang semakin ketat, apa keunggulan solusi teknologi 4G yang ditawarkan Ericsson?
Berbicara soal 4G, apa yang ditawarkan Ericsson tidak hanya berhenti pada teknologi LTE seperti sekarang. Ericsson terus mengembangkannya. Salah satunya Ericsson memiliki teknologi LTE Advance yang merupakan evolusi lebih lanjut dari LTE. Ericsson juga memungkinkan penggunaan LTE untuk aplikasi lain. Seperti untuk multicast, yaitu percampuran antara broadcast dan single cast. Itu baru di LTE dan Ericsson yang bisa menunjukkan. Ada juga LTE Assist, menggunakan frekuensi yang berbeda dari yang sekarang. Yaitu dengan menggunakan frekuensi yang tidak berbayar atau unlicensed frequency. Dari LTE saja pengembangan ke depannya banyak. Berbagai solusi teknologi tersebut juga menjadi pertimbangan bagi lembaga riset Gartner untuk menentukan bahwa LTE Ericsson masih menjadi nomor satu.

Layanan 4G Ericsson sendiri sudah ada di 100 kota di seluruh dunia. Di mana trafik mobile broadband di jaringan Ericsson menyumbang 40% dari total mobile traffic di dunia. Dua kali lebih besar ketimbang kompetitor.  Dari sisi pangsa pasar LTE di dunia, Ericsson masih menjadi supplier perangkat dan teknologi terbesar.

Seperti apa solusi yang diberikan Ericsson bagi industri selular, namun selain dari sisi teknologinya?
Memang tidak hanya dari sisi teknologi, Ericsson juga memikirkan ekosistem. Yaitu lebih kepada apa saja yang bisa dilakukan dengan berbagai teknologi tersebut. Sehingga bisa memberikan efek baik bagi pengguna, lingkungan maupun industri.

Dalam melakukan partnership dengan operator selular, juga tidak melulu terkait dengan teknologi. Ericsson bekerjasama dengan operator Telkomsel, XL dan Indosat. Salah satu bentuk kerjasamanya yaitu mengoptimasi jaringan bukan hanya lewat parameter teknologi.

Zaman dulu, waktu pertama kali jaringan telekomunikasi mulai dibangun di Indonesia, yang menjadi parameter bagus tidaknya layananan yaitu kekuatan sinyal. Di sisi pengguna biasanya melihatnya dari berapa bar sinyal yang ada di tampilan layar ponsel. Memang kala itu masih berbicara layanan voice. Di mana yang berpengaruh memang kekuatan sinyal. Jadi kalau sinyal penuh, jauh lebih tinggi kesuksesan untuk menelpon atau menerima telepon. Namun berbeda ketika berbicara akses data. Yang menjadi parameter bukan kuatnya sinyal lagi tapi lebih kepada kecepatan download. Biasanya diukur dengan aplikasi Speedtest.

Mengikuti perubahan itu, pendekatan Ericsson kepada para klien yaitu operator selular, tidak lagi menggunakan paramenter teknologi. Tapi lebih ke arah pengguna menggunakan perangkat untuk apa sih? Itu yang kita ukur, dan itu paling penting. Pengguna tidak lagi perduli kekuatan sinyal, yang penting lancar tidak ketika ingakses youtube atau facebook misalnya. Itulah yang diukur pengguna. Pendekatan itu yang juga kami gunakan dalam melakukan kerjasama dengan operator. Kita cari tahu karakteristik pengguna seperti apa. Sehingga bisa mengoptimasi jaringan sesuai karakteristik pengguna di Indonesia. Untuk itu Ericsson sering melakukan berbagai riset tren pengguna yang kami bukukan dalam suatu laporan dan kami share.

Lebih dari itu, hal lain selain yang Ericsson lakukan di luar masalah teknologi, antara lain yaitu Ericsson juga bekerjasama dengan Internet.org. Ericsson menjadi salah satu founding partner dari layanan itu, pertama di dunia. Ericsson juga bekerjasama dengan facebook dalam melakukan optimasi jaringan agar bisa melayani pengguna yang menggunakan facebook secara aktif. Ericsson juga menjadi salah satu founding partner untuk Smartcity Fondation. Yaitu yayasan yang mendorong agar kota bisa lebih cerdas.

Hal lain yang Ericsson lakukan yaitu kami pernah mengumpulkan app developer. Untuk memperlihat langsung bagaimana aplikasi buatan mereka bekerja di dalam jaringan selular. Karena berbeda apa yang terjadi di jaringan selular dengan jaringan wifi. Biasanya para app developer mencoba aplikasi mereka di lingkungan jaringan Wifi yang diam. Berbeda yang jadi jika menjalankan aplikasi di jaringan selular yang mobile. Sehingga mereka bisa memperbaiki aplikasi mereka agar lebih optimal di dalam jaringan selular.

