Selular.ID – Tak berlebihan di era digital saat ini, produsen-produsen manufaktur China semakin merajelela. Padahal satu hingga dua dekade lalu, mereka masih dianggap sebelah mata.
Tengok saja, setelah smartphone, consumer electronics, dan otomotif (khususnya mobil listrik), perangkat action camera juga sepenuhnya di bawah merek-merek China.
Meningkatnya permintaan akan perangkat pencitraan berukuran saku telah memungkinkan DJI dan Insta360 untuk memperkuat cengkeraman mereka di pasar kamera pintar global.
Tak tanggung-tanggung, kedua merek asal China ini menguasai hampir 90% dari total pengiriman, menggeser GoPro.
Padahal brand asal AS ini merupakan pelopor. Selama selama bertahun-tahun GoPro terbilang dominan menguasai pasar action camera.
Berdasarkan laporan IDC, pengiriman kamera pintar genggam di seluruh dunia – yang didefinisikan oleh firma riset terkemuka itu, sebagai perangkat portabel kelas konsumen dengan komputasi terintegrasi, stabilisasi, dan resolusi 2K atau lebih tinggi – mencapai 4,14 juta unit pada kuartal pertama.
Penjualan pada kuartal tersebut meningkat 20% dibandingkan tahun sebelumnya menjadi lebih dari 10,5 miliar yuan (US$1,46 miliar), ungkap IDC.
Sektor ini mencakup berbagai perangkat, mulai dari kamera aksi seperti seri Hero GoPro hingga gimbal saku seperti lini Pocket DJI dan kamera panorama seperti seri X Insta360.
Menurut laporan IDC, didorong oleh permintaan konsumen yang beragam ini, pengiriman tahunan global diperkirakan akan melampaui 40 juta unit pada 2030, yang mewakili tingkat pertumbuhan tahunan gabungan hampir 18% selama lima tahun ke depan.
Preferensi konsumen global sebagian besar condong ke dua merek China, yang memegang pangsa pasar gabungan sebesar 87% pada kuartal pertama.
DJI tetap menjadi pemimpin global, menguasai 65% pangsa pasar dengan 2,7 juta unit yang dikirim selama kuartal tersebut, meningkat 38% dari tahun sebelumnya.
Meski berstatus sebagai challenger, Insta360, dengan pangsa pasar 22%, mencatatkan pertumbuhan terkuat di antara vendor utama dengan lonjakan pengiriman sebesar 66%dari tahun ke tahun menjadi 900.000 unit pada periode tersebut. Jumlah itu hampir dua kali lipat tingkat pertumbuhan DJI.
Di sisi lain, terpukul oleh meningkatnya biaya rantai pasokan dan persaingan yang ketat, GoPro justru mengalami penurunan pengiriman sebesar 33% dari tahun ke tahun menjadi sekitar 300.000 unit. Jumlah itu hanya menyumbang 6% dari pasar.
Parahnya, melonjaknya biaya memori mendorong sang pionir itu di ambang kebangkrutan.
Perusahaan yang didirikan oleh Nicholas Woodman ini, telah memperingatkan adanya risiko terhadap kemampuannya untuk terus beroperasi dan sedang mencari pendanaan guna menghindari gagal bayar, menurut laporan terbaru.
Pada awal Juni lalu, GoPro yang berbasis di San Mateo, California, melaporkan penurunan pendapatan sebesar 26% pada kuartal pertama.
GoPro sebelumnya telah membahas beberapa alasan di balik kesulitan yang dihadapi.
Pada Mei sebelumnya, perusahaan menyatakan bahwa proyeksi laba mereka telah “terpengaruh secara signifikan” oleh peristiwa seperti kenaikan harga memori sebesar 80% hingga 115%.
Krisis bisnis ini merupakan salah satu dampak samping dari booming AI global, yang telah meningkatkan permintaan akan memori dan mendorong harga menjadi lebih tinggi.
Perusahaan telah melibatkan penasihat untuk mengevaluasi alternatif strategis, termasuk potensi penjualan atau merger bisnis, seperti yang diungkapkan sebelumnya.
