Selular.ID -

Ancaman Siber Indonesia Mirip di Negara Maju, Tetapi Ada Perbedaannya

BACA JUGA

Selular.ID – Ancaman siber yang dihadapi pengguna internet di Indonesia dinilai tidak jauh berbeda dengan negara-negara yang memiliki ekosistem digital lebih matang seperti Jepang, Singapura dan Korea Selatan.

Perbedaannya lebih banyak terletak pada bagaimana pelaku kejahatan siber mengemas dan menjalankan serangannya sesuai dengan karakteristik pasar yang dibidik.

Hal tersebut disampaikan Choon Hong Chee, Head of Consumer Channel for APAC Kaspersky, saat membahas perkembangan ancaman digital dan penggunaan AI dalam serangan siber di kawasan Asia Pasifik.

Menurut Chee, secara fundamental teknik serangan yang digunakan pelaku memiliki pola yang serupa.

Baca juga:

Namun, brand, platform, isu yang sedang populer, hingga konteks lokal yang digunakan sebagai umpan dapat berbeda antara satu negara dengan negara lainnya.

“Saya rasa jenis ancamannya serupa, tetapi mungkin hadir dalam bentuk yang berbeda,” ujar Chee.

Tonton juga:
Video Rekomendasi Untuk Anda

Ia mencontohkan serangan phishing. Di Jepang, pelaku dapat memanfaatkan nama atau merek yang populer di negara tersebut sebagai kedok. Sementara di Indonesia, pelaku akan memilih merek yang memiliki basis pengguna besar dan dikenal luas masyarakat lokal.

“Pendekatannya sebenarnya sangat mirip,” katanya.

Teknik Sama, Kemasan Berbeda

Chee menjelaskan, pelaku kejahatan siber pada dasarnya akan mencari layanan, merek, atau isu yang paling dekat dengan kehidupan masyarakat di negara yang menjadi sasaran.

Karena itu, sebuah kampanye phishing yang efektif di Jepang belum tentu menggunakan nama dan konteks yang sama ketika dibawa ke Indonesia.

“Tekniknya sama, tetapi implementasinya berbeda,” ujar Chee.

Misalnya, pelaku dapat menggunakan nama bank tertentu untuk mengirimkan pesan palsu.

Di kesempatan lain, mereka dapat memanfaatkan layanan dompet digital seperti DANA atau platform e-commerce dan perjalanan seperti Booking.com.

Dengan memanfaatkan layanan yang memang digunakan sehari-hari oleh calon korban, pesan palsu tersebut akan terlihat lebih masuk akal.

Menurut Chee, kondisi ini juga terjadi di Singapura.

“Kami juga masih menemukan hal-hal seperti ini. Hanya saja bentuknya berbeda,” tuturnya.

Artinya, perkembangan ancaman siber di Indonesia tidak selalu menunjukkan bahwa teknik kejahatan yang digunakan lebih canggih dibandingkan negara maju.

Pelaku hanya menyesuaikan “bungkus” serangan agar sesuai dengan kebiasaan dan ekosistem digital masyarakat setempat.

Ancaman Mobile Makin Menonjol

Meski teknik dasarnya serupa, Chee melihat adanya perubahan penting dalam lanskap ancaman di Asia Tenggara dan Asia.

Jika sebelumnya banyak tren ancaman siber berkembang terlebih dahulu di pasar yang lebih matang, kini ancaman yang menyasar perangkat mobile semakin banyak muncul di kawasan Asia.

“Namun sekarang saya melihat semakin banyak ancaman yang berhubungan dengan mobile datang ke kawasan Asia Tenggara dan Asia,” ujarnya.

Menurut Chee, peningkatan tersebut tidak terlepas dari tingginya ketergantungan masyarakat terhadap smartphone.

Bagi sebagian besar pengguna di negara berkembang, smartphone bukan lagi sekadar alat komunikasi. Perangkat tersebut telah menjadi pintu masuk ke berbagai layanan penting dalam kehidupan sehari-hari.

“Bahkan bagi saya sendiri, ini adalah bank saya, ini dompet saya, ini tempat saya berbelanja, membeli kebutuhan sehari-hari, mengakses layanan pemerintah. Semuanya ada di sini,” kata Chee.

