Bawa Nokia Keluar Dari Krisis, Pekka Lundmark Buktikan Tangan Dinginnya

Nokia Pekka Lundmark

Selular.ID – CEO Nokia Pekka Lundmark mengumumkan kembalinya pertumbuhan bisnis jaringan selular vendor asal Finlandi itu selama Q2, meskipun mengalami dampak berkelanjutan dari kendala rantai pasokan.

Dalam presentasi pendapatan (21/7/2022), Lundmark menyoroti meningkatnya permintaan untuk digitalisasi dan layanan konektivitas sebagai peluang utama bagi Nokia untuk bergerak maju.

“Kami berada di tempat yang baik”, komentar Lundmark.

Lundmark mengindikasikan tekanan pada pemasok diperkirakan akan mereda hingga paruh kedua 2022 dan paruh pertama 2023.

Nokia sekarang “ditempatkan dengan baik untuk memberikan panduan tahun 2022 penuh kami”, ujar Pekka Lundmark.

Dalam konteks situasi ekonomi global, Lundmark mencatat bahwa fokus Nokia adalah “mempersiapkan semua skenario yang mungkin”.

Baca Juga: Penjelasan HMD Tentang Nokia Edge 2022 yang Viral Karena Mirip iPhone 13 Pro

Mantan CEO Fortum itu, mengindikasikan bahwa Nokia saat ini “melacak ke arah yang lebih tinggi dari panduan penjualan bersih kami dan menuju titik tengah panduan margin operasi kami saat kami mengelola inflasi dan hambatan mata uang yang sedang berlangsung”.

Penjualan bersih jaringan selular Nokia, tercatat tumbuh 1 persen tahun-ke-tahun menjadi €2,6 miliar dan menghasilkan “profitabilitas yang solid”, kata Lundmark.

Bisnis infrastruktur jaringan mencapai pertumbuhan 12 persen menjadi €2,2 miliar, dengan jaringan tetap dan jaringan bawah laut terbukti menjadi pendorong utama.

Sementara dari perspektif regional, Amerika Utara “sangat menonjol” dengan peningkatan 19 persen dalam penjualan bersih, papar Lundmark.

Di seluruh bisnis, penjualan Nokia meningkat 3 persen menjadi €5,9 miliar, dan laba bersih melonjak 31 persen menjadi €460 juta.

Keberhasilan Nokia kembali ke jalur pertumbuhan dan mencetak laba yang cukup signifikan, merupakan kredit tersendiri bagi Pekka Lundmark.

Pasalnya, saat mewariskan kepemimipinan dari Rajeev Suri pada 1 September 2020, kondisi keuangan Nokia terbilang babak belur.

Vendor yang berbasis di Helsinki itu, seperti kehilangan arah. Agresifitas perusahaan telekomunikasi China, terutama Huawei sepanjang lebih dari satu dekade terakhir, membuat Nokia seperti anak kemarin sore dalam bisnis jaringan telekomunikasi. Padahal vendor yang berbasis di Espoo – Helsinki itu, sudah menggeluti bisnis jaringan selular sejak 1990.

Kepemimpinan Suri di Nokia dirusak oleh ketidakmampuan perusahaan memproduksi chip utama untuk peralatan 5G, sehingga memaksa Nokia untuk membeli komponen dari pemasok lain.

Hal ini pada akhirnya memotong margin keuntungan, sehingga menyulitkan perusahaan dapat segera keluar dari kubangan kerugian.

Kalah bersaing dalam perlombaan 5G dengan vendor-vendor lain, membuat perusahaan selama beberapa tahun dibekap krisis keuangan.

Tengok saja, pada 2018 Nokia menelan kerugian € 549 juta. Begitu pun pada tahun fiskal 2017, Nokia mencatatkan rugi bersih sebesar 1,49 miliar euro atau setara US$1,8 miliar. Kerugian itu naik dua kali lipat dibandingkan 2016 dimana perusahaan mencatatkan rugi bersih 751 juta euro.

Baca Juga: Masa Pakai Ponsel Nokia Awet, HMD Global Diganjar Penghargaan Sustainability 2022

Nokia Diuntungkan Persoalan Geopolitik Namun Tetap Bersikap Netral

Nokia

Keberhasilan Nokia meraih pertumbuhan dan laba di Q2-2022, tak lepas dari straegi perusahaan yang transisi dalam hal SoC (system on chips) yang terbilang baik.

Produk SoC yang diproduksi oleh  ReefShark, mampu memenuhi 35% dari pengiriman radio 5G pada 2020, dan ditargetkan semua produk 5G pada akhir 2022.

Kemudian, aset IP & Jaringan Optik (ION) perusahaan, dan khususnya produk perutean IP, terus menikmati momentum industri yang kuat.

Pengenalan Nokia atas rangkaian solusi fabric pusat data yang kaya pada Juli 2020, menunjukkan bahwa perusahaan terus berinvestasi dalam inovasi.

Di sisi lain, meskipun perusahaan jelas kehilangan pangsa pasar radio di China, Nokia telah mengamankan kemenangan 5G yang signifikan di seluruh domain radio, inti, transportasi, dan layanan di sejumlah pasar (termasuk inti 5G di China dan tingkat kemenangan 5G 100% di luar China).

Di sisi lain, persoalan geopolitik yang mendera Huawei juga memberikan keuntungan bagi Nokia. Pembatasan terhadap raksasa telekomunikasi yang berbasis di Shenzhen itu, telah mendorong operator untuk menghindari vendor China dalam tender 5G.

Kondisi tersebut jelas memberikan peluang besar bagi Nokia, mengingat industri jaringan mobile hanya didominasi oleh segelintir vendor saja.

Meski diuntungkan dengan kondisi geopolitik yang saat ini tidak menguntungkan vendor China, Pekka Lundmark menegaskan bahwa, para pesaing harus berhati-hati.

Dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg beberapa waktu lalu, Pekka menegaskan bahwa ia tidak ingin menjadi bagian dari konflik perdagangan dan politik. Pekka mengatakan bahwa perusahaan akan menghilangkan keterikatan geopolitik dan mempertahankan posisi netral.

Saat ini, AS menggunakan kehebatannya untuk mencegah perusahaan China, Huawei, memasuki pasar jaringan seluler 5G global. Ini membuka lebih banyak peluang bagi Nokia di pasar peralatan jaringan 5G. Namun, Lundmark, memastikan bahwa ia akan mencari pijakan sendiri.

Baca Juga: Dapatkah Pekka Lundmark Memutar Kembali Bandul Kejayaan Nokia?

“Saya pikir itu akan menjadi kesalahan besar jika satu perusahaan mulai mempromosikan agenda politik mereka.” ujarnya.

Menurutnya sebagai perusahaan murni, Nokia akan bersikap transparan dan melakukan apa yang seharusnya dilakukan.

“Sangatlah penting untuk menjaga hubungan baik dengan hampir semua wilayah dan pemerintah di dunia. Kami berkomunikasi dengan pemerintah di berbagai wilayah di dunia, dan itu seperti biasa bagi kami”, ujar Lundmark.