Selular.ID -

Data Center BDx Jatiluhur Disorot, Pengamat: Jangan Korbankan Air dan Energi

BACA JUGA

SELULAR.ID – Penghentian pembangunan data center BDx di Jatiluhur, Purwakarta, menjadi sorotan di tengah pesatnya kebutuhan infrastruktur digital Indonesia.

Di satu sisi, ekspansi data center dibutuhkan untuk menopang pertumbuhan ekonomi digital.

Namun di sisi lain, pembangunan dan operasionalnya membutuhkan sumber daya energi dan air dalam jumlah besar.

Direktur Ekonomi Digital Celios, Nailul Huda, menilai kebutuhan data center di Indonesia akan terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah pengguna internet dan semakin beragamnya platform digital yang digunakan masyarakat.

Baca juga:

“Potensi ekonomi digital Indonesia sangat besar dengan jumlah pengguna internet yang masif. Pengguna internet ini semakin tahun semakin tumbuh pesat,” ujar Nailul Huda.

Menurutnya, pertumbuhan pengguna internet secara langsung mendorong kebutuhan terhadap pusat penyimpanan dan pemrosesan data.

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

Kondisi tersebut membuat pembangunan data center diperkirakan semakin masif dalam beberapa tahun ke depan. Namun, ada persoalan besar yang perlu diperhatikan.

Nailul mengingatkan, semakin banyak data center berarti semakin besar pula kebutuhan energi, terutama listrik dan air untuk sistem pendingin.

Karena itu, pembangunan infrastruktur digital tidak cukup hanya dilihat dari sisi investasi dan kapasitas teknologi.

“Masalahnya, kebutuhan data center yang semakin meningkat membutuhkan energi yang signifikan juga. Terutama untuk kebutuhan air sebagai sumber pendingin dan juga energi sebagai sumber listrik,” jelasnya.

Data Center Harus Ramah Lingkungan

Dalam konteks penghentian pembangunan data center BDx di Jatiluhur, Nailul menilai aspek lingkungan harus menjadi bagian penting dalam pengembangan infrastruktur digital.

Ia menekankan pentingnya memastikan sumber air yang digunakan data center tidak mengganggu ekosistem di sekitarnya.

“Energi air misalkan harus diperhatikan sumbernya dari mana sehingga tidak mengganggu ekosistem yang sudah ada,” tegas Nailul.

Hal serupa berlaku untuk kebutuhan listrik. Menurutnya, ekspansi data center seharusnya dibarengi dengan penggunaan energi baru terbarukan (EBT) sehingga pertumbuhan ekonomi digital tidak menghasilkan persoalan lingkungan baru.

Jangan Sampai Digitalisasi Mengorbankan Ekosistem

Kasus BDx di Jatiluhur menjadi momentum untuk melihat kembali bagaimana pembangunan data center seharusnya dilakukan.

Pertumbuhan ekonomi digital memang membutuhkan infrastruktur yang kuat, tetapi pembangunan tersebut tetap harus memperhatikan daya dukung lingkungan.

“Keduanya harus berjalan seimbang agar pembangunan data center tidak mengganggu ekosistem yang ada,” kata Nailul.

Dengan kebutuhan komputasi yang terus meningkat, termasuk akibat perkembangan AI, cloud computing, dan berbagai layanan digital, kebutuhan data center dipastikan semakin besar.

Tantangannya kini bukan lagi sekadar seberapa cepat data center dibangun, tetapi seberapa berkelanjutan infrastruktur tersebut dapat beroperasi.

Penghentian pembangunan data center BDx di Jatiluhur pun menjadi pengingat bahwa ambisi mempercepat ekonomi digital perlu berjalan beriringan dengan kepatuhan lingkungan dan pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan.

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU