Sulitnya Memutus Dominasi Apple dan Samsung di Pasar Smartphone Premium

Pangsa Pasar Apple Terus Membesar Setiap Tahunnya

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Apple mampu mempertahankan kepemimpinan pasar. Namun kali ini melampaui tingkat pangsa penjualan mencapai 60% untuk pertama kalinya sejak 2017.

Pencapaian itu tak lepas dari penjualan yang solid untuk seri iPhone 12 dan iPhone 13. Kedua varian itu, sudah bisa berjalan di jaringan 5G.

Perangkat Apple yang rilisannya tertunda pada 2020 juga mendorong permintaan ke 2021. Pencapaian yang mentereng itu, membuat Apple menjadi OEM teratas di pasar premium di setiap wilayah.

Kinerja mentereng Apple juga didukung sedikit menurunnya performa sang pesaing terdekat, Samsung. Penjualan Samsung memang naik sebesar 6% YoY. Sayangnya, vendor yang berbasis di Seoul, Korea Selatan itu, kehilangan pangsa pasar. Sepanjang 2021, Samsung menggamit 17%, dibandingkan 20% pada 2020.

Varian terpopuler Samsung, S21 mengungguli S20 yang terkena dampak pandemi. Diluncurkan pada semester 1-2021, seri Galaxy Z Fold dan Flip juga mencatat sukses, terutama di Korea Selatan, Amerika Utara, dan Eropa Barat.

Karena tidak ada penyegaran Note atau FE pada 2021, peningkatan ini sangat memengaruhi pembagian. Selain itu, pasokan merek dipengaruhi oleh kekurangan komponen.

Meski pangsa pasarnya sedikit menurun, namun tak dapat dipungkiri, Samsung masih merupakan pemain kunci di segmen smartphone premium.

Bersama dengan Apple, gabungan pangsa pasar keduanya mencapai 77% pada 2021. Besarnya pangsa pasar Apple dan Samsung, menjadi tantangan yang tak ringan bagi vendor-vendor asal China yang sejak beberapa tahun terakhir, berusaha keras mencuri pasar dari keduanya.

Baca Juga: 7 Ponsel Snapdragon 8 Gen 1 yang Edar Resmi di Indonesia

Sejatinya, Huawei pernah menjadi brand yang popular dan menjadi ancaman serius bagi Apple dan Samsung. Vendor yang didirikan oleh Ren Zhenfeng itu, mampu menggamit 10% pangsa pasar pada 2018, berkat kesuksesan penjualan seri P20 dan Mate 20. Seri ponsel ini  fokus pada kamera, daya, dan desain sebagai fitur pembeda utama.

Namun, persoalan geopolitik yang mendera Huawei sejak tiga tahun terakhir, membuat persaingan tidak lagi berjalan normal. Huawei yang sebelumnya meroket, kini tertatih-tatih.

Ketiadaan layanan GMS (Google Mobile Service) pada perangkat Huawei, dan keterbatasan pasokan komponen, terutama chip imbas larangan berbisnis dengan perusahaan-perusahaan teknologi AS, membuat bisnis smartphone Huawei kini berada dalam zone “bertahan hidup”. Untuk bisa survive, Huawei kini benar-benar mengandalkan pasar dalam negeri.

Alhasil, pangsa pasar yang sebelumnya dikuasai Huawei menjadi rebutan vendor lainnya. Karena segmen ini sudah lama dikuasai oleh Apple, vendor asal Cupertino, California itu, mendapat “durian runtuh” terbanyak. Hal ini tercermin dari pangsa pasar Apple yang terus meningkat, terutama dalam dua tahun terakhir.

Dari berbagai sumber yang diolah Selular, pada 2018 pangsa pasar Apple di segmen smartphone premium sebesar 51%. Kemudian sempat menurun menjadi 47% pada 2019. Namun meningkat lagi sebesar 55% pada 2020. Dan mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah perusahaan, yaitu 60% pada 2021.

Tak dapat dipungkiri, melemahnya kinerja Huawei yang sebelumnya menjadi pemain paling diperhitungkan di segmen smartphone premium, menjadi ‘blessing in disguise’ bagi pertumbuhan Apple.

Baca Juga: Rekomendasi 4 Smartphone Premium Terkini, Harga mulai Rp8 Jutaan

Halaman berikutnya

Vivo dan Oppo Jadi Kuda Hitam di Pasar Smartphone Premium