Kondisi tersebut menciptakan peluang besar bagi pelaku kejahatan siber.

Semakin banyak masyarakat yang terhubung melalui perangkat mobile, semakin besar pula basis calon korban yang dapat dijangkau.

“Kalau saya seorang penjahat siber, saya selalu ingin menargetkan peluang yang besar, di mana saya bisa menjangkau lebih banyak orang,” jelasnya.

Pola pikir tersebut, menurut Chee, turut mendorong pergeseran ancaman menuju perangkat mobile.

Indonesia Bisa Menjadi Target Menarik

Dengan jumlah pengguna digital yang besar dan ketergantungan tinggi terhadap perangkat mobile, Indonesia menjadi salah satu pasar yang menarik bagi pelaku kejahatan siber.

Chee bahkan menyebut negara seperti Indonesia berpotensi menjadi semacam tempat pengujian bagi berbagai jenis ancaman baru.

“Karena saya selalu mengatakan bahwa negara seperti Indonesia bisa menjadi semacam tempat pengujian untuk jenis ancaman baru,” ujarnya.

Meski demikian, Chee tidak secara tegas menyebut Indonesia sebagai tempat pengujian utama serangan siber. Menurutnya, perkembangan ancaman lebih tepat dilihat sebagai proses yang terus berevolusi.

Ketika sebuah metode serangan berhasil, pelaku akan mengembangkan variasi lain. Selanjutnya, pola tersebut dapat muncul di berbagai negara dengan penyesuaian tertentu.

Hal ini terlihat jelas dalam perkembangan phishing.

Menurut Chee, teknik phishing sebenarnya sudah berlangsung sangat lama. Yang berubah adalah platform dan konteks yang digunakan.

Dulu serangan banyak dilakukan melalui email. Seiring meningkatnya penggunaan WhatsApp dan media sosial, teknik yang sama kemudian diterapkan melalui platform-platform tersebut.

Penjahat Siber Mengikuti Tren

Salah satu alasan phishing masih efektif adalah kemampuan pelaku memanfaatkan isu yang sedang ramai diperbincangkan masyarakat.

Chee mengatakan penjahat siber semakin pintar mengikuti perkembangan zaman. Mereka mengamati apa yang sedang populer dan kemudian menggunakannya sebagai bahan kampanye.

“Mereka semakin mengikuti perkembangan zaman. Apa yang sedang populer di pasar saat ini? Mereka akan mencoba memanfaatkan hal tersebut dan merancang sebuah kampanye untuk menargetkan pengguna akhir,” jelasnya.

Misalnya ketika memasuki musim pelaporan pajak, pelaku dapat mengirimkan pesan yang mengatasnamakan institusi terkait dan meminta korban melakukan tindakan tertentu melalui tautan yang diberikan.

Pesan tersebut dapat berbunyi seolah-olah korban memiliki kewajiban pajak yang harus segera diselesaikan atau perlu melakukan pembaruan data.

Karena konteksnya sesuai dengan kondisi yang sedang berlangsung, pengguna memiliki peluang lebih besar untuk mempercayainya.

Memanfaatkan Kepercayaan terhadap Brand

Strategi lain yang digunakan pelaku adalah memanfaatkan hubungan pengguna dengan merek tertentu.

Chee mencontohkan seorang pengguna Indosat yang menerima pesan yang mengatasnamakan Indosat. Karena penerima memang merupakan pelanggan operator tersebut, kewaspadaan bisa menurun.

“Anda berpikir, ‘Saya memang pelanggan mereka. Mereka mengirim sesuatu kepada saya.’ Jadi tingkat kewaspadaan Anda bisa menjadi lebih rendah,” ujarnya.

Hal inilah yang membuat serangan phishing tidak selalu mudah dikenali hanya berdasarkan nama pengirim atau tampilan pesan.

Pelaku dapat menggunakan logo, bahasa, format komunikasi, hingga konteks layanan yang dibuat menyerupai komunikasi resmi.

Jangan Klik Link, Buka Situs Resmi

Untuk menghindari jebakan phishing, Chee menyarankan pengguna tidak langsung mengklik tautan yang terdapat dalam email atau pesan ketika diminta melakukan tindakan penting.

Menurut dia, pengguna sebaiknya berhenti sejenak dan memeriksa kembali informasi tersebut.

