Subang, Selular.ID – Produsen kendaraan listrik BYD mulai merealisasikan komitmen investasinya di Indonesia dengan mengoperasikan fasilitas manufaktur lokal. Seiring beroperasinya pabrik tersebut, BYD secara tegas menghentikan seluruh aktivitas impor utuh (Completely Built Up/CBU) dan mengalihkan fokus pada perakitan lokal (Completely Knocked Down/CKD).
Langkah ini diambil untuk memenuhi komitmen kompensasi investasi serta target rasio Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang ditetapkan pemerintah. Total nilai investasi ekosistem manufaktur BYD di tanah air kini tercatat mencapai Rp16 triliun.
Hentikan Impor CBU dan Nasib Model yang Ada
Ketika dikonfirmasi mengenai skema impor untuk model-model tertentu ke depannya, Head of Public & Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, menegaskan bahwa perusahaan tidak lagi mendatangkan unit CBU dari luar negeri.
“Sudah enggak sama sekali,” tegas Luther saat ditanya mengenai kemungkinan impor model tertentu setelah pabrik beroperasi.
Keputusan penghentian impor ini lantas menimbulkan pertanyaan mengenai nasib jajaran lini produk BYD yang sebelumnya didatangkan secara utuh dan tengah dipasarkan saat ini, seperti Atto 3, Seal, hingga Dolphin.
Menanggapi hal tersebut, Luther menjelaskan bahwa pasokan unit yang beredar di pasar saat ini merupakan sisa stok suplai impor sebelumnya yang unitnya sudah sangat terbatas.
Ke depannya, penjualan akan dialihkan sepenuhnya pada unit hasil rakitan dalam negeri seiring berjalannya proses transisi.
Daftar Model yang Diproduksi Lokal
Penentuan model yang dirakit di fasilitas manufaktur lokal ini diprioritaskan pada lini produk yang mengantongi volume permintaan pasar tertinggi.
Adapun model-model yang dikonfirmasi masuk dalam lini produksi lokal saat ini meliputi:
1. BYD Atto 1
2. BYD M6 (Tersedia dalam varian EV dan PHEV)
3. Denza (Merek sub-brand premium dari BYD)
“Kami secara perlahan mulai merakit produk-produk secara domestik, khususnya yang menyumbang volume signifikan seperti Atto 3 dan M6. Di finishing line, kami juga melokalisasi Denza,” tambah Luther.
Fasilitas pabrik BYD ini dirancang memiliki kapasitas produksi terpasang hingga 150.000 unit per tahun, dengan kemampuan produksi saat ini mencapai kisaran 10.000 unit per bulan.
Selain perakitan unit kendaraan, BYD juga bersiap melokalisasi komponen utama seperti baterai guna mendongkrak capaian persentase TKDN di Indonesia.
Baca juga: Subang Jadi Markas Baru BYD! Pabrik Raksasa Siap Cetak 150.000 Mobil per Tahun