Untuk bisa bertahan, GoPro selanjutnya sedang menjajaki peluang di sektor pertahanan dan dirgantara untuk “pasar dan kategori produk baru”.
Program efisiensi juga digencarkan oleh GoPro. Perusahaan sudah berencana memangkas staf globalnya sekitar 23%, seperti yang diungkapkan dalam pernyataan resmi perusahaan pada April lalu.
Saat ini GoPro memiliki fasilitas pinjaman kedua senilai $50 juta dari Farallon Capital Management. GoPro juga memiliki fasilitas kredit bergulir, yang agennya adalah Wells Fargo Bank.
Baca Juga: GoPro Diambang Kebangkrutan, Masalah Ini Makin Kritis
Merek China Kuasai Rantai Pasok
Di tengah ketepurukan yang dialami GoPro, merek-merek China justru tengah “berpesta-ria”. IDC mencatat bahwa para produsen negeri Tirai Bambu memiliki keunggulan besar dalam teknologi konsumen karena rantai pasokan lokal mereka yang terintegrasi.
Ekosistem DJI, misalnya, “memastikan ketahanan biaya yang kuat dan kemampuan kustomisasi untuk komponen hulu inti”.
Kamera aksi tetap menjadi kategori terbesar di industri kamera genggam, dengan pengiriman global meningkat 39 persen dari tahun ke tahun menjadi hampir 2,01 juta unit pada kuartal pertama.
Di segmen paling seksi itu, DJI menguasai lebih dari 53% kategori tersebut, sementara Insta360 menguasai lebih dari 24%.
Pertumbuhan segmen aksi didukung oleh meningkatnya permintaan untuk produk unggulan DJI dan Insta360 serta penurunan harga pada model generasi sebelumnya.
Di sisi lain, segmen kamera panorama juga mencatat momentum yang kuat, dengan pengiriman melebihi 500.000 unit, naik lebih dari 55% dari tahun sebelumnya.
Insta360 mempertahankan keunggulan dominannya dengan lebih dari 68% pasar meskipun dua pesaing terdekatnya, DJI dan GoPro, berusaha mencuri pasar.
IDC menambahkan, sejauh ini China tetap menjadi pasar terbesar di dunia untuk kamera pintar genggam, menyumbang lebih dari setengah pengiriman global sepanjang 2025.
Di luar China, AS, Eropa Barat, Asia-Pasifik, dan Jepang adalah empat pasar teratas.
Sekarang, bagaimana dengan Indonesia?
Pasar action camera di Indonesia ternyata juga terus tumbuh positif seiring tingginya minat traveling, olahraga ekstrem, dan pembuatan konten kreatif.
Didominasi oleh merek-merek papan atas seperti DJI, GoPro, dan Insta360, kisaran harga perangkat ini sangat bervariasi antara Rp 4 juta hingga Rp 10 jutaan tergantung pada fitur dan serinya.
Ada juga merek lain yang ikut meramaikan pasar, seperti Akaso. Namun brand ini belum menjadi top of mind di kalangan pengguna.
Meski demikian, di tengah ‘boncosnya’ GoPro karena menurunnya pendapatan, Akaso berpeluang menjadi pemain yang juga diperhitungkan.
Dari sisi pemanfaatan, konsumen Indonesia banyak menggunakan perangkat ini untuk aktivitas seperti running, live streaming, membuat vlog perjalanan, hingga dokumentasi berkendara.
Meskipun merek premium menguasai pasar, produk dengan rasio price-to-performance tinggi atau paket bundel lengkap dengan harga bersahabat sangat cepat diserap oleh pasar.
Saat ini pembelian perangkat kamera aksi juga mulai bergeser. Kanal daring (e-commerce) mulai diminati oleh calon konsumen, mmelengkapi gerai ritel fisik yang jumlahnya juga terus bertambah, seperti Erafone atau Urban Republic yang dikelola Erajaya Group.
Tren itu menunjukkan, pasar action camera di Indonesia terbilang sangat prospektif. Wajar jika merek-merek global, terutama China yang telah menjadi raja di segmen ini, semakin agresif menggarap pasar domestik.
Baca Juga: GoPro Mission 1 Series Usung Sensor 1 Inci 50MP




