Senin, 15 April 2024
Selular.ID -

Tak Hanya di Indonesia, Xiaomi dan Transsion Juga Semakin Berotot di Asia Tenggara

BACA JUGA

Uday Rayana
Uday Rayana
Editor in Chief

Selular.ID – Setelah sempat menurun dihantam pandemi Covid-19, pasar ponsel di kawasan Asia Tenggara mulai terlihat pulih. Data Canalys menunjukkan pengiriman ponsel pintar di Asia Tenggara mengawali tahun ini dengan baik.

Terdapat kenaikan dua digit dari tahun ke tahun di bulan Januari, memanfaatkan momentum yang terjadi di akhir 2023.

Pengiriman di lima pasar utama, masing-masing Indonesia, Filipina, Vietnam, Thailand dan Malaysia meningkat 20 persen setiap tahunnya menjadi 7,3 juta unit.

Lima besar vendor ponsel di kawasan ini berturut-turut adalah Samsung, Xiaomi, Transsion Group, Oppo, dan Vivo.

Samsung masih menjadi jawara di Asia Tenggara. Namun pangsa pasar vendor yang berbasis di Seoul itu, turun dari 27% menjadi 20%.

Raksasa Korea Selatan itu memang tenngah mengalami masa-masa sulit, dengan penurunan pengiriman sebesar 11% menjadi 1,5 juta unit.

Berbeda dengan Samsung, pengiriman Xiaomi meningkat 128% menjadi 1,3 juta. Pencapaian itu, menggandakan pangsa pasar vendor yang berbasis di Beijing itu, menjadi 18%.

Baca Juga: Antara Infinix, Itel, Tecno, Mana Yang Buat Transsion Masuk Ke Papan Atas? Ini Dia Sosoknya

Secara mengejutkan, Transsion sukses menyegel posisi tiga. Berkat pertumbuhan yang melebihi vendor-vendor lainnya.

Vendor yang membawahi Tecno, Infinix, dan Itel itu, mencatat pertumbuhan tercepat. Tak tanggung-tanggung, meroket 190% menjadi 1,1 juta unit.

Kenaikan yang signifikan itu, mendorong pangsa pasar Transsion menjadi 15%, naik dari 6% pada Januari 2023.

Seperti halnya Samsung, Oppo juga tengah mengalami masa sulit. Pengiriman Oppo turun 6% menjadi 1,1 juta, dengan pangsanya turun 4% menjadi 15%.

Daftar lima besar vendor terbesar di Asia Tenggara ditempati Vivo. Pangsa Vivo tetap di angka 12%, namun vendor yang bernaung di bawah BBK Group itu, mampu meningkatkan pengiriman sebesar 25% menjadi 900.000 unit.

Indonesia dan Filipina merupakan dua pasar terbesar dan memimpin pertumbuhan. Tercatat, pengapalan di masing-masing negara meningkat 12% menjadi 2,7 juta unit dan 77% menjadi 1,5 juta unit.

Pengiriman di Thailand naik tipis sebesar 5% menjadi 1,3 juta unit. Sementara Malaysia membukukan kenaikan berurutan sebesar 33 persen menjadi 831.000 unit.

Di sisi lain, Canalys mencatat pemulihan yang lebih lambat dari perkiraan di Vietnam, di mana pengiriman turun 2 % menjadi 848.000 unit.

Vivo, Xiaomi dan Transsion Berebut Posisi Teratas

Tak berlebihan jika Indonesia merupakan motor penggerak pertumbuhan smartphone di Asia Tenggara. Sebagai pasar ponsel terbesar keempat di dunia, Indonesia menjadi magnet yang tak pernah pudar.

Hampir semua brand-brand global terkemuka hadir di sini. Mengadu peruntungan demi pangsa pasar dan potensi pendapatan.

Namun banyaknya pemain, membuat medan persaingan mirip dengan kawah candra dimuka. Tak heran, imbas ketatnya persaingan membuat peringkat vendor teratas kerap berubah.

Tengok saja laporan Canalys pada Q4-2023 yang diumumkan awal Maret lalu. Secara mengejutkan, Vivo mampu menyegel posisi pertama sebagai raja ponsel di Indonesia.

Merek ponsel yang merupakan bagian dari BBK Group itu, mampu menguasai pangsa pasar sebesar 19% dengan tingkat pertumbuhan tahunan 13%.

Di posisi kedua, brand yang identik dengan harga terjangkau, Xiaomi melejit dengan menguasai 18%. Vendor yang didirikan oleh Lei Jun itu, membukukan pertumbuhan YoY 40%.

Raksasa teknologi asal Korea Selatan, Samsung tergelincir di posisi ketiga dengan pangsa pasar 18%. Samsung memang sedang tersendat lantaran mengalami petumbuhan tahunan hanya 1%.

Di urutan keempat cukup mengejutkan, ada Transsion yang merupakan induk dari Infinix, Tecno dan Itel. Pangsa pasar vendor yang berbasis di Shenzhen itu, sama seperti Xiaomi dan Samsung.

Hanya saja pertumbuhan tahunan terbilang spektakuler. Tak tanggung-tanggung, mencapai 147%, tertinggi dari vendor lain.

Di peringkat kelima dihuni oleh Oppo. Ini adalah kali pertama Oppo menjadi juru kunci. Padahal pada kuartal-kuartal sebelumnya, Oppo masih menjadi penguasa pasar. Market share Oppo pada kuartal keempat 2023 hanya mencapai 16%.

Wajar jika Oppo tak mampu mempertahankan posisi yang sudah diraih sejak 2019. Pasalnya, pertumbuhan tahunan Oppo minus hingga 41%.

Baca Juga: Balada Xiaomi: Ambisi Jadi Nomor Satu Namun Terpaku di Posisi Tiga

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU