Beranda Smartphone Pengamat: Insiden Terbakar Produk Y20, Dapat Menganggu Kinerja Vivo di Indonesia

Pengamat: Insiden Terbakar Produk Y20, Dapat Menganggu Kinerja Vivo di Indonesia

-

Jakarta, Selular.ID – Vivo dirundung polemik serius yang dimana produk tipe Y20 terbakar hebat di Bandara Internasional Hong Kong (HKCAD), yang sebelumnya  direncanakan akan dimuat pesawat maskapai Hong Kong Airlines/Hong Kong Air Cargo Courier (RH/HX) pada Minggu (11/4) kemarin.

Akibat insiden itu, buntut masalahnya kini sampai ke Indoneisa. Dimana Vivo mengalami larangan oleh  Maskapai Garuda, melalui Surat Pemberitahuan Informasi Kargo Nomor QA/007/IV/2021 dengan tajuk ‘Pelarangan Pengiriman Kargo Mobile phone (HP) Vivo Semua Tipe’.

Pengamat gadget Lucky Sebastian, menyebut jika insiden itu bisa menganggu kinerja Vivo di Indonesia. Terlebih brand asal China ini memiliki citra baik, dan juga menjadi salah satu brand terfavorit konsumen tanah air.

Baca juga: Buntut Insiden Ponsel Vivo Terbakar, Garuda Indonesia Rilis Surat Larangan  

Bahkan berdasarkan laporan Canalys dalam laporanya untuk kuartal IV-2020, mencatat Vivo berhasil mendominasi ponsel pintar di Indonesia dari sisi pengiriman (shipment). Pangsa pasar Vivo mencapai 25% di tanah air, diikuti oleh rivalnya Oppo pada peringkat kedua dengan pangsa pasar 24%.

“Insiden itu tentu bisa menganggu kinerja Vivo di Indonesia. Tetapi biasanya, kondisi ini kalau bisa ditangani dengan baik, kepercayaan konsumen juga bisa dipulihkan. Kita lihat Samsung yang pernah mengalami hal serupa juga berhasil memulihkan kepercayaan konsumen, meskipun setiap kali ada kejadian seperti ini, kisahnya tetap diingat. Tetapi yang penting kini masyarakat sudah tidak ragu lagi membeli smartphonenya,” tutur Lucky, kepada selular.

Yang menjadi catatan penting juga menurut Lucky, Vivo harus bergerak cepat, menyelidiki, dan melakukan klarifikasi, kemudian menyatakan akan menjamin kejadian ini tidak akan terulang.

Biasanya untuk mengetahui sebab sebuah produk terbakar, apakah kesalahan dari pabrikan baterai, kesalahan desain smartphone, atau karena faktor luar, membutuhkan penyelidikan yang lebih seksama.

Baca juga: Hong Kong Airlines Tolak Bawa Smartphone Vivo, Ini Penyebabnya

“Dan pihak vendor selain mengirimkan team untuk menyelidiki kejadian itu, juga biasnya dibantu para ahli lain dari pihak ketiga yang kompeten untuk mendapat kesimpulan mengapa baterai failure. Jadi untuk ini kita tunggu saja hasilnya, itupun kalau nanti vendor mau mengungkapkan dengan terbuka kepada publik soal apa penyebab kejadian itu,” sambungnya.

Merespon insiden itu, Vivo Indonesia juga secara sigap telah membentuk tim khusus yang bekerja sama dengan otoritas Hong Kong, untuk mencari tahu penyebab kebakaran palet kargo yang diduga berisi ponsel Vivo Y20. “Kami memberikan perhatian tinggi pada hal ini dan segera membentuk tim khusus untuk bekerja sama dengan otoritas lokal terkait untuk mencari tahu penyebabnya,” ujar Vivo Indonesia melalui keterangan tertulis.

Indikasi masalah berasal dari baterai

Berdasarkan kabar yang beredar, indikasi penyebab insiden kebakaran yang menimpa produk Vivo itu berasal dari baterai lithium-ion yang digunakan pada smartphone tersebut.

Lucky menjelaskan semua perangkat yang menggunakan baterai terutama baterai lithium-ion itu bisa mengalami kejadian yang sama. Penyebabnya bisa bermacam-macam, dari ketidak sempurnaan pembuatan baterainya, dari desain baterai, dari desain perangkatnya, bahkan faktor luar, seperti panas atau tekanan.

“Sampai sekarang walapun sudah puluhan tahun, teknologi baterai memang belum ada terobosan baru, tapi lebih kepada penyempurnaan baterai Lithium-ion. Baterai tipe ini dianggap baterai yang bisa menyimpan kapasitas daya yang cukup dalam ukuran yang pas, dan umurnya cukup panjang. Kendala dari baterai Lithium-ion bisa terbakar atau meledak karena bahan kimia di dalamnya,” paparnya.

Baca juga: Rekomendasi 7 Perangkat IoT Oppo Terkini

Dan perlu Anda ketahui secara struktur baterai Lithium-ion ini berisi lapisan penyimpan ion, semakin besar kapasitas, semakin banyak lapisan tersebut. Lapisan ini dipisahkan oleh separator.

Sekarang ini karena tuntutan kapasitas baterai yang besar tetapi tidak ingin baterainya bertambah besar, dan membuat smartphone menjadi tebal, maka separator ini dibuat semakin kecil jaraknya, bisa sampai 12micron (micron 1/1jt meter). Diantara lapisan penyimpan ion dan separator ini ada larutan elektrolit, dimana larutan kimia ini berpotensi mudah terbakar.

Maka jika lapisan penyimpan ion positif dan negatif yang dipisahkan separator yang sangat tipis bertemu, maka terjadi korsleting, menimbulkan percikan api dan bisa membakar larutan elektrolit kemudian meledak menimbulkan api. “itu sebabnya kita tidak boleh menusuk atau memukul baterai Li-Ion, karena bisa menyebabkan baterai Korsleting dan terbakar,” ungkap Lucky.

Baca juga: Ini Dia Rekomendasi ‘Terkini’ Smartphone Oppo

Dulu memang untuk perlindungan ekstra, baterai lithium-ion ini diberli lapisan ‘jaket’ metal untuk menahan tekanan dan tusukan. Tetapi karena kebutuhan baterai kapasitas yang besar, jaket metal dihilangkan karena dinilai menambah tebal lapisan. “Ini yang juga membuat pengerjaan baterai lithium-ion harus lebih presisi dan hati-hati, termasuk uji coba yang cukup dan memenuhi sertifikasi,” tandas Lucky.

Artikel Terbaru