Nyawa Apple di Tangan Foxconn

Nyawa Apple di Tangan Foxconn

Selular.ID – Tak berlebihan jika Apple seperti angsa bertelur emas. Kinerja perusahaan yang didirikan oleh Steve Jobs itu, terus moncer.

Pandemi covid-19 yang merebak pada awal 2020, tak membuat raksasa yang berbasis di Cupertino, California itu, menjadi lemah.

Apple justru semakin berotot. Mampu tumbuh di atas vendor lainnya yang justru tengah kesulitan imbasnya menurunnya pasokan, terutama chip yang menjadi otak smartphone.

Tengok saja hasil keuangan Apple untuk kuartal keempat fiskal 2022 yang berakhir pada 24 September 2022. Tercatat, Apple mampu meningkatkan pendapatan sebesar 8% selama kuartal tersebut.

Pendapatan tahunan Apple sepanjang 2022 mencapai $394,328 miliar, meningkat 7,79% dibandingkan 2021. Sebelumnya pendapatan tahunan Apple untuk 2021 adalah $365,817 miliar, meningkat 33,26% dibandingkan 2020.

CEO Apple Tim Cook mengatakan kepada CNBC, bahwa revenue akan tumbuh “dua digit” jika bukan karena dolar yang kuat. Total penjualan pada tahun fiskal 2022 Apple naik 8% menjadi $394,3 miliar.

“Hambatan kurs valuta asing lebih dari 600 basis poin untuk kuartal ini,” kata Cook kepada Steve Kovach dari CNBC.

“Jadi itu signifikan. Kami akan tumbuh dua digit tanpa hambatan devisa”.

Meningkatnya pendapatan Apple sejalan dengan market share yang diraih. Sesuai laporan Strategy Analytics, Apple menempati peringkat kedua dengan pangsa 16%.

Baca Juga: Profil Terry Gou, Figur Sentral Dibalik Mengguritanya Foxconn

Apple hanya kalah dari Samsung yang menghuni posisi teratas dengan market share 22%. Tiga merek China yaitu Xiaomi, OPPO (termasuk OnePlus) dan Vivo tetap berada di daftar lima besar.

Strategy Analytics mengungkapkan bahwa Apple mampu mengirimkan 49 juta iPhone ke seluruh dunia, naik +6% YoY, untuk 16% pangsa pasar global di Q3 2022.

Ini adalah pangsa pasar kuartal ketiga tertinggi untuk Apple selama dua belas tahun terakhir. Apple mampu tumbuh di atas merek-merek terkemuka China yang terhambat oleh kinerja yang lamban di pasar dalam dan luar negeri karena menurunnya permintaan.

Pertumbuhan Apple yang baik sepanjang kuartal itu didukung oleh iPhone 14 Pro dan Pro Max yang baru diluncurkan.

Kinerja Apple yang tetap moncer itu terbilang anomali. Pasalnya, industri smartphone global kini sedang lesu darah.

Laporan Strategy Analytics, menyebutkan bahwa pengiriman smartphone global turun -9% YoY menjadi 297 juta unit pada Q3 2022.

Ini adalah penurunan tahunan kelima kuartal berturut-turut berdasarkan volume smartphone. Penyesuaian inventaris dan masalah geopolitik berdampak buruk pada pasar smartphone di kuartal ketiga tahun ini.

Pertumbuhan Apple Dibayangi Menurunnya Produksi iPhone 14

Di berbagai belahan dunia, Covid-19 memang mulai melandai. Namun perbaikan ekonomi yang diharapkan terjadi mulai akhir tahun ini, justru masih jauh panggang dari api.

Kondisi diperburuk dengan persoalan geopolitik, seperti perang Rusia – Ukraina yang berkobar sejak Akhir Februari lalu, namun tak dapat diprediksi kapan bakal berakhir.

Alhasil, dunia diprediksi bakal terjerambab ke jurang resesi pada tahun depan. Pasalnya inflasi diprediksi terus meningkat. Menggerus daya beli konsumen. Membuat dunia usaha menahan ekspansi dan pengeluaran.

Dengan beragam kompleksitas persoalan tersebut, vendor-vendor smartphone dihadapkan pada tantangan yang tak ringan.

Di tengah permintaan pasar yang menurun, tak dapat dipungkiri, permainan sudah mengarah pada zero sum game. Di mana peningkatan market share satu vendor, merupakan kerugian dari vendor lain.

Baca Juga: Apple Kalang Kabut Karena Dua Series iPhone 14, Minta Foxconn Beralih Produksi

Seperti ditujukan oleh Apple pada kuartal ketiga 2022. Menguatnya pangsa pasar Apple sebagian besar karena kinerja pesaing-pesaing terdekatnya, terutama vendor China tengah menurun.

Menurut  laporan Strategy Analytics, merek-merek besar China, kecuali Xiaomi, mencatat tingkat penurunan tahunan -8% pada kuartal ketiga 2022.

Oppo (OnePlus) dan Vivo sama-sama membukukan tingkat penurunan tahunan dua digit dan kehilangan posisi di sebagian besar pasar, karena persaingan 4G dan 5G meningkat tajam di China dan pasar lainnya.

