Sunday, June 7, 2020
Home News Feature Cara Apple, Samsung dan Sony Bertahan dari Gempuran Vendor China

Cara Apple, Samsung dan Sony Bertahan dari Gempuran Vendor China

-

Jakarta, Selular.ID – Kebangkitan vendor-vendor China dalam lima tahun terakhir, rupanya menjadi mimpi buruk bagi pemain-pemain raksasa, seperti Apple, Samsung dan Sony.

Perubahan selera konsumen, yang juga dipicu oleh sentimen nasionalisme, membuat merek-merek yang sebelumnya mendominasi pasar, khususnya di China, kini terus tertekan akibat menurunnya penjualan.

Sejauh ini dibandingkan Samsung dan Sony, penjualan iPhone masih terbilang cukup baik. Meski demikian, pangsa pasar Apple di China dari tahun ke tahun semakin memprihatinkan.

Peluncuran generasi baru iPhone 1 pada Oktober lalu, memang cukup menarik minat konsumen, namun tidak membuat posisi Apple lebih baik.

Laporan Bloomberg mengutip catatan penelitian Credit Suisse, menunjukkan bahwa Apple, menderita penurunan dua digit berturut-turut dalam dua bulan berturut-turut dalam pengiriman iPhone di negeri Tirai Bambu.

Pengiriman turun 35,1 persen tahun ke tahun di bulan November, seorang analis Credit Suisse mengatakan merujuk data dari Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China.

Tak dapat dipungkiri, vendor yang berbasis di Cupertino, California itu, tengah mengalami tahun yang sulit di Tiongkok.

Angka-angka Canalys yang dirilis pada Oktober lalu, menunjukkan pangsa pasarnya turun menjadi 5,2 persen, dibandingkan Q3 2018 yang masih sebesar 7 persen pada Q3 2018. Dalam periode itu, pengiriman Apple turun 28 persen menjadi hanya 7,1 juta unit.

Meski tengah menghadapi laju penurunan, dorongan dari iPhone 11 memastikan Apple tetap dalam daftar lima vendor teratas berdasarkan pengiriman di negara tersebut.

Rushabh Doshi, Direktur Riset Mobilitas Global pada firma riset Canalys, mengatakan bahwa Apple sedang berjuang di China. Sejumlah faktor berada dibalik penurunan tersebut, terutama karena jeda inovasi dan reaksi dari konsumen yang beralih ke merek lokal dalam menanggapi perang dagang dengan AS.

Tak dapat dipungkiri, perseteruan antara China dan AS yang merebak dalam tiga tahun terakhir, membuat perusahaan yang didirikan oleh Steve Jobs itu, berada dalam posisi tidak menguntungkan.

Aksi pembatasan terhadap