Seperti Filipina, Indonesia Terjebak Pada 5G “Suam-Suam Kuku”

5G Hanya Menjadi Lapisan Teknologi Bukan Terobosan

Mandeknya 5G di Indonesia, sejatinya sudah disuarakan oleh sejumlah lembaga. Tengok saja laporan A.T Kearney yang dipublikasikan pada 2019.

Lembaga riset dan teknologi terkemuka asal AS itu, menyebutkan bahwa lambatnya ketersediaan spektrum untuk layanan 5G dan peluncuran jaringan yang tidak optimal, akan menjadi tantangan terberat bagi pemerintah di masing-masing negara.

Tetapi bahkan jika dukungan spektrum dan peraturan sudah tersedia, adopsi dan pengiriman kasus penggunaan tetap tidak pasti, tambah laporan itu.

Sejauh ini, A.T Kearney, menyimpulkan bahwa Singapura akan mengungguli negara-negara di kawasan, dengan tingkat penetrasi yang diperkirakan mendekati 60% pada 2025.

Laporan itu mengatakan negara-negara seperti Thailand, Vietnam dan Filipina dapat menemukan diri mereka dalam situasi “kalah-kalah” di mana 5G secara selektif diluncurkan dan perusahaan tidak mau membayar biaya untuk jaringan.

Dalam skenario ini, konsumen umum dan kalangan bisnis akan enggan untuk membayar biaya ekstra. Pasalnya, mereka hanya merasakan manfaat terbatas atas jaringan 3G atau 4G yang ada.

Imbasnya, operator akan berfokus pada pengembalian investasi mereka di jaringan yang ada, membatasi ekspansi infrastruktur 5G karena ekosistem dan use case yang belum terbentuk.

Alhasil, A.T Kearney memperingatkan bahwa dalam situasi ini, 5G hanya akan menjadi “hanya lapisan teknologi”, ketimbang sebuah terobosan.

Apa boleh buat, seperti halnya negara tetangga kita, Filipina, saat ini layanan 5G di Indonesia baru tahap “Suam-Suam Kuku”. 5G sebenarnya baru akan kita rasakan saat pemerintah sepenuhnya menyediakan frekwensi untuk jaringan tersebut.

Baca Juga: 60 Juta Orang di Indonesia Belum Terkoneksi Internet, Meski Sudah Ada Jaringan 5G