Beranda News Startup Ini Dia Tantangan Proyek Silicon Valley Ala Indonesia  

Ini Dia Tantangan Proyek Silicon Valley Ala Indonesia  

-

Jakarta, Selular.ID – Indonesia direncanakan bakal memiliki Kawasan pengembangan teknologi layaknya ‘Silicon Valley’ di Amerika Serikat (AS). Lokasinya akan berada di Sukabumi, Jawa Barat dan akan diberi nama Bukit Algoritma.

Pembangunan kawasan perusahaan teknologi itu, dikabarkan akan mengelontorkan dana untuk tahap awal senilai Rp 18 triliun, dan proyek itu bakal dikendalikan politikus PDIP Budiman Sudjatmiko, yang sekaligus menjadi Direktur Utama Kiniku Nusa Kreasi, perusahaan yang akan bertanggung jawab dibalik pembangunan Bukit Algoritma.

Indef, dalam diskusi daring bertajuk ‘Menyingkap Angan Silicon Valley ala Indonesia’, menyebut proyek Slicon Valley ala Indonesia ini perlu dikajai sekaligus kritisi secara mendalam.

Baca juga: Huawei Kembangkan Teknologi Pengisian Nirkabel Jarak Jauh

Kepala Center of Innovation and Digital Economy Indef Nailul Huda menyebut, proyek Bukit Algoritma didasari berbagai permasalahan mendasar yang cenderung belum terselesaikan, “persoalan pertama yang harus diselesaikan adalah masih sangat rendahnya ekosistem riset dan pengembangan di Indonesia. Berdasarkan data Unesco 2021, proporsi dana R&D terhadap PDB secara total masih berkisar 0,24 persen. Angka itu masih sangat tertinggal dari Singapura yang sudah 2,22 persen,” kata Huda.

Lalu yang juga menjadi problem mendasar ialah soal sumber daya manusia (SDM) di Indonesia masih belum mencukupi untuk masuk ke dalam Industri 4.0. “Hal ini bis akita lihat dari jumlah peneliti Indonesia yang sangat rendah, yaitu 216 dari 1 juta penduduk. Bahkan proporsi penduduk Indonesia yang ahli dalam pemrograman komputer masih rendah, hanya 3,5 persen dari penduduk muda dan dewasa,” sambung Huda.

Dari keahlian penguasaan teknologi dengan masih banyaknya desa di luar Pulau Jawa yang kesulitan mendapatkan akses sinyal, terutama di Maluku dan Papua. Bahkan, ada 70 persen lebih desa yang belum mendapatkan sinyal seluler yang baik.

Sementara itu, Direktur Program Indef, Esther Sri Astusti menambahkan dana penelitian dan pengembangan atau research and development (RnD) sangat rendah, sehingga berdampak pada kapasitas inovasi dan kesiapan teknologi Indonesia.

Baca juga: Pengamat: Insiden Terbakar Produk Y20, Dapat Menganggu Kinerja Vivo di Indonesia

Jika dibandingkan di lingkup negara ASEAN, dana RnD milik Indonesia terlampau kecil, “Dana RnD kita cuma 0,24 persen dari PDB padahal di Malaysia dan Thailand sudah relatif lebih banyak, apalagi Singapura. Mereka sadar betul RnD dan inovasi sangat penting untuk kemajuan negaranya.” ungkapnya.

Dan yang menjadi kendala juga Bukit Algoritma dinilai akan gagal jika tidak ada kolaborasi tepat yang terjadi di dalamnya. “Untuk bisa mewujudkan kawasan khusus high tech zone yang mendongkrak pertumbuhan ekonomi perlu adanya struktur ekologi dan platform yang mendukung kolaborasi industri, universitas, dan pusat riset pemerintah,” katanya.

Setidaknya memang hal itu yang tercermin dari Silicon Valley, di AS, yang dimana memang dibentuk berdasarkan konsep triple helix collaboration atau kolaborasi antara pemerintah, industri, dan lembaga pendidikan atau universitas.

Artikel Terbaru