Seperti Filipina, Indonesia Terjebak Pada 5G “Suam-Suam Kuku”

Layanan 5G Indonesia Mirip dengan Filipina

Dengan bergerak lambatnya operator menggelar 5G, kondisinya bisa disamakan dengan Filipina. Untuk diketahui, saat operator di negara-negara lain masih disibukan dengan kerangka menyusun implementasi 5G, operator terbesar di negara itu, Globe Telecom, telah meluncurkan layanan tersebut pada Juni 2019.

Dengan dukungan Huawei, Globe meluncurkan Globe At Home Air Fiber 5G di sejumlah kota — menjadikan Filipina sebagai negara pertama di Asia Tenggara dan kedua di Asia (setelah Korea Selatan) yang menawarkan layanan 5G nirkabel tetap untuk internet di rumah.

Tak ingin kalah dengan Globe, pada akhir Juli 2020, Smart Communication juga menggelar 5G. PLDT Group selaku induk perusahaan, menyiapkan tak kurang dari US$ 1,43 miliar dana Capex untuk menggelar layanan 5G di seatero Filipina.

Meski menjadi negara pertama yang meluncurkan 5G di kawasan Asia Tenggara, lembaga pemeringkat ekonomi terkemuka Fitch menilai bahwa prospek 5G di Filipina sesungguhnya tidak sepenuhnya cerah.

Dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada 30 Juli 2019, Fitch mengatakan jangkauan 5G di negara itu tetap “tidak pasti,” dan mengharapkan peluncurannya “akan dibatasi tahun ini, mengingat tahap awal adopsi dan penyebaran, terutama dalam pasar yang didominasi prabayar.

Adopsi seperti itu, kata Fitch Ratings, mungkin terletak pada keterjangkauan dan ketersediaan perangkat. Penurunan harga perangkat secara signifikan dapat mendorong tumbuhnya pasar massal.

Selain itu, hingga kini –pemerintah Filipina juga belum secara resmi mengidentifikasi dan melelang pita spektrum 5G untuk operator telekomunikasi.

Baca Juga: Layanan 5G Indosat Ooredoo di Jakarta Didukung Ericsson

Halaman berikutnya

5G Hanya Menjadi Lapisan Teknologi Bukan Terobosan