Sabtu, 20 Juli 2024
Selular.ID -

Benarkah Harga Bitcoin Meroket ke Rp1,22 Miliar di Bulan Ini?

BACA JUGA

Selular.ID – Harga Bitcoin telah melonjak lebih dari 60% sepanjang tahun hingga Mei 2024, didorong oleh arus masuk ke ETF BTC di AS dan ekspektasi penurunan suku bunga oleh The Fed.

Menurut data Bitcoin Monthly Returns, performa Bitcoin pada bulan Mei cukup mengesankan dengan kenaikan sebesar 11,07% (MoM), dibandingkan dengan bulan April yang turun sebesar 14,76%.

Trader Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, mengatakan berdasarkan gabungan indikator on-chain,
fundamental, dan teknis, Bitcoin mungkin akan mengalami kenaikan lebih lanjut di Juni,
berpotensi mencapai US$75.000 atau sekitar Rp1,22 miliar pada akhir bulan.

“Kemampuan Bitcoin untuk mencapai US$75.000 berasal dari pola segitiga simetris yang
biasanya menandakan kelanjutan tren bullish. Pada 31 Mei, harga BTC mendekati puncak
segitiga, mengincar penembusan di atas garis tren atas, yang dapat mendorong harganya
menuju US$74.000-US$75.000 pada bulan Juni, tergantung pada titik penembusannya. Titik breakout ini mungkin berada di sekitar US$69.000, yang bertepatan dengan support garis tren naik Bitcoin,” analisanya.

Selain itu, volatilitas Bitcoin terus memikat investor, dan perkembangan ekonomi terkini di
Amerika Serikat mungkin akan menentukan langkah besar berikutnya.

Rilis data inflasi Mei dalam waktu dekat menjadi sorotan. Jika inflasi di AS cukup melambat hingga 3,3% atau lebih rendah, ini bisa mendorong harga Bitcoin kembali ke titik tertinggi sepanjang masanya di level US$73.000 atau sekitar Rp1,18 miliar.

Namun menurut Fyqieh, jika hasil CPI melebihi ekspektasi, momentumnya bisa melemah. Hasil CPI yang lebih tinggi dari perkiraan telah menyebabkan penurunan harga Bitcoin.

“Pelaku pasar berharap ada dorongan lebih lanjut terhadap momentum bullish ini dengan data NFP (non-farm payroll) yang positif, sehingga mengindikasikan pelambatan inflasi dan meningkatkan peluang penurunan suku bunga pada bulan Juni dan Juli,” jelas Fyqieh.

Jika data CPI terbaru yang akan dirilis pada 12 Juni mendatang berada di bawah perkiraan, ini dapat meningkatkan kepercayaan investor dan memacu gelombang baru pembelian Bitcoin.

Inflasi yang lebih rendah tidak hanya mendukung Bitcoin tetapi juga meningkatkan persepsi aset digital sebagai lindung nilai terhadap inflasi.Potensi ETF Bitcoin dan Ethereum
Arus masuk dana ETF Bitcoin di AS diharapkan akan terus meningkat sepanjang  Juni.

Pekan lalu, ETF Bitcoin melaporkan arus masuk bersih yang luar biasa sebesar US$242 juta
per hari, menunjukkan kebangkitan permintaan sisi beli. Mengingat tekanan jual harian dari para penambang sebesar US$32 juta per hari sejak Bitcoin halving, tekanan beli ETF ini hampir delapan kali lebih besar.

“Arus masuk besar ke ETF Bitcoin mencerminkan peningkatan kepercayaan investor dan
menunjukkan bahwa pasar mungkin siap untuk reli lebih lanjut, terutama karena tekanan jual dari penambang berkurang,” ungkap Fyqieh.

Hal ini menggarisbawahi dampak positif yang signifikan dari ETF terhadap pasar dan pengaruh halving yang relatif berkurang di masa mendatang. Hasilnya, harga Bitcoin berada pada posisi yang baik untuk melanjutkan reli hingga Juni.

ETF Ethereum spot di AS memiliki kemungkinan untuk diluncurkan pada akhir Juni. K33
Research memperkirakan bahwa ETF ETH spot AS yang akan datang dapat memperoleh arus masuk US$4 miliar dalam lima bulan, yang mengarah pada apresiasi harga dan kenaikan ETH dibandingkan BTC.

Peluncuran ETF Ethereum yang sukses dapat menjadi preseden positif bagi ETF Bitcoin, yang berpotensi meningkatkan kepercayaan investor dan meningkatkan permintaan di pasar kripto.

Baca Juga:Bulan Literasi Kripto: Ungkap Pertumbuhan dan Redakan Stres Investasi

Hal ini selanjutnya memungkinkan Bitcoin untuk mencapai target penembusan segitiga simetris sebesar US$75.000 (Rp1,22 miliar) pada Juni.

 

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU