Selular.ID -

Xiaomi Hadapi Penurunan Penjualan Smartphone pada Q2 2026

BACA JUGA

Selular.ID – Xiaomi menghadapi tekanan pada bisnis smartphone sepanjang kuartal II 2026, ketika pengiriman perangkat turun sekitar 26% secara tahunan di tengah kenaikan harga komponen, terutama memori.

Dalam laporan kinerja yang diumumkan 18 Agustus 2026, Xiaomi mencatat pendapatan bisnis smartphone turun 7,5% menjadi sekitar RMB42,1 miliar, sementara strategi menggeser penjualan ke model dengan harga lebih tinggi mendorong average selling price (ASP) naik sekitar 26%.

Kondisi tersebut menunjukkan perubahan penting dalam bisnis smartphone Xiaomi. Jumlah perangkat yang terjual menurun cukup tajam, tetapi nilai rata-rata setiap perangkat meningkat karena perubahan bauran produk menuju model dengan harga lebih tinggi.

Tren ini berlangsung ketika industri smartphone global juga menghadapi tekanan dari kenaikan biaya memori dan komponen.

Xiaomi sebelumnya sudah menjalankan strategi premiumisasi. Pada kuartal I 2026, perusahaan mencatat ASP smartphone sebesar RMB1.310, naik 8,2% secara tahunan dan menjadi rekor baru bagi Xiaomi.

Pada periode yang sama, smartphone premium menyumbang 23,5% dari unit yang terjual di China.

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

Pengiriman smartphone Xiaomi turun 26%

Data Omdia menunjukkan Xiaomi mengirimkan 31,2 juta smartphone secara global pada kuartal II 2026. Angka tersebut turun 26% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sekaligus membuat Xiaomi tetap berada di posisi ketiga pasar smartphone global. Pangsa pasarnya berada di sekitar 11%.

Penurunan Xiaomi terjadi ketika pasar smartphone global secara keseluruhan juga mengalami kontraksi. Omdia mencatat pengiriman smartphone global turun 6% secara tahunan pada kuartal II 2026.

Xiaomi menjadi salah satu produsen besar yang paling terdampak karena lebih dari separuh pengirimannya masih berada di bawah harga US$200, segmen yang sangat sensitif terhadap kenaikan biaya memori.

Counterpoint Research memberikan gambaran serupa. Menurut perusahaan riset tersebut, pengiriman smartphone global turun 11% secara tahunan pada kuartal II 2026.

Xiaomi, OPPO, dan vivo mengalami penurunan pengiriman dua digit karena kenaikan harga memori memberikan tekanan lebih besar pada perangkat entry-level dan mid-range.

Situasi ini juga terlihat di China. Berdasarkan data IDC yang dikutip Reuters, pengiriman smartphone di pasar China turun 4,3% secara tahunan menjadi 66 juta unit pada kuartal II 2026.

Pengiriman Xiaomi bahkan turun 21,7% pada periode tersebut. Kenaikan harga memori dan komponen membuat sejumlah produsen Android menaikkan harga atau mengurangi produksi model dengan harga lebih rendah.

Harga rata-rata naik saat volume turun

Di tengah penurunan volume, Xiaomi justru mencatat kenaikan ASP smartphone sekitar 26% pada kuartal II. Kenaikan tersebut berkaitan dengan perubahan bauran produk, termasuk kontribusi yang lebih besar dari perangkat dengan harga lebih tinggi.

Strategi ini melanjutkan arah premiumisasi yang sudah dijalankan Xiaomi sejak sebelumnya. Pada kuartal I, perusahaan menyatakan akan terus memperbaiki sales mix atau komposisi penjualan dengan meningkatkan kontribusi produk premium. Xiaomi juga memperluas portofolio kelas atas melalui berbagai model flagship.

Namun, kenaikan ASP belum mampu mengimbangi penurunan volume. Pendapatan bisnis smartphone Xiaomi pada kuartal II turun 7,5% menjadi sekitar RMB42,1 miliar. Tekanan biaya juga berdampak terhadap profitabilitas bisnis tersebut.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kenaikan harga jual rata-rata tidak otomatis menghasilkan pertumbuhan pendapatan ketika jumlah perangkat yang terjual mengalami penurunan besar.

Kenaikan biaya memori menjadi tekanan utama

Salah satu faktor penting di balik perubahan pasar smartphone pada 2026 adalah kenaikan harga memori. DRAM dan NAND merupakan komponen yang digunakan untuk mendukung kapasitas RAM dan penyimpanan pada smartphone.

Ketika biaya kedua komponen tersebut meningkat, produsen harus memilih antara menaikkan harga, mengurangi margin, mengubah konfigurasi perangkat, atau mengatur kembali portofolio.

