spot_img
BerandaBincang EksekutifApjatel: Penetrasi Fixed Broadband Masih Fokus Ke Kota Besar Ketimbang Daerah

Apjatel: Penetrasi Fixed Broadband Masih Fokus Ke Kota Besar Ketimbang Daerah

-

Jakarta, Selular.ID – Persoalan pembangunan infrastruktur jaringan di Indonesia masih penuh tantangan. Terlebih Tanah Air yang digadang-gadang memiliki pasar bisnis fixed broadband yang sangat potensial, dengan memiliki luas wilayah memadai, ditambah jumlah penduduk dengan konsumsi internet tinggi, membuat layanan fixed broadband semakin gemilang untuk digarap.

Kendati demikian, untuk mengakselerasi jaringan fixed broadband tidak lah mudah. Banyak sekali hambatan yang musti diperhatikan, setidaknya hal ini lah yang dikungkap oleh Muhammad Arif Angga, Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (Apjatel), dalam acara Bincang Eksekutif yang digelar Selular, dengan mengangkat tema ‘Mengupas Tantangan dan Peluang Bisnis Fixed Broadband’, berikut kutipanya:

Bagaimana kondisi bisnis fixed Broadband saat ini?

Kondisi terkini, jujur rencana pita lebar dari Rencana Pita Lebar Indonesia 2014-2019, yang dimaan menargetkan lebih dari 70 persen, akhir tahuh lalu baru sekitar 15 persen penetrasi fixed broadband, data sekarang mungkin meningkat saya belum dapat, tetapi perkiraan saya itu belum sampai 20 persen.

Kondisi ini bisa karena para pemain di bisnis fixed Broadband melakukan overlapping, jadi hanya bermain di kota-kota besar saja yang berpenduduk banyak. Bisa dibayangkan di Jakarta saja ada puluhan operator layanan fixed broadband, sedangkan di kota kecil ada 1 atau 3 pemain saja. Alhasil yah, penetrasinya sedikit artinya kurang meningkat karena jaringan digelar secara berulang saja.

Kemudian dirinya pun menilai, walaupun UU No. 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja memayungi dengan memberikan kemudahan dalam penggelaran fiber optik, nyatanya implementasi dilapangannya pun masih sama.

Aturanya kan bagus, misal ada aturan yang menghimbau pemerintah daerah beri kemudahan untuk gelar jaringan, tapi  implementasinya sama saja, UU Cipta Kerja ada atau enggak ada bedanya tidak jauh.

Bagaimana perkembangan fixed broadband di Tanah Air?

Pulau Jawa tetap menjadi fokus sih, Java backbone itu pemainnya diataas 20 sudah menjadi barang biasa saja saat ini. Teman-teman pun hingga kini masih terus menggelar di Jawa karena memang potensinya masih sangat besar, marketnya itu terus bertumbuh di luar ibu kota, misal di kabupaten itu tidak bisa dipungkiri.

Saya ada costumer di Kalimantang Tengah, itu nyari vedornya setengah mati tidak nemu-nemu, karena memang pasarnya itu kecil jadi 80 persen hutan, dan 20 persennya itu baru costumer.

Baca juga :  Ini Alasan Merger Operator Seluler Tidak Terbentur Aturan Persaingan Usaha

Terlebih juga kan pada prinsipnya untuk mengelar jaringan itu tidak lebih murah jika jauh, belum logistiknya, anggaran, dan pastinya pengeluaran jauh tidak lebih murah, ketimbang menggelar di kota-kota besar.

Seperti apa upaya pemerintah untuk mendorong layanan fixed broadband?

Kita setoran Universaal Service Obligation (USO), kadang-kadang kita memang juga berharap dana USO, karena seolah-olah menyentuh layer tertentu  saja. Dan kami pun kurang mendapat manisnya dana USO, kami sebenarnya juga mendapat complain dari teman-teman Apjatel.

Cuma memang dibandingkan selular, mungkin beda anggaranya maaf sebelumnya memang ini bukan informasi umum lagi. Jadi sebenarnya, banyak pemain kecil bisa menjadi ujung tombak dari penetrasi fixed broadband di Indonesia di Tanah Air, seharusnya  pemerintah kasih gula-gula untuk mereka para pemain perintis tersebut, dan diberi perhatian khusus.

Baca juga :  Segmen B2B Bakal Menjadi Tambang Uang Operator di Era 5G

Seperti apa pasar dari layanan fixed broadband saat ini?

Potensinya mungkin belum menjadi konsen pemerintah saja, dan kalau saya lihat itu layanan fixed broadband sudah murah sekali, dan tidak bisa dibandingkan dengan layanan selular yah. Kita saat ini bayar Rp300 ribu saja sudah bisa menikmati layanan internet satu rumah, lebih ekonomis.

Memang sepertinya pemerintah kita perlu dikasih masukan, agar lebih konsentrasi di fixed broadband. Dan kadang-kadang lucunya kita membahas industri 5.0, terus kita mau 5.0-apanya jika jaringannya belum dibangun, kadang-kadang kan memang mereka lupa.

Seperti apa tantangan untuk memajukan fixed broadband?

Perizinan juga menjadi hambatan, sampai kita pun bersahabat dengan hal tersebut. Sekali lagi UU Cipta Kerja yang memayungi dengan memberikan kemudahan dalam penggelaran fiber optik itu bagus, tapi perakteknya belum terasa.

Jadi jika kita melihat otonomi daerah, Pemerintahan Daerah itu memiliki wewenang untuk wilayahnya, saat menggelar jaringan ada izin penggunaan lahan dan lain sebagainya, itu enggak salah juga sebenarnya karena otonomi daerah yah, mungkin mereka juga tidak mau nyusahin tetapi ada dana tertentu yang harus kita leawati.

Tetapi dalam perkembangan, sekarang untuk menggelar jaringan jauh lebih kompetitif dari sisi harga untuk perangkat. Banyak opsi juga dari beragam perangkat, bahan baku jauh lebih murah tapi memang tantangan dari perizinan.

spot_img

Artikel Terbaru