Meski Apple mampu mempertahankan pertumbuhan yang positif, bagaimana pun tantangan akan selalu ada. Faktanya, Apple kini dihantui oleh persoalan produksi.

Seperti diketahui, Foxconn yang selama ini menjadi mitra utama Apple dalam memproduksi perangkat andalan perusahaan terutama iPhone, terpaksa harus merevisi ekspektasi pendapatan untuk Q4-2022.

Raksasa elektronik dari Taiwan itu, menyatakan bahwa produksi terhambat akibat kebijakan lockdown yang diberlakukan pemerintah China.

Penyesuaian produksi itu menyusul lonjakan kasus Covid-19 di fasilitas perakitan iPhone terbesar di Zhengzhou, provinsi Henan.

Apple menyatakan pembatasan pada fasilitas Foxconn secara signifikan mengurangi kapasitas, dengan peringatan vendor tentang “pengiriman iPhone 14 Pro dan iPhone 14 Pro Max yang lebih rendah dari yang diperkirakan sebelumnya”.

Alhasil, pelanggan akan mengalami waktu tunggu yang lebih lama untuk menerima produk baru mereka. Selama ini pabrik yang dioperasikan Foxconn di Zhengzhou adalah fasilitas perakitan utama iPhone, termasuk kedua model terbaru, iPhone 14 Pro dan iPhone 14 Pro Max.

Dengan lebih dari 200 ribu pekerja, pabrik di Zhengzhou, memainkan peran yang signifikan bagi pertumbuhan Apple selama bertahun-tahun. Ketika pasokan “normal”, dibutuhkan waktu seminggu hingga beberapa minggu untuk produksi iPhone.

Namun China tidak toleran terhadap wabah Covid-19. Artinya, terlepas dari vaksinasi massal, China memiliki apa yang disebut kebijakan “nol-Covid”, di mana seluruh kota, dan tempat kerja seperti Foxconn, lockdown sampai tidak ada lagi kasus Covid-19.

Apple secara resmi juga telah menyampaikan bila sangat sulit untuk mencapai target produksi dalam beberapa bulan ke depan karena pabrik beroperasi dengan kapasitas yang terbatas.

Baca Juga: Kisah Luna, Smartphone Besutan Foxconn yang Kalah Bersaing di Pasar Indonesia

Mensiasati hal tersebut, Foxconn berencana untuk melipatgandakan pabrik mereka di India. Seperti diketahui, sejak beberapa waktu lalu Foxconn telah mengoperasikan pabrik mereka yang terletak di Sipcot Industrial Park, Sriperumbudur, Tamil Nadu.

Tak tanggung-tanggung, agar bisa berproduksi maksimal, Foxconn berencana menambah jumlah tenaga kerja, dari saat ini 17.000 menjadi 70.000.

Relokasi besar-besaran ini diperkirakan akan memakan waktu selama dua tahun. Sehingga tidak akan menyelesaikan krisis dalam waktu singkat.

Namun perkembangan terakhir dapat mempercepat rencana Apple untuk mengurangi ketergantungannya pada China, demi mencegah situasi pelik seperti itu muncul kembali.

Sebelumnya pada September lalu, analis JP Morgan memperkirakan bahwa India dapat memproduksi varian iPhone 14 dari saat ini hanya 5%, menjadi 25% dalam tiga tahun ke depan.

Ming-Chi Kuo, seorang analis teknologi yang berfokus pada Apple di TF International Securities yang berbasis di Hong Kong, mengatakan bahwa penguncian Zhengzhou mendorong Foxconn dan Apple untuk mempercepat produksi iPhone di India.

Kuo mengharapkan iPhone yang dibuat di India—masih oleh Foxconn—akan tumbuh setidaknya 150% tahun depan.

“Tujuan jangka menengah hingga jangka panjang Foxconn adalah mengirimkan 40% hingga 45% iPhone dari India, dibandingkan saat ini 2% hingga 4%, yang berarti kapasitas produksi iPhone Foxconn di India akan meningkat pesat dalam beberapa tahun ke depan,” saran Kuo.

Diketahui, Apple sudah memproduksi ponsel iPhone 14 di di India, hanya beberapa minggu setelah produksi di China dimulai. Diperkirakan pada tahun depan, produksi iPhone 15 akan dimulai bersamaan dengan produksi di China.

Jelas dengan persoalan pelik yang dihadapi saat ini, Apple sangat mengandalkan Foxconn. Dengan tingginya ketergantungan Apple terhadap Foxconn, tak berlebihan jika nyawa Apple sejatinya berada di tangan perusahaan Taiwan itu.

Di sisi lain, dengan relokasi besar-besaran,  India kelak memiliki peranan penting sebagai negara berikutnya setelah China, menjadi pusat manufaktur Apple.

Hijrahnya Apple ke India, membuat PM India Narendra Modi bakal tersenyum lebar. Kampanye “Making in India” yang digaungkannya, bukan sekedar slogan belaka.