Seperti apa visi dari Ericsson terhadap industri telekomunikasi?
Ericsson berdiri sejak tahun 1876 di Swedia. Di Indonesia Ericsson hadir sejak tahun 1907. Ericsson konsisten di industri telekomunikasi. Namun seiring dengan perubahan tren penggunaaan perangkat telekomunikasi dan cara mengkonsumsi konten, visi Ericsson tidak lagi hanya telekomunikasi, tapi kini mencakup ICT (information and communications technology), yaitu merging antara telekomunikasi dan IT (Information Technology). Saat ini banyak yang menggunakan layanan berbasis ICT sebagai hal yang produktif. Secara umum ini bisa untuk meningkatkan perekonomian. Dan visi Ericsson untuk itu yaitu menuju Network Society. Di mana ada infrastruktur yang membentuk Network Society, yaitu Mobilty, Broadband dan Cloud. Dan Ericsson memandang ke depannya evolusi teknologi akan terus berjalan, karena permintaan terhadap layanan ICT juga akan semakin banyak.

Ericsson mengembangkan teknologi dan solusi akses data di Unlisenced Spectrum, bisa dijelaskan?
Dengan jumlah perangkat dan penggunanya yang terus bertambah, mengkonsumsi data juga makin banyak. Di Indonesia saja kenaikan trafik data mencapai 150% per tahun. Pengguna di Indonesia mengenal internet dari smartphne. Berbeda dengan di amerika yang mengenal internet dari TV atau laptop, yaitu melalui layanan jaringan fixed internet. Di Indonesia mengapa booming internet cenderung via smartphone, karena smartphone berharga lebih murah. Dan kini luar biasa pertumbuhannya.

Di satu sisi, frekuensi menjadi sumber daya yang terbatas. Melihat keterbatasan ketersediaan frekuensi, Ericsson akhirnya melakukan riset, bisa tidak operator menambah kapasitas menggunakan unlicensed frequency? Yaitu frekuensi gratis yang bisa dipakai siapa saja, contohnya Wifi. Ini juga karena melihat banyaknya pengguna yang mengkonsumsi akses data saat berada di indoor. Jadi tantangannya bagaimana bisa menambah coverage dan kapasitas di indoor, namun melalui unlicensed frequency. Itu yang menjadi latar belakangnya.

Seperti apa persaingan antar vendor jaringan di Indonesia?
Persaingan harus ada, karena persaingan yang membuat tumbuh. Kompetisi tidak bisa dihentikan. Karena kompetisi itu juga bagus, karena bisa saling membandingkan dan saling memacu. Ericsson sendiri terus berusaha meningkatkan performance kami. Terus bekerjasama dengan operator dan memastikan bahwa operator sukses. Karena pada akhirnya yang menentukan kesuksesan vendor jaringan adalah operator yang merupakan kliennya.

Apa yang membuat Ericsson mampu bertahan di persaingan yang  semakin ketat?
Di Ericsson sendiri, kami memiliki value dan culture yang sudah mengakar. Hal itu sudah diapresiasi oleh operator seluruh dunia. Dan itu pun dijadikan salah satu pertimbangan pada saat operator menentukan pilihannya. Itu penting, karena kita berbicara partnership, bukan jual beli yang bisa putus. Dalam partnership itu harus ada kepercayaan, karena ini berbicara jangka panjang. Ini juga masalah investasi, di mana operator harus yakin investasinya bisa menghasilkan revenue dan berkesinambungan. Operator harus yakin dengan partner.

Jadi Ericsson menyeimbangkan antara teknologi dan kepercayaan. Teknologi adalah pondasinya, tapi Ericsson juga mengedepankan sebagai partener. Sehingga perlu ada niatan dan culture yang baik. Ericsson tidak hanya jualan teknologi,tapi juga sharing pengetahuan. Dan Ericsson memiliki keuntungan, yaitu sudah lama mengenal pasar indonesia. Secara global pun Ericsson sudah hadir di lebih dari 180 negara.

Hardyana Syintawati-1Seberapa besar Ericsson menguasai pangsa pasar layanan solusi jaringan?
Berbicara mengenai pangsa pasar, bisa berbeda-beda perspektifnya. Ada yang mengaku menguasai pasar karena memiliki number of contract yang banyak. Tapi itu bisa saja hanya kontrak dengan operator-operator kecil di negara kecil. Ericsson sendiri sudah menjalin kerjasama kontrak dengan operator-operator besar, dengan nilai kontrak yang juga besar. Misalnya dengan Telkomsel, Indosat, XL di Indonesia, lalu Telstra di Australia, juga dengan AT&T, Verizon dan T-Mobile di Amerika, dan lainnya. Selain itu jumlah pengguna yang dilayani oleh jaringan Ericsson juga besar, termasuk trafik akses data juga terus meningkat.

Artikel Terbaru