spot_img
BerandaNewsTelcoMulai dari Kandidat CEO Hingga Kepemilikan Frekuensi, Ketahui 6 Fakta Merger Indosat...

Mulai dari Kandidat CEO Hingga Kepemilikan Frekuensi, Ketahui 6 Fakta Merger Indosat -Tri Indonesia  

-

Jakarta, Selular.ID – Indosat Ooredoo dan Tri Indonesia resmi merger, kedua perusahaan tesebut kini melebur menjadi satu dengan mengusung nama PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (Indosat Ooredoo Hutchison).

Kesepakatan merger tersebut sangat potensial bagi laju bisnis perusahan kedepan, dan kini mereka menjadi perusahaan telekomunikasi terbesar kedua di Indonesia dengan perkiraan pendapatan tahunan hingga US$3 miliar.

Tentunya kabar dua operator ini menjadi sangat menarik untuk dinanti, dan bakal seperti apa sepak terjangnya kedepan nanti. Untuk melihat seberapa kuat dari gabungan dua perusahaan operator ini, berikut beberapa fakta menariknya:

Kepemilikan Saham

Perlu Anda ketahui, saat ini Ooredoo Group memiliki 65 persen saham dan kendali atas Indosat Ooredoo lewat Ooredoo Asia, sebuah perusahaan induk yang dimiliki sepenuhnya.

Penggabungan Indosat dan H3I akan berimbas ke CK Hutchison menerima saham baru di Indosat Ooredoo hingga 21,8 persen dari Indosat Ooredoo Hutchison.

Lalu  PT Tiga Telekomunikasi akan menerima saham baru Indosat Ooredoo hingga 10,8 persen dari Indosat Ooredoo Hutchison. Bersamaan dengan penggabungan bisnis, CK Hutchison akan mendapatkan 50 persen saham dari Ooredoo Asia dengan menukar 21,8 persen sahamnya di Indosat Ooredoo Hutchison untuk 33 persen saham di Ooredoo Asia.

Kemudian, CK Hutchison juga akan mendapatkan tambahan 16,7 persen kepemilikan di Ooredoo Group lewat transaksi senilai US$387. Menyusul transaksi di atas, Para Pihak masing-masing akan memiliki 50 persen dari Ooredoo Asia, yang akan diberi nama baru yaitu Ooredoo Hutchison Asia dan memiliki 65,6 persen saham dan kendali atas Indosat Ooredoo Hutchison. Pada akhir transaksi, Indosat Ooredoo Hutchison akan dikendalikan secara bersama-sama oleh Ooredoo Group dan CK Hutchison.

Nilai Transaksi

Kemudian niali transaksi Ooredoo Group dan CK Hutchison Holdings Limited menyepakati penggabungan unit usaha masing-masing, PT Indosat Tbk. dan PT Hutchison 3 Indonesia. Nilai transaksi merger ini mencapai US$6 miliar atau setara Rp85,62 triliun.

Baca juga :  Begini Gambaran Ketersediaan Spektrum Potensial 5G di Tanah Air

Penguasaan Frekuensi

Kemudian pada siis frekuensi yang bakal dikuasai, Indosat Ooredoo menggunakan frekuensi sebesar 47,5 MHz yang tersebar di 850 (2,5 MHz), 900 (10 MHz), 1800 (20 MHz) dan 2100 MHz (15 MHz).        Sedangkan Tri Indonesia memiliki frekuensi sebesar 25 MHz yang tersebar di 1800 (10 MHz) dan 2100 MHz (15MHz).

Maka jika sumber frekuensi ini tetap dikelola, maka frekuensi gabungan kedua yang dikantongi menjadi 72,5 MHz.

Kekuatan 5G

Frekuensi gabunganya bakal menghasilkan di 1800 dan 2100 Mhz, bahkan besaranya bisa menjadi dua kali kepemilikian pada operator lain di band yang sama.

Baca juga :  Peran Kemenkominfo Dorong Pengembangan Industri Handset 5G

Sehingga frekuensi tersebut sudah menjadi pita 5G, potensinya menjadi tidak lagi tertandingi.

Kandidat CEO

Dalam keterangan resminya, para pihak yang terlibat memastikan akan menominasikan Vikram Sinha sebagai CEO perusahaan baru ini dan Nicky Lee sebagai CFO Indosat Ooredoo Hutchison.

Sedangkan Ahmad Al-Neama akan tetap menjalankan tugasnya sebagai President Director and CEO Indosat Ooredoo, dan Cliff Woo akan tetap bertugas sebagai CEO H3I hingga proses merger selesai.

Selanjutnya jika disetujui oleh Indosat Ooredoo, maka sosok Ahmad Al-Neama dan Cliff Woo akan duduk di Dewan Komisaris perusahaan gabungan.

Tiga kali perpanjang finalisasi perjanjian

Untuk mencapai titik ini kesepakatan ini tidak lah mudah, namun membutuhkan waktu yang sangat panjang. Kesepakatan kedua belah pihak antara Ooredoo dan CK Hutchison Holdings Limited seharusnya sudah berada di babak final pada Senin, 16 Agustus, namun kembali di perpanjang hingga 23 September 2021, terkait kemungkinan transaksi menggabungkan Indosat Ooredoo dan 3 Indonesia.

Sebelumnya juga aksi merger tersebut sebelumnya juga telah mengalami dua kali perpanjangan waktu finalisasi perjanjian, yaitu pada 30 Juni dan 30 April 2021.

spot_img

Artikel Terbaru