Kekurangan Chip Global Untungkan Malaysia, Kok Bisa?

Kekurangan Chip Global Untungkan Malaysia, Kok Bisa?

Jakarta, Selular.ID – Malaysia menjadi negara yang mendapat “durian runtuh” dari kekurangan pasokan chip yang kini mendera industri ICT global. Negeri Jiran itu menjadi sasaran Intel yang tengah mempertimbangkan peningkatan kapasitas produksi di negara itu.

Intel diperkirakan akan memperluas kapasitas produksi di Malaysia dengan investasi yang signifikan dalam fasilitas baru. Raksasa teknologi itu ingin mendongkrak kinerjanya di tengah kekurangan chip global yang masih mendera banyak manufaktur teknologi dan diperkirakan baru akan pulih pada 2022 – 2023.

Seperti dilaporkan Bloomberg, Intel berencana untuk menginvestasikan MYR30 miliar ($7,1 miliar) dalam kemampuan pengemasan semikonduktor. Sekedar diketahui, pabrik Intel yang berlokasi di Penang, adalah salah satu yang terbesar di dunia.

Jenis chip yang dirakit di tempat ini, mencakup portfolio yang paling luas di antara negara-negara lain di Asia yang sama-sama menjadi lokasi pabrik Intel. Mencakup fasilitas perakitan, pengujian, dan pengembangan produk.

Bloomberg menyebutkan bahwa CEO Intel Pat Gelsinger, telah mengadakan pertemuan dengan Menteri Perdagangan Azmin Ali dan CEO Otoritas Pengembangan Investasi Malaysia Arham Abdul Rahman di Kuala Lumpur (15/12).

Gelsinger dilaporkan juga merencanakan pembicaraan dengan para eksekutif di Taiwan Semiconductor Manufacturing (TSMC), yang menurut Bloomberg menggarisbawahi pentingnya Asia Pasifik untuk pemulihan Intel. Perjalanan itu adalah yang pertama Gelsinger ke Asia sejak memimpin perusahaan pada Februari 2021, tambah Bloomberg.

Sebelum memutuskan memperluas kapasitas pabrik di Malaysia, pada September lalu Intel mengumumkan akan menghabiskan US$ 20 miliar setara Rp 288 triliun (kurs Rp 14.400) untuk membangun dua pabrik chip baru, yang disebut fabs, di Ocotillo, Arizona (AS).

Dengan dibangunnya pabrik baru tersebut, Gelsinger berharap perusahaan bisa bersaing di pasar global yang bernilai US$ 100 miliar pada 2025. Intel ditargetkan bisa memproduksi berbagai chip, termasuk chip berbasis teknologi ARM, yang digunakan di perangkat selular, dan secara historis bersaing dengan teknologi x86 favorit Intel.

Di sisi lain, Intel juga menargetkan perusahaan besar seperti Amazon, Google, Microsoft dan Qualcomm dapat menjadi pelanggan bisnisnya.

Bloomberg mencatat kekurangan chip didorong oleh kurangnya investasi selama bertahun-tahun dan lonjakan permintaan perangkat komputasi yang didorong oleh pembatasan karena pandemi Covid-19. Kondisi itu memberi peluang bagi produsen chip seperti Intel untuk melipatgandakan produksi.

Seperti halnya Malaysia, Jepang juga menjadi sasaran investasi produksi chip. Dua perusahaan raksasa, Taiwan Semiconductor Manufacturing Co (TSMC) dan Sony diperkirakan akan melakukan investasi bersama bernilai sekitar JPY800 miliar ($7 miliar) untuk membangun pabrik chip baru di Jepang. Pabrik baru itu diperkirakan akan memulai operasi pada 2024.

Mengutip sumber, media terkemuka Jepang, The Nikkei melaporkan kedua raksasa teknologi itu sedang mempertimbangkan untuk mendirikan pabrik chip di Prefektur Kumamoto yang akan difokuskan pada pembuatan semikonduktor untuk sensor gambar kamera, mobil dan produk lainnya.