Berca Hardayaperkasa, Pemain Terakhir BWA yang Lenyap Dari Persaingan Bisnis Telekomunikasi

Selular.ID – Dipenuhi banyak pemain dan model bisnis yang bersifat terbuka (open market), industri selular Indonesia terkenal paling kompetitif di dunia.

Saking kerasnya kompetisi, tak terhitung pemain yang terpaksa gulung tikar. Tak hanya vendor handset namun juga operator telekomunikasi.

Terbaru operator yang terpaksa lempar handuk putih adalah Berca Hardaya Perkasa. Berca menjadi operator BWA (Broadband Wireless Access) terakhir yang tak lagi mampu bersaing dan meninggalkan panggung bisnis selular nasional.

Sebelum Berca, tiga operator BWA sudah berguguran, yaitu Internux (BOLT!), Jasnita Telekomindo, dan First Media (Sitra).

Berca sendiri sudah menutup layanan internet bergerak mereka, HiNet, per 16 November 2022. Dengan ditutupnya layanan internet tersebut, maka para pelanggan HiNet yang terdapat di 8 wilayah tidak bisa lagi mengakses layanan.

Penghentian operasi layanan disusul dengan pengalihan spektrum frekwensi yang sebelumnya dimiliki Berca kepada Telkomsel. Total spectrum seluas 30 Mhz pada pita 2,3 Ghz dialihkan Berca kepada Telkomsel.

Meski tak lagi beroperasi, sesuai ketentuan Kominfo, Berca tetap dikenai kewajiban untuk melakukan pemenuhan terhadap perlindungan konsumennya.

Sebelumnya sebagai operator BWA, Berca mengoperasikan HiNet dengan menggunakan pita frekuensi 2,3 GHz dan lisensi non-nasional.

Berca hanya melayani 8 dari 15 zona di pita 2,3 GHz, yaitu Sumatra bagian utara dan Kepulauan Riau (Kepri),  Sumatra bagian tengah, Sumatra bagian selatan, Bali dan Nusa Tenggara, Sulawesi bagian selatan, Kalimantan bagian barat, dan Kalimantan bagian timur.

Berca merupakan salah satu dari puluhan perusahaan yang bernaung di bawah Grup Central Cipta Murdaya (CCM), milik konglomerat Murdaya Widyawimarta Poo atau biasa dipanggil Murdaya Poo.

Tumbangnya Berca dan operator BWA lainnya menambah deretan operator yang akhirnya tamat alias gulung tikar. Sebelumnya nasib yang sama menimpa Fren – Mobile 8 (2011), Axis – Saudi Telecom (2012),  Esia – Bakrie Telecom (2015), dan Net1 – Sampoerna Telecom (2021).
Tumbangnya operator-operator tersebut, seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi semua stake holder. Terutama dalam penerapan tarif yang sudah tidak masuk akal.

Tarif murah, membuat operator memiliki peluang menggenjot jumlah pelanggan. Namun jika tarif kelewat murah, hal itu jelas tidak memikirkan keberlangsungan industri telekomunikasi. Membuat operator lebih mirip dengan lembaga amal.

Apa boleh buat, operator sudah terjebak pada penerapan tarif murah yang seolah tak berujung. Ironisnya, di negara-negara lain tarif data bisa mencapai 10 kali lipat lebih mahal dibanding operator di Indonesia.

Sehingga turunnya layanan dasar (voice dan SMS), mulai bisa dikompensasi dari pendapatan data. Ujungnya, mereka bisa menjaga revenue dan EBITDA agar tidak terjun terlalu dalam.

Bagaimana pun ini adalah tren global, akibat pergeseran pola komunikasi pengguna. Dari layanan dasar ke layanan data, sehingga operator perlu mengubah skema tarif.

Faktanya, akibat penerapan tarif data murah, operator telah terjebak pada efek gunting (scissor effect). Trafik data melesat tinggi, namun revenue yang didapat bukan lagi stagnan namun sudah cenderung menurun.

Pada akhirnya banyak operator yang sudah sesak nafas. Penerapan tarif data yang affordable justru membuat operator tak punya cuan alias laba.

Kalau tak ada laba, ujung-ujungnya operator tak bisa membangun dan memelihara jaringan, sehingga mengancam keberlangsungan usaha (sustainability).

Dengan sengkarut itu, tak perlu heran jika ada operator yang kembali tumbang, seperti yang dialami Berca Hardayaperkasa.

Meski mengusung nama perkasa, kali ini Berca tak lagi perkasa. Perusahaan tak mampu melanjutkan bisnis internet mobile yang cuannya tipis bahkan nyaris tidak ada karena digerus tarif murah.