Counterpoint Research menyebut kelangkaan memori menjadi salah satu faktor utama yang menekan pasar smartphone pada kuartal II 2026. Pengiriman global turun ke level kuartal II terendah sejak 2013 menurut data perusahaan riset tersebut.

Tekanan tersebut lebih terasa pada produsen yang memiliki eksposur besar terhadap segmen entry-level dan mid-range.

Konsumen di segmen tersebut lebih sensitif terhadap perubahan harga, sehingga kenaikan biaya komponen dapat berpengaruh langsung terhadap keputusan pembelian.

Omdia juga mencatat Xiaomi menjadi vendor yang paling terekspos terhadap inflasi biaya memori di antara lima besar produsen smartphone global.

Kondisi itu berkaitan dengan tingginya porsi pengiriman perangkat Xiaomi di bawah US$200, terutama di pasar berkembang Asia Pasifik dan Amerika Latin.

Pasar smartphone global bergerak ke perangkat premium

Di sisi lain, kenaikan harga rata-rata smartphone bukan hanya terjadi pada Xiaomi. Counterpoint Research mencatat pendapatan pasar smartphone global justru naik 7% secara tahunan pada kuartal II 2026 menjadi US$109 miliar, meski pengiriman unit menurun.

ASP global meningkat 17% menjadi sekitar US$400. Counterpoint mengaitkan pertumbuhan tersebut dengan kenaikan harga dari sejumlah produsen serta meningkatnya kontribusi perangkat premium.

Perubahan tersebut memperlihatkan adanya jarak antara pertumbuhan volume dan nilai pasar. Ketika jumlah perangkat yang dikirim menurun, pendapatan industri masih dapat tumbuh apabila konsumen membeli perangkat dengan harga lebih tinggi atau produsen menaikkan harga untuk mengimbangi biaya komponen.

Xiaomi juga sudah meningkatkan kontribusi smartphone premium di China. Dalam laporan kuartal I 2026, perusahaan menyebut perangkat premium dengan harga ritel minimal RMB3.000 menyumbang 23,5% dari total unit smartphone Xiaomi yang terjual di China.

Xiaomi tidak hanya mengandalkan smartphone

Tekanan pada bisnis smartphone terjadi ketika Xiaomi juga memperbesar kontribusi bisnis baru. Perusahaan kini memiliki bisnis kendaraan listrik, serta AI dan berbagai inisiatif baru di luar bisnis smartphone dan perangkat IoT.

Pada kuartal II 2026, pendapatan kendaraan listrik Xiaomi mencapai sekitar RMB23,9 miliar, naik 15,9% secara tahunan. Pengiriman kendaraan mencapai 104.199 unit, meningkat 28,2% dibandingkan tahun sebelumnya.

Bisnis EV, AI, dan inisiatif baru tersebut secara gabungan menyumbang sekitar 23% dari total pendapatan Xiaomi pada kuartal tersebut.

Meski tumbuh, bisnis baru tersebut masih membutuhkan investasi besar. Xiaomi mencatat segmen EV, AI, dan inisiatif baru mengalami kerugian sekitar RMB2,6 miliar pada kuartal II 2026.

Pada tingkat grup, Xiaomi membukukan pendapatan sekitar RMB108,9 miliar pada kuartal II, turun 6,1% secara tahunan. Laba bersih yang disesuaikan juga turun 42,6% menjadi sekitar RMB6,2 miliar, terutama akibat tekanan biaya komponen dan memori.

Untuk bisnis smartphone, Xiaomi kini menghadapi dua kebutuhan sekaligus: menjaga volume di tengah tekanan biaya dan mempertahankan strategi premiumisasi untuk meningkatkan nilai penjualan.

Data kuartal II 2026 menunjukkan arah tersebut berjalan bersamaan, dengan ASP meningkat tetapi pengiriman dan pendapatan smartphone tetap turun.

Sementara itu, perkembangan pasar global menunjukkan bahwa tekanan biaya memori diperkirakan masih membentuk dinamika industri sepanjang 2026.

Counterpoint Research memperkirakan pengiriman smartphone global untuk keseluruhan 2026 dapat turun sekitar 14%, dengan kondisi pasokan memori yang masih menjadi faktor penting bagi industri.

Bagi Xiaomi, hasil kuartal II menjadi gambaran terbaru mengenai dampak perubahan biaya komponen terhadap strategi portofolio smartphone.

Perusahaan tetap berada di tiga besar pasar global menurut Omdia, tetapi pertumbuhan nilai perangkat kini menjadi semakin penting ketika volume pengiriman menghadapi tekanan.

Baca Juga: Xiaomi HyperOS 4 Tampil dengan Antarmuka Glass

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU