Membandingkan Pendapatan dan Laba Telkomsel Lima Tahun Terakhir, Mana yang Terbaik?

Membandingkan Pendapatan dan Laba Telkomsel Lima Tahun Terakhir, Mana yang Terbaik?

Selular.ID – Sejak memasuki era internet cepat pada akhir 2014, industri selular kini semakin bergerak pada layanan yang disebut sebagai “beyond telco”.

Seiring dengan pertumbuhan smartphone, layanan dasar atau basic service (voice dan SMS) yang sebelumnya mendominasi, saat ini semakin menurun digantikan layanan data dan digital service.

Perubahan yang massif itu, tentu menjadi peluang bagi operator meraih pendapatan baru. Namun sekaligus memunculkan tantangan yang tak ringan.

Pasalnya, meski konsumsi data semakin melonjak, pada dasarnya operator masih harus mensubsidi pendapatan dari basic service. Sehingga sulit bagi operator mempertahankan profitabilitas.

Persoalan bertambah pelik, akibat ketatnya persaingan antar operator, tarif data di Indonesia terbilang salah satu yang paling murah di dunia.

Berdasarkan laporan cable.co.uk, rata-rata harga paket internet mobile di Indonesia US$ 0,42 per gigabita (GB) atau sekitar Rp 6.000. Tarif sebesar itu menempatkan Indonesia di urutan ke-12 termurah di dunia.

Bahkan tarif internet dari operator selular Indonesia ternyata jauh lebih murah dibandingkan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Setelah Indonesia, negara dengan rata-rata harga internet termurah adalah Vietnam, yaitu US$0,49 atau sekitar Rp 7.033.

Murahnya tarif data, memang menguntungkan pelanggan. Sehingga jumlah pelanggan internet mobile melonjak signifikan.

Hingga akhir Juni 2022, APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) mencatat jumlah pengguna internet di Indonesia sebesar 77,02 persen atau sebanyak 210.026.769 orang dari total populasi 272.682.600 jiwa. Mayoritas mengakses melalui perangkat mobile, seperti smartphone dan tablet.

Namun gegara tarif murah itu, tingginya jumlah pengguna internet tidak mencerminkan kesehatan industri. Malah dapat mengancam keberlanjutan bisnis operator selular di Tanah Air.

Apalagi operator masih harus mengalokasikan dana capex yang tidak sedikit. Terutama untuk membangun infrastruktur, terutama BTS 4G sebagai sarana bersaing dalam memperebutkan pelanggan data.

Meski dalam dua tahun terakhir, perang tarif mulai mereda, namun industri selular di Tanah Air masih belum sepenuhnya sehat. Kinerja operator masih turun naik.

Tak terkecuali Telkomsel, sang market leader. Apalagi selama bertahun-tahun, pendapatan dan laba Telkomsel disokong dari basic service.

Terdapat tiga parameter utama yang menjadi indikator kesehatan perusahaan, yakni total pendapatan, laba bersih, dan EBITDA (Earning Before Interest Tax Depreciation Amortization).

Mari kita kulik pencapaian Telkomsel, dari tiga parameter utama tersebut dalam lima tahun terakhir, yaitu 2017 – 2021, berdasarkan laporan informasi publik PT Telkom, induk Telkomsel pada Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pada 2017, Telkomsel berhasil meraih pendapatan sebesar Rp 93,21 triliun atau naik 7,5% dibandingkan 2016 sebesar Rp 86,72 triliun. Ini adalah rekor pendapatan yang diraih Telkomsel, sejak didirikan pertama kali pada 1995 silam.

Pendapatan sebesar itu, mendorong peningkatan  laba bersih menjadi Rp 25,5 triliun. Begitu pun dengan EBITDA Rp 53,5 triliun. Naik 7,7% dibandingkan 2016 sebesar Rp49,5 triliun.

Namun pada 2018, kinerja Telkomsel mengalami penurunan. Perusahaan membukukan pendapatan sebesar Rp 89,3 triliun, EBITDA Rp 47,4 triliun. Namun laba bersih sama dengan tahun sebelumnya, Rp 25,5  triliun.

Pada 2019, pendapatan Telkomsel mencapai Rp 91,1 triliun, naik 2,1% dibandingkan 2018. EBITDA juga mengalami pertumbuhan 3,7 persen (YoY) dengan capaian Rp 49,2 triliun. Sedangkan laba bersih sebesar Rp 25,8 triliun, naik tipis 1 persen secara YoY.

Pada 2020, kinerja perusahaan kembali anjlok. Tercatat pendapatan senilai Rp 87,1 triliun, turun 4,4 persen atau sekitar Rp 3,9 triliun dibandingkan dengan 2019. Laba bersih juga menyusut menjadi Rp 25,06 triliun.

Sedangkan di 2021, anak perusahaan PT Telkom itu kembali membukukan pendapatan yang menurun, yaitu sebesar Rp 87,5 triliun. Namun demikian, laba bersih tumbuh 4,4% YoY, atau Rp 24,8 triliun.

Dari paparan kinerja selama lima tahun terakhir, dapat disimpulkan bahwa, 2017 merupakan tahun terbaik. Sedangkan sebaliknya, 2021 merupakan tahun terendah.

Tentu manajemen Telkomsel di bawah Hendry Mulya Syam,  berusaha untuk melakukan rebound. Namun faktanya pendapatan layanan bisnis digital, belum mampu menutupi derasnya penurunan pendapatan dari layanan panggilan suara dan pesan singkat atau layanan legacy.

Tengok saja pada 2018, di mana Telkomsel mencatat penurunan pendapatan layanan legacy hingga Rp 8,01 triliun atau turun 24,6 persen dari Rp 32,85 triliun pada 2019 menjadi Rp 24,77 triliun pada 2020.

Tak dapat dipungkiri, penurunan terjadi seiring dengan fase transisi alami dari legacy menuju data dan dampak kanibalisasi layanan OTT (over the top) yang semakin diminati pengguna.

Bisnis legacy Telkomsel melambat dengan pendapatan suara turun 29,1 persen YoY menjadi Rp 18,99 triliun dengan penurunan lalu lintas suara sebesar 15,5 persen YoY.

Pendapatan SMS menurun 39,9 persen YoY menjadi Rp2,38 triliun, karena penurunan trafik SMS sebesar 27,2 persen YoY.

Catatan inilah yang membuat total pendapatan Telkomsel pada 2020 turun cukup drastis jika dibandingkan dengan 2019. Dan kondisi tersebut masih berlangsung hingga 2021.

Telkomsel sendiri telah berupaya mengatasi tantangan tersebut. Yaitu, konsisten memperluas ekosistem digital dan menciptakan inisiatif strategis yang diyakini akan mendukung peningkatan layanan dan solusi digital.

Baca Juga: Tuah CEO Baru, Induk Usaha Telkomsel Cetak Laba Dua Digit

Sehingga kelak akan menjadi revenue generator baru, menggantikan pendapatan dari basic service yang terus menukik setiap tahunnya.

Apakah akhir 2022 Telkomsel dapat melakukan turn around? Kita tunggu laporan keuangan PT Telkom tahun depan.