Panggilan SPAM Kian Merajalela di Tanah Air, Rancangan Aturan Era BRTI Ini Sampai Mana?

Jakarta,Selular.ID – Indonesia yang didapuk menjadi salah sata negara dengan lalu lintas panggilan SPAM tertinggi di dunia, menurut laporan  Truecaller Global Spam Report 2021 memang ditangani secara tepat.

Pasalnya, bertengernya Indonesia di posisi 6 pada laporan tersebut tentu turut menyenggol pemerintah seperti kesigapan untuk memutus laju persoalan tersebut, pasalnya panggilan atau pesan berbau SPAM sangat identik dengan tindak kejahatan penipuan, dan hak konsumen tentunya, karena kental juga dengan muatan kegiatan marketing di dalamnya.

Sejauh ini memang, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memiliki layanan aduan panggilan telepon atau SMS spam melalui media sosial twitter @aduanPPI.

Baca juga: Wah! Indonesia Masuk Jajaran Negara yang Alami Panggilan Spam Tertinggi di Dunia

Kanal aduan media sosial twitter itu dapat dimanfaatkan masyarakat untuk melaporkan panggilan telepon atau SMS spam dengan mengirimkan rekaman percakapan atau capture (foto) pesan dan nomor telepon pemanggil dan/atau pengirim pesan, serta nomor telepon yang telah teregistrasi dengan benar dan berhak sesuai dengan KTP-el dan Kartu Keluarga.

Dan di era Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) masih beroperasi, sebenarnya SPAM yang berbau pemasaran nyaris diputus lajunya oleh aturan yang sedang lembaga tersebut godok, sebelum pada akhirnya dibubarkan oleh Presiden melalui Peraturan Presiden (Perpres) No 12 tahun 2020 tentang pembubaran 10 lembaga negara non-kementrian, yang ditetapkan dan berlaku pada 26 November 2020 lalu.

Yang dimana kala itu BRTI melalui Komisioner BRTI, I Ketut Prihadi Kresna Murti dalam pernyataanya kepada selular, sedang menyusun ketetapan soal aturan aktivitas penawaran operator selular, termasuk kegiatan marketing di dalamnya melalui layanan pesan singkat short message service (SMS).

Inti dari materi muatan pengaturan SMS penawaran/marketing itu untuk memperkuat hak konsumen, sehingga pengguna dapat menolak ataupun menerima pengiriman SMS penawaran/marketing tersebut.

Lalu yang menarik ketetapan tersebut hanya memperbolehkan paling banyak dua pesan singkat untuk setiap jenis penawaran yang diberikan kepada masyarakat. Pengiriman pesan hanya dilakukan pada pukul 08.00 – 17.00 WIB.

Baca juga: BRTI Godok Aturan Aktivitas ‘SMS’ Marketing Operator Selular

Tentu aturan tersebut sebenarnya merupakan angin segar bagi konsumen untuk terbebas dari bayang-bayang penawaran marketing, yang tak dipungkiri hampir seluruh konsumen selular pasti pernah mendapat SMS penawaran dari operator, misalnya pengisian pulsa, promo dan nada sambung pribadi (NSP), maupun dari pihak ketiga yang berisi penawaran produk.

Seharusnya jika merujuk pada Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) prosedur penawaran tidak sedemikian bebas, pada Pasal 26 Ayat 1 dengan tegas menyebut; ‘penggunaan setiap informasi melalui media elektronik yang menyangkut data pribadi seseorang harus dilakukan atas persetujuan Orang yang bersangkutan’

Ayat 2-nya berbunyi ‘Setiap Orang yang dilanggar haknya sebagai mana dimaksud pada ayat (1) dapat mengajukan gugatan atas kerugian yang ditimbulkan berdasarkan undang-undang ini’.

Apalagi di era baru saat ini, pesan SPAM tak terbatas lagi hanya melalui panggilan suara atau SMS, melainkan sudah masuk ke jejaring pesan Whatsapp, tentunya kedepan  pergerakan panggilan SPAM butuh pengaturan yang lebih kuat, agar timbul batasan yang tegas soal alur SPAM yang berbau marketing produk, terlebih untuk menindak modus penipuan yang tak menutup kemungkinan bakal hadir lebih deras kedepan.

Baca juga: SMS Spam Semakin Mengganggu, Ini Solusi Yang Bisa Diterapkan

Sekedar tambahan pula, masalah panggilan SPAM menurut laporan laporan  Truecaller Global Spam Report 2021 turut diperparah dengan masih sangat sedikit masyarakat Indonesia yang menyadari tindakan penipuan, hanya 1% dari seluruh panggilan yang diblokir ditandai sebagai penipuan, sementara angka ancaman scam terus tumbuh subur.

Secara keseluruhan Truecaller mengidentifikasi 184.5 miliar panggilan dan 586 miliar pesan. Di antara jumlah tersebut, 37,8 miliar dan 182 miliar pesan diidentifikasi dan diblokir sebagai SPAM.