Sunday, September 20, 2020
Home News Feature Menelisik Jalan Terjal Uber Mencetak Keuntungan

Menelisik Jalan Terjal Uber Mencetak Keuntungan

-

Jakarta, Selular.ID – Pandemi virus corona bak tsunami bagi dunia usaha. Sebagian besar perusahaan pada akhirnya harus merevisi target yang telah disusun. Padahal proyeksi sebelumnya terbilang optimis dapat mereka capai pada 2020, setelah bertahun-tahun menemui jalan berliku.

Salah satunya adalah Uber. Perusahaan ride hailing asal negeri Paman Sam itu memperkirakan adanya kenaikan biaya hingga $2,2 miliar, pada kuartal pertama 2020. Di sisi lain, Uber memperkirakan pendapatan bakal menurun dari sebelumnya $ 22 juta menjadi hanya sebesar $17 juta pada kuartal tersebut, akibat serbuan virus yang mengguncang dunia.

Seperti dilaporkan Reuters, dalam paparan kinerja yang diterbitkan pekan ini, perusahaan memperkirakan proyeksi sepanjang 2020 untuk pemesanan kotor, pendapatan bersih dan EBITDA disesuaikan. Uber juga mengatakan berbagai inisiatif yang diambil dalam menanggapi wabah, termasuk bantuan keuangan untuk pengemudi dan pengiriman, akan diperhitungkan dalam pendapatan kuartal pertama dan kedua.

Sebelumnya pada Maret lalu saat wabah corona mulai menyebar cepat ke seluruh dunia, perusahaan yang bermarkas di San Fransisco itu, menjanjikan 10 juta perjalanan gratis dan pengiriman makanan ke petugas kesehatan, manula, dan orang-orang yang membutuhkan, selama periode lockdown diberlakukan demi membendung penyebaran virus corona.

Uber juga berkomitmen memberikan bantuan keuangan bagi para driver-nya yang positif corona atau harus dikarantina karena terinfeksi virus mematikan itu.
Perusahaan yang didirikan oleh Travis Kalanick itu, akan memberikan bantuan keuangan selama dua minggu pada pengemudi yang positif corona. Mereka yang wajib menjalani karantina dua pekan karena alasan yang sama juga akan dapat bantuan finansial.

Karena jumlah yang didapat setiap driver setiap hari tidak menentu, Uber akan membuat rata-rata pemasukan dalam enam bulan ke belakang. Jika si driver belum genap enam bulan menjadi rekan mereka, maka rata-ratanya diambil dari saat mereka mulai bergabung sampai 6 Maret 2020.

Bagi pengemudi Uber yang menghasilkan US$28,57 (Rp442.000) per hari, maka selama dua pekan dia akan menerima US$400 (Rp6,1 juta). Sementara jika mitra pengemudi perharinya bisa mendapat US$121,42 (Rp1,8 juta), maka selama dua pekan Uber akan memberi bantuan total sebesar US$1.700 (Rp26,3 juta).

Selain kuartal pertama yang turun, Uber juga memperkirakan pendapatan bakal anjlok sekitar $60 juta hingga $80 juta pada kuartal kedua. Uber menyebutkan bahwa biaya penurunan nilai akan bertentangan dengan nilai tercatat dari beberapa investasi ekuitas minoritas perusahaan, karena dampak pandemi pada nilai estimasi entitas tersebut.

Investasi akan dikurangi dengan kisaran sekitar $1,9 miliar hingga $2,2 miliar selama kuartal pertama yang berakhir 31 Maret, imbuh Uber. Meski dibayangi penurunan pendapatan, saham Uber tercatat naik sekitar 6,6% dalam perdagangan yang diperpanjang pada pekan ini. Perusahaan diharapkan melaporkan hasil untuk kuartal pertama pada 7 Mei 2020.

Meski sudah menjadi perusahaan kakap, kinerja Uber sejauh ini masih terbilang turun naik. Sepanjang 2019 lalu, Uber mencetak pemesanan bruto yang tumbuh sebesar $4,0 miliar tahun-ke-tahun menjadi $18,1 miliar, mewakili pertumbuhan 28% tahun-ke-tahun, atau 30% berdasarkan mata uang konstan. Sejauh ini dua layanan utama masih menjadi tambang uang Uber, masing-masing Ride dan Eats yang tumbuh 20% dan 73% dari tahun ke tahun.

