Selular.id – Harga DRAM dan NAND Flash untuk smartphone melonjak tajam sepanjang 2026. Estimasi terbaru menyebut biaya kombinasi 12GB RAM dan 256GB penyimpanan kini mencapai sekitar US$310 atau sekitar Rp5 juta, bahkan lebih mahal dibandingkan sejumlah chipset smartphone kelas premium.
Angka tersebut berasal dari Digital Chat Station yang dikutip Wccftech. Berdasarkan estimasi itu, kombinasi 12GB RAM dan 256GB NAND Flash sebelumnya berada di kisaran US$70. Kini harganya mencapai sekitar 2.200 yuan atau US$310, atau meningkat lebih dari empat kali lipat dalam setahun.
Sebagai perbandingan, biaya sejumlah chipset smartphone flagship diperkirakan berada di kisaran US$280. Artinya, biaya RAM dan storage pada konfigurasi tersebut kini berpotensi melampaui biaya chipset utama perangkat.
AI Dorong Harga Memori
Lonjakan harga terjadi ketika permintaan DRAM dan NAND Flash meningkat, terutama dari pusat data yang menjalankan kecerdasan buatan (AI).
Produsen memori seperti Samsung, SK hynix, dan Micron mengalokasikan kapasitas produksi lebih besar untuk kebutuhan server dan AI. Produk seperti High Bandwidth Memory (HBM) memiliki nilai lebih tinggi, sehingga kapasitas produksi untuk memori konsumen ikut tertekan.
Counterpoint Research mencatat harga memori smartphone meningkat lebih dari 80 persen secara kuartalan pada kuartal II 2026. Kenaikan tersebut bahkan membuat DRAM menjadi komponen tunggal dengan biaya tertinggi dalam struktur Bill of Materials (BoM) sejumlah smartphone.
BoM merupakan perkiraan biaya komponen perangkat dan belum mencakup biaya riset, pemasaran, distribusi, serta keuntungan produsen.
Smartphone Murah Ikut Tertekan
Dampak kenaikan memori juga terasa pada perangkat kelas menengah dan bawah. Counterpoint mencatat biaya komponen smartphone kelas bawah meningkat sekitar 70 persen secara tahunan pada kuartal II 2026, dengan memori menjadi pendorong utama.
Kondisi ini membuat produsen memiliki pilihan terbatas. Mereka dapat menyerap kenaikan biaya dan menerima margin lebih kecil, menaikkan harga jual, atau mengurangi kapasitas RAM dan storage.
Tekanan tersebut semakin terasa pada perangkat dengan kapasitas besar. Smartphone dengan RAM 12GB atau 16GB dan storage 512GB hingga 1TB membutuhkan komponen memori lebih banyak, sehingga biaya produksinya ikut terdampak.
Harga Smartphone Berpotensi Naik
TrendForce sebelumnya memperkirakan harga DRAM konvensional masih meningkat 13–18 persen secara kuartalan pada kuartal III 2026. Harga NAND Flash juga diproyeksikan naik 10–15 persen.
Tekanan harga tersebut berpotensi membuat produsen melakukan penyesuaian portofolio smartphone. Model entry-level dengan margin tipis menjadi salah satu segmen yang paling rentan terhadap kenaikan biaya.
Sementara itu, permintaan memori dari infrastruktur AI masih terus berkembang. Jika pertumbuhan kebutuhan pusat data tetap lebih cepat dibandingkan penambahan kapasitas produksi, harga DRAM dan NAND Flash berpotensi tetap tinggi.
Bagi konsumen, kondisi tersebut dapat berarti harga smartphone dengan RAM dan storage besar semakin mahal. Di sisi produsen, kapasitas memori kini menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menentukan harga dan konfigurasi perangkat.
Baca juga: Samsung, Apple dan Huawei yang Bisa Bersaing Jadi Raja Handphone di Tengah Krisis Memori


