Beranda News E-Commerce Shopee, E-Commerce Singapura yang Dituduh Bunuh UMKM

Shopee, E-Commerce Singapura yang Dituduh Bunuh UMKM

-

Jakarta, Selular.ID – Di tengah pertumbuhan yang luar biasa di pasar Indonesia, Shopee justru dilanda isu tidak sedap. Market place asal Singapura itu dinilai dinilai lebih banyak menyediakan barang-barang impor di aplikasinya sehingga dapat mematikan UMKM.

Alhasil, tagar #ShopeeBunuhUMKM ramai dibicarakan di media sosial. Para netizen beramai-ramai menggunakan tagar tersebut sebagai bentuk protes terhadap produk China yang dinilai terlalu murah, membuat produk lokal Indonesia kalah saing.

Munculnya tagar yang menyudutkan Shopee itu, tak bisa dilepaskan dari seruan Presiden Jokowi agar masyarakat Indonesia membenci produk asing.

Seperti dilansir dari CNBC (6/3/2021), Jokowi geram dengan praktik perdagangan online (e-commerce) yang membunuh usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) Indonesia karena praktek predatory pricing.

Kegeraman kepala negara tersebut diutarakan saat memberikan pengarahan dalam Rapat Kerja Nasional Kementerian Perdagangan di Istana Negara, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (4/3/2021).

“Baru minggu kemarin saya sudah sampaikan ke pak Menteri Perdagangan  ini ada yang engak bener ini di perdagangan digital kita. Membunuh UMKM,” tegas Jokowi.

Jokowi meminta kementerian terkait untuk menindak praktek perdagangan digital yang berperilaku tidak adil terhadap UMKM. Jokowi meminta agar oknum-oknum yang dimaksud diperingatkan.

“Diperingkatkan karena kita harus membela, melindungi, dan memberdayakan UMKM kita agar naik kelas. Ini salah satu tugas terpenting Kementerian Perdagangan,” tegas Jokowi.

Meski menilai bahwa praktek perdagangan digital tidak berlaku adil, Jokowi tidak menyebut aplikasi e-commerce apa yang membunuh UMKM.

Namun persepsi yang muncul di masyarakat bahwa e-commerce itu adalah Shopee. Mengingat selama ini penjualan produk-produk yang ditawarkan market place yang didirikan oleh Forrest Li itu,  kebanyakan berasal dari China dan harganya lebih murah dibandingkan produk lokal.

Keluhan Presiden Jokowi terhadap perdagangan digital yang berlaku tidak adil terhadap UMKM, sebenarnya bukan kali pertama disampaikan oleh pemerintah. Wakil Presiden (saat itu) Jusuf Kalla  menyebut 94 persen perdagangan e-commerce Indonesia didominasi produk China.

Jusuf Kalla mengatakan, meskipun ekonomi berbasis elektronik di Indonesia terus naik, dia menyayangkan mayoritas produk yang dijual didominasi oleh produk asing terutama China.

E-commerce itu dari sisi pertumbuhannya tentu tidak bisa ditahan,” katanya, di Kantor Wakil Presiden, Rabu, 27 Desember 2017.

Namun Kalla mengingatkan bahwa akan lebih baik jika produk yang merajai e-commerce adalah juga produk buatan dalam negeri. Oleh karena itu, pemerintah akan mengatur kesetaraan dalam perdagangan supaya produk dalam negeri bersaing secara adil dengan produk e-commerce impor.

Sebelumnya, Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengeluhkan bisnis online yang tengah melesat saat ini malah didominasi oleh produk-produk impor. Dia menyebut barang impor yang diperjualbelikan di e-commerce mencapai 95 persen dan didominasi oleh produk China. Sedangkan produk lokal hanya menyumbang 5 persen.

Di sisi lain, Direktur INDEF Enny Sri Hartati  menilai, bahwa pemerintah bahwa kurang antisipasi terhadap perubahan lingkungan bisnis yang bergerak ke arah digital. Menurutnya, kondisi ini bisa terjadi karena kesalahan pemerintah sendiri yang tidak membuat aturan yang jelas sehingga pengusaha bisa bebas menjual produk mereka.

“Jangan salahkan yang jual, ini salah pemerintah. Seharusnya ada aturannya, seperti bayar pajak, teregister seperti halnya seperti orang jual di Indonesia,” kata Enny.

Enny menyarankan kepada pemerintah agar segera bergerak dan membuat aturan yang pasti menyangkut perdagangan digital. Barang atau produk yang dijual di pasar online sebaiknya teregister dan meminta izin sebelum memasarkannya. Selain itu, kualitas barang juga harus diuji apakah sesuai SNI atau tidak.

“Artinya harus ada izin dan teregister. Selain itu kualifikasi juga harus sesuai SNI. Sekarang karena tidak ada aturannya jadi liar,” pungkas Enny.

Terlepas dari polemik yang saat ini tengah mencuat dan berpotensi merusak reputasi perusahaan, Kinerja Shopee belakangan memang sangat mentereng. Produk yang lengkap dan harga yang lebih murah terbukti mengatrol posisi Shopee di tengah kompetisi ketat dengan platform sejenis.

Menurut data dari iPrice yang diterbitkan pada September 2020, peta e-commerce di Indonesia sudah mengalami pergeseran dari sebelumnya di mana Tokopedia telah disalip oleh Shopee.

Menurut iPrice, Shopee kini berjaya sebagai website ecommerce pertama di Indonesia mulai dari Q4 2019. Tercatat jumlah pengunjung Shopee selama satu bulan saja sekitar 93 juta lebih.

Tokopedia yang sebelum berada di puncak, kini tergeser ke posisi kedua oleh Shopee. Tercatat setiap bulannya ada sekitar 86 jutaan lebih pengunjung yang mampir ke Tokopedia. Menyusul di tempat ketiga Bukalapak. Tercatat setiap bulannya ada sekitar 35 jutaan pengunjung yang membuka situs Bukalapak. Terpaut jauh dari pengunjung bulanan Tokopedia dan Shopee.

Artikel Terbaru