Jaminan Asuransi dan Edukasi Hambat Pembentukan Bursa Kripto di Indonesia

Jaminan Asuransi dan Edukasi Hambat Pembentukan Bursa Kripto di Indonesia

Jakarta, Selular.ID – Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) sebelumnya melaporkan tengah menyiapkan bursa khusus untuk perdagangan aset kripto.

Namun untuk mencapai tahap itu tidak lah mudah, karena ada sejumlah tantangan yang perlu dipecahkan, dua diantaranya yang cukup krusial ialah soal jaminan asuransi, dan edukasi pelanggan terkait aset kripto.

Sekedar informasi, jaminan asuransi terkait soal perdagangan aset kripto dibutuhkan guna menghadirkan mitra asuransi baik dari Indonesia atau entitas asuransi luar negeri untuk bisa diajak bekerja sama.

Pasalnya, dalam ekosistem tersebut akan ada lembaga kliring yang memberikan jaminan atas transaksi yang dilakukan.

Sedangkan pada sisi endukasi pelanggan terhadpa aset kripto lebih pada  pemahaman yang kuat terhadap investasi pada aset ini, sehingga tidak hanya sekedar  tren belaka.

Merespon hal tersebut, Jeth Soetoyo, Founder dan CEO Pintu, aplikasi jual beli bitcoin menjelaskan memang dua tantangan tersebut sejauh ini cukup menghambat berdirinya bursa khusus perdagangan aset kripto.

“Dari segi asuransi, Bappebti, kami (Pintu) dan pemain kripto lain masih mengkaji. Terus terang di Indonesia sendiri belum diketahui pasti pemain mana yang akan kita ajak kerja sama dalam bursa khusus untuk perdagangan aset kripto Indonesia,” ujar Jeth kepada Selular, Kamis (9/12).

Tentu alasan ini menjadi penting, pasalnya perdagangan kripto merupakan investasi dengan mengandalkan instrument digital, sehingga hal tersebut rentan risiko yang merugikan konsumen.

Jeth melanjutkan di Pintu sendiri, untuk menjamin aset tersebut terjaga aman, bekerja sama dengan custodian dan asuransi asing, institusi khusus finansial yang memegang sekuritas guna meminimalkan risiko penyalahgunaan.

“Jadi aset kripto nasabah disimpan di sebua tempat yang tidak tehubung dengan internet, adanya pencurian di berbagai exchange aset-aset itu akan aksesnya berhasil di bobol karena terhubung ke internet. Di kami tidak demikian, dan institusi tersebut pun memberikan asuransi terhadap aset-aset kami apabila terjadi kebobolan,” sambungnya.

Lalu dari sisi edukasi, Jeth pun menegaskan juga menjadi kunci penting, sehingga dirinya tidak heran jika Bappebti mengambil peran pada keamanan, karena erat kaitanya dengan ketertarikan masyarakat terhadap investasi digital ini.

“Memang konsumen saat ini masih membutuhkan banyak sekali edukasi, faktanya puna masih banyak masyarakat yang masih harus berurusan dengan kejahatan finansial. Ini juga bukan tugas Bappebti sendiri, atau Pintu tetapi tugas semuanya, harus mengelar edukasi kepada masyarakat,” papar Jeth.

Apalagi jumlah pelanggan aset kripto di Indonesia terus bertumbuh. Berdasarkan catatan Bappebti saat ini jumlah pelanggan aset kripto Indnesia di perdagangan mencapai 7,5 juta orang.

Angka itu melonjak hampir dua kali lipat dari tahun lalu yang jumlah pelanggannya baru mencapai 4 juta orang.  Begitupun dengan nilai transaksinya meningkat menjadi Rp 478,5 triliun hingga Juli 2021 saja, naik signifikan dari 2020 yang angkanya Rp 65 triliun.