“Saya selalu mengatakan kepada orang-orang, kalau Anda melihat sesuatu di email atau apa pun, dan ada sebuah link yang meminta Anda mengklik, Anda harus berhenti dan berpikir,” kata Chee.

Langkah yang lebih aman adalah membuka situs resmi perusahaan secara langsung melalui browser atau aplikasi resmi, kemudian melakukan pengecekan dari sana.

“Saran saya selalu: buka situs resmi secara langsung untuk memeriksanya, login dari sana, atau apa pun yang diperlukan,” tambahnya.

Pernah Hampir Terjebak Phishing

Chee juga membagikan pengalaman pribadinya ketika menerima email yang tampak sangat meyakinkan dari sebuah situs pemesanan perjalanan.

Email tersebut bahkan memuat informasi yang terlihat valid, seperti tanggal perjalanan, tanggal menginap, dan nomor pemesanan hotel.

Pelaku kemudian meminta Chee memperbarui informasi kartu kredit dengan alasan transaksi sebelumnya gagal diproses.

Yang membuat email tersebut terlihat semakin meyakinkan adalah adanya informasi mengenai perjalanan yang memang sedang dilakukan.

Namun, terdapat satu detail yang membuatnya curiga.

“Perbarui Mastercard Anda,” demikian permintaan dalam email tersebut.

Masalahnya, Chee tidak menggunakan Mastercard.

“Saya tidak punya Mastercard, saya hanya punya Visa,” ujarnya.

Detail kecil tersebut menjadi tanda bahaya pertama.

Karena memahami karakteristik serangan siber, Chee tidak mengikuti tautan yang diberikan. Ia justru membuka situs resmi dan melakukan pengecekan dari sana.

Ia kemudian menggunakan sistem komunikasi resmi untuk menghubungi hotel yang terkait dengan pemesanan.

Pihak hotel langsung mengonfirmasi bahwa email tersebut merupakan penipuan dan meminta agar tautan di dalamnya tidak diklik.

“Jangan klik. Jangan percaya email tersebut. Segera buka situs web resminya,” kata Chee mengutip respons pihak hotel.

AI Membuat Phishing Semakin Meyakinkan

Perkembangan AI juga berpotensi memperkuat kemampuan pelaku dalam membuat serangan yang lebih meyakinkan.

Salah satu perubahan yang sudah terlihat adalah kemampuan menghasilkan bahasa yang semakin natural dan sesuai dengan karakter lokal.

Jika beberapa tahun lalu pesan phishing mudah dikenali karena tata bahasa yang buruk atau terjemahan yang terasa kaku, kini situasinya berubah.

AI memungkinkan pelaku membuat pesan dalam bahasa lokal dengan gaya komunikasi yang lebih natural.

Kondisi tersebut membuat pendekatan berbasis kewaspadaan menjadi semakin penting.

Pengguna tidak bisa lagi hanya mengandalkan kesalahan ejaan, tata bahasa yang buruk, atau tampilan pesan yang aneh untuk menentukan apakah sebuah pesan merupakan penipuan.

Waspada Meski Pesan Terlihat Familiar

Pada akhirnya, menurut Chee, teknik serangan mungkin tidak berubah secara fundamental, tetapi cara pelaku mengemas serangan akan terus berkembang.

Dari email berpindah ke WhatsApp, media sosial, aplikasi mobile, hingga memanfaatkan berbagai layanan digital yang digunakan masyarakat setiap hari.

Indonesia menghadapi pola yang sama dengan negara-negara lain. Namun, “rasa” serangannya akan disesuaikan dengan pasar lokal.

Bagi pengguna, kunci pertahanan bukan hanya mengetahui ancaman terbaru, tetapi juga membangun kebiasaan untuk selalu melakukan verifikasi ketika menerima permintaan yang mencurigakan.

Terutama ketika pesan meminta pengguna mengklik tautan, memberikan informasi pribadi, memasukkan kredensial, atau melakukan transaksi.

Sebab, di tengah semakin eratnya ketergantungan masyarakat terhadap smartphone, satu perangkat kini menyimpan hampir seluruh aktivitas digital pengguna.

Dan bagi penjahat siber, di situlah letak peluang terbesarnya.

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU