Rabu, 24 April 2024
Selular.ID -

Balada Xiaomi: Ambisi Jadi Nomor Satu Namun Terpaku di Posisi Tiga

BACA JUGA

Uday Rayana
Uday Rayana
Editor in Chief

Selular.ID – Raksasa telekomunikasi China, Huawei pernah nyaris menjungkalkan Samsung dari singasana vendor nomor satu dunia. Namun sanksi yang diberlakukan AS pada pertengahan 2019, mengubah kerasnya persaingan.

Alih-alih mampu mengkudeta Samsung, Huawei justru terjerambab. Imbas keputusan Presiden AS Donald Trump (saat itu), membuat vendor yang identik dengan logo bunga warna merah menyala itu, hanya bisa mengandalkan pasar domestik.

Sanksi AS yang diberlakukan pada pertengahan 2019, telah mencekik pasokan chip yang digunakan dalam ponsel cerdas dan peralatan telekomunikasi khususnya 5G.

Pasca Huawei yang meredup, Xiaomi tampil sebagai penantang serius. Malah vendor smartphone yang berbasis di Beijing itu, terlihat begitu bernafsu untuk mengambil ceruk yang ditinggalkan Huawei.

Selama ini kita ketahui Xiaomi adalah merek yang berfokus pada anggaran dan kelas menengah. Namun CEO sekaligus pendiri Xiaomi, Lei Jun bertekad untuk menguasai pasar smartphone kelas atas.

Target yang membutuhkan kerja keras. Karena harus bersaing dengan dua raksasa, Samsung dan Apple. Tidak main-main, gabungan kedua raksasa itu, menguasai sekitar 80% pangsa pasar.

Dalam sebuah postingan di Weibo, awal Februari 2022, Lei Jun mengatakan pihaknya bertekad menjadikan Xiaomi sebagai terbesar di dunia dalam tiga tahun.

Dia mengklaim akan menyaingi produk dan pengalaman Apple (iPhone). Persaingan Xiaomi-Apple di pasar smartphone kelas atas sebagai “perang hidup dan mati”, tambahnya.

Baca Juga: Tablet Xiaomi Pad 6S Pro 12.4 Siap Masuk Indonesia 

Keseriusan Xiaomi terlihat dari perubahan segmentasi dari produk yang ditawarkan. Vendor yang identik dengan warna jingga itu, memutuskan untuk memisahkan brand Xiaomi dengan Redmi.

Kini Redmi menjadi sebuah merek sendiri dan terpisah dari produk-produk Xiaomi. Selain Redmi, Xiaomi mengumumkan sub-brand Pocophone (Poco) yang pada pertengahan 2018.

Dengan pemisahan itu, Redmi akan fokus menggarap pasar yang “value for money” dengan harga berbanding lurus dengan kualitas yang ditawarkan.

Sedangkan Xiaomi mengincar segmen segmen menengah ke atas dan premium. Xiaomi mungkin akan bersinggungan dengan Pocophone yang menyasar pasar sama.

Ambisi yang diusung Lei Jun tak lepas dari kinerja mentereng yang dicapai Xiaomi pada kuartal kedua 2021. Untuk pertama kalinya Xiaomi berhasil melompati Apple dari segi penjualan.

Dalam catatan Canalys, pengiriman ponsel Xiaomi mengalami peningkatan 83% secara year-on-year dalam kuartal itu. Lonjakan pengiriman, mengatrol pangsa pasar Xiaomi menjadi 17%.

Namun, dua tahun setelah target tinggi ditetapkan, Lei Jun akhirnya menyadari Apple masih terlalu digdaya. Alih-alih mengejar Apple dan Samsung, kinerja Xiaomi justru kedodoran.

Keterbatasan pasokan chip, imbas covid-19, membuat posisi Xiaomi malah justru tercecer. Alhasil, pada Q2-2023, Xiaomi kembali turun peringkat.

Laporan lembaga riset pasar Counterpoint, top five vendor smartphone pada Q2-2023, tidak berubah. Samsung masih menjadi penguasa pasar ponsel global dengan market share 22%. Apple kembali naik ke posisi dua (17%), disusul Xiaomi (12%), Oppo (10%), dan Vivo (8%).\

Baca Juga: Xiaomi dan Leica Dirikan Institut Optik Bersama, Kembangkan Kamera Smartphone

Halaman Selanjutnya…

- Advertisement 1-

BERITA TERKAIT

BERITA PILIHAN

BERITA TERBARU