Penjualan Smartphone di Asia Tenggara Anjlok Tajam, Indonesia Jadi Salah Satu Penyebabnya

SEA Smartphone

Selular.ID – Laporan terbaru oleh Canalys menunjukkan pasar smartphone di kawasan Asia Tenggara, ternyata tidak sedang baik-baik saja.

Penyebabnya karena daya beli yang menurun dan kepercayaan konsumen terpukul oleh inflasi yang meningkat.

Lembaga riset yang berbasis di Singapura itu, menyebutkan bahwa terjadi penurunan permintaan yang cukup signifikan, dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Menurut Canalys, pengiriman smartphone anjlok hingga 11% menjadi 24,7 juta unit. Penurunan terjadi di lima pasar terbesar di kawasan itu, masing-masing Indonesia, Filipina, Thailand, Vietnam, dan Malaysia.

Canalys tidak mengungkapkan secara spesifik, angka penurunan di masing-masing negara. Namun Canalys menyebutkan bahwa, kinerja setiap brand bervariasi di tengah tren penurunan.

Baca Juga: Persaingan Semakin Ketat, Penjualan Smartphone Layar Lipat Diprediksi Mencapai 16 Juta Unit

Samsung misalnya, menurut Canalys adalah satu-satunya vendor smartphone di lima besar yang mencatat pertumbuhan pengiriman tahunan di Q2-2022 di pasar Asia Tenggara, dengan penurunan dua digit secara keseluruhan.

Samsung mampu meningkatkan pangsanya 3 poin persentase menjadi 23%, meningkatkan pengiriman 4% menjadi 5,7 juta unit.

Pangsa Oppo stabil di 18% meskipun ada penurunan 10% dalam pengiriman menjadi 4,4 juta, sementara pangsa Xiaomi turun dari 22% menjadi 16% karena mengirimkan 34% lebih sedikit perangkat, yaitu 4 juta unit.

Pengiriman Vivo anjlok hingga 18% menjadi 3,2 juta unit, dengan pangsanya turun dari 14% menjadi 12%. Menggenapi posisi lima besar bercokol Realme. Mantan sub brand Oppo itu mencatat pengiriman yang turun 22% menjadi 2,6 juta dan pangsanya 1 poin menjadi 11%.

Menurut analis riset Canalys Chiew Le Xuan, mempertahankan keterjangkauan perangkat sambil meningkatkan profitabilitas adalah tantangan terbesar bagi vendor.

“Persaingan di segmen entry-level semakin intensif dengan diperkenalkannya banyak produk baru oleh vendor smartphone android.”

Chiew percaya sisa tahun 2022 akan menjadi tantangan karena vendor “mengatasi kenaikan biaya, volatilitas valas, dan permintaan konsumen yang menyusut”.

Baca Juga: Kurang Lebih 50% Lagi, ASUS Mencapai Target Penjualan Laptopnya Sampai Akhir Tahun Nanti

Permintaan Smartphone di Indonesia Anjlok Dua Digit

Laporan penurunan permintaan smartphone di Asia Tenggara oleh Canalys, mengonfirmasi laporan sebelumnya oleh lembaga riset lainnya, yaitu IDC.

Menurut IDC Worldwide Quarterly Mobile Phone Tracker, pasar smartphone di Indonesia pada kuartal 1 2022 terlihat lesu dengan penurunan sebesar 17.3% YoY (year over year) dari tahun sebelumnya.

Dengan capaian 8,9 juta unit pada tiga bulan pertama tahun 2022, angka itu merupakan penurunan sebesar 13.1% QoQ (quarter over quarter) dibandingkan kuartal sebelumnya (Q4-2021).

Menurut Associate Market Analyst IDC Indonesia Vanessa Aurelia, penurunan ini disebabkan oleh rendahnya daya beli masyarakat akibat adanya peningkatan harga barang seperti bensin dan komoditas (termasuk telepon genggam), serta kurangnya pasokan smartphone pada segmen entry-level di pasar.

”Smartphone pada rentang harga US$200 kebawah, mengalami pasokan yang ketat menyusul kendala pasokan chipset 4G low-end, berimbas pada penurunan permintaan di segmen ini yakni sebesar 22% YoY”, ujar Vanessa.

Baca Juga: Sahamnya Turun, Qualcomm Prediksi Penjualan Smartphone Ikut Surut

Drastisnya penurunan ketika dibandingkan secara YoY disebabkan karena adanya normalisasi jumlah permintaan setelah meredanya faktor pendorong pertumbuhan yang terkait dengan pandemi.

“Kombinasi dari beberapa faktor inilah yang memberikan tekanan tambahan pada kuartal yang biasanya rendah secara musiman”, pungkas Vanessa.