Seperti Filipina, Indonesia Terjebak Pada 5G “Suam-Suam Kuku”

Indosat Ooredoo Hutchison 5G IOH Jakarta E-Prix 2022
Chief Executive Officer Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha bersama Head of Ericsson Indonesia Jerry Soper

Kendala Infrastruktur dan Keterbatasan Frekwensi

Sayangnya, pasca diluncurkan setahun yang lalu, euphoria 5G seolah menguap dengan cepat. Operator saat ini seolah tidak bernafsu mengembangkan 5G secara massif.

Berbeda dengan 4G yang disambut luar biasa oleh pengguna. Berkat pembangnan BTS 4G yang digeber oleh operator selular hingga saat ini.

Bahkan kebanyakan masyarakat, tak mempermasalahkan 4G atau 5G. Sepanjang mereka bisa menikmati beragam layanan, terutama akses mobile internet seperti yang sudah dinikmati saat ini.

Apa yang menyebabkan 5G di Indonesia seolah jalan di tempat? Mengapa operator belum mau melakukan ekspansi besar-besaran dalam mengembangkan 5G?

Setidaknya ada beberapa faktor utama di balik mandeknya impementasi layanan 5G di Tanah Air.

Penyebab utama adalah infrastruktur yang belum memadai. Seperti kerapatan BTS serta kabel serat optik yang masih kurang. Padahal penggelaran jaringan fiber optik secara luas dan merata, menjadi salah satu kunci kestabilan konektifitas 5G.

Seperti diketahui, berbeda dengan 4G, konektifitas 5G membutuhkan pita frekwensi yang besar, sehingga tidak bisa hanya mengandalkan frekwensi radio atau microwave link.

Itu sebabnya, diperlukan pengembangan jaringan fiber optik yang lebih luas, agar operator bisa mengakomodir layanan 5G sesuai standar.

Namun untuk menggelar konektifitas berbasis fiber optic, bukan perkara mudah. Selain investasi yang besar, persoalan izin yang ribet membuat biaya yang dikeluarkan operator bertambah mahal.

Persoalan lain yang mengganjal adalah belum adanya alokasi frekwensi yang secara khusus digunakan untuk menggelar 5G. Untuk menjalankan 5G, operator terpaksa menggunakan spectrum existing, seperti 1.800 Mhz atau 2,3 Ghz.

Saat ini lebar pita frekuensi yang dimiliki (operator selular) yang bisa digunakan untuk menyediakan layanan secara minimal di 5G, tidak cukup. Bahkan bisa dikatakan kurang.

Untuk diketahui, Telkomsel menggunakan lebar pita 50 MHz di frekuensi 2.300 MHz untuk menggelar 5G. Indosat punya total lebar pita 2×22,5 MHz di frekuensi 1.800 MHz, di mana 20 MHz-nya dimanfaatkan untuk 5G.

Begitu pun dengan XL Axiata. Layanan 5G yang dibesut oleh anak perusahaan Axiata Malaysia itu, berjalan pada pita frekuensi 1.800MHz dengan lebar pita 20MHz, dalam rentang 1.807,5MHz sampai 1.827,5MHz.

Angka tersebut masih jauh dari lebar pita minimal yang dibutuhkan untuk menggelar layanan 5G secara optimal atau melakukan ekspansi jaringan 5G.

Karena untuk menggelar layanan 5G yang optimal, satu operator telekomunikasi harus menguasai spektrum frekuensi selebar 100 MHz.

Lebar pita minimal 100 MHz itu harus berada pada satu spektrum frekuensi yang sama atau berdampingan (contiguous). Bukan gabungan dari frekuensi yang berbeda, misalnya 50 MHz di 2.300 MHz dan 50 MHz sisanya di 1.800 MHz.

Di sisi lain, operator tak ingin mendahulukan 5G dengan mengorbankan layanan 4G. Itu sebabnya, spectrum yang digunakan operator untuk menjalankan 5G menjadi terbatas.

Baca Juga: Dapat Pinjaman Spektrum 500MHz, IOH Klaim Kecepatan 5G Capai 4Gbps di Jakarta E-Prix 2022

Halaman berikutnya

Layanan 5G Indonesia Mirip dengan Filipina