Pada 2019 Uber diperkirakan memiliki lebih dari 110 juta pengguna di seluruh dunia. Di Amerika Serikat, pangsa pasarnya mencapai 67% untuk layanan taksi daring 24% untuk pengiriman makanan.

Walau mencatat pertumbuhan pendapatan yang signifikan, Uber melaporkan masih mengalami rugi bersih $1,1 miliar pada kuartal keempat 2019. Namun tidak sebanyak kuartal sebelumnya, ketika perusahaan kehilangan $1,2 miliar. Kerugian terbesar tercatat pada kuartal kedua 2019, di mana Uber kehilangan $5,2 miliar hanya dalam waktu tiga bulan.

Ambyar Karena Corona

Secara keseluruhan, Uber mengungkapkan kehilangan $8,5 miliar pada tahun 2019 – sebuah tanda betapa curamnya jalan menuju keuntungan yang ingin diraih Uber. Padahal sebelumnya, perusahaan optimis bisa menambah laba berdasarkan kinerja yang diraih pada akhir 2020. Namun wabah virus corona, dipastikan membuyarkan semua rencana yang sudah dibangun oleh manajemen Uber.

Uber sejauh ini telah mendapat tekanan dari investor untuk membendung kerugian besar yang masih terjadi setiap tahunnya. Setelah dibangun pada 2009, investor tentu berharap Uber yang merupakan pioneer dalam bisnis ride hailing ini, mulai membukukan keuntungan.

Pada tahun ini, Uber telah menjadi perusahaan public. Namun pasca IPO, perusahaan justru masih merugi. Membuat investor mengajukan pertanyaan tentang keberlanjutan jangka panjang dari bisnis transportasi berbasis aplikasi. Imbas dari kerugian tersebut, membuat Uber harus memberhentikan sekitar 1.000 pekerja tahun lalu di tengah upaya restrukturisasi.

Sebelumnya dalam upaya memperbaiki kinerja perusahaan, Uber telah melego bisnisnya di sejumlah kawasan kepada para pesaing. Seperti yang dilakukan kepada Grab pada Maret 2018. Sebagai konsekuensi dari keputusan itu, Uber dikabarkan turut mendapat saham antara 25 sampai 30 persen dari bisnis gabungan yang melibatkan Grab.

Sebelumnya, Uber juga telah menjual kepemilikan sahamnya di China kepada Didi Chuxing. Uber pun tercatat menjual bisnisnya kepada perusahaan teknologi asal Rusia, Yandex.

CEO Uber Dara Khosrowshahi pernah mengungkapkan, dengan menarik diri dari pasar di Asia Tenggara, Uber dapat meningkatkan profit mereka dari yang sebelumnya merugi hingga 10,7 miliar dolar AS selama sembilan tahun terakhir. Khosrowshahi juga memberi sinyal kemungkinan Uber akan fokus pada Jepang dan India untuk pasar di Asia.

Selain persoalan keuangan yang masih mendera, Uber juga menghadapi tekanan besar dari regulator. Saat ini Uber masih berjuang untuk mematuhi undang-undang pekerjaan baru di California yang membuat perusahaan semakin sulit untuk mengklasifikasikan pengemudi sebagai kontraktor independen.

Uber juga mendapat tekanan di banyak negara, seperti yang dilakukan otoritas Inggris. Pada tahun lalu, perusahaan kehilangan lisensi di London setelah regulator mengidentifikasi “pola kegagalan.”

Awalnya, Uber mengatakan menargetkan 2021 sebagai tahun pertama yang menguntungkan. Dalam panggilan dengan investor, Uber Dara Khosrowshahi mengatakan dia menantang karyawannya untuk memindahkan taget mencapai profitabilitas hingga kuartal keempat 2020.

Namun (tak disangka) imbas pandemi corona, mengubah semua rencana yang telah disusun. Sepertinya, hingga 11 tahun setelah didirikan, nasib Uber masih tidak jauh-jauh dari kubangan kerugian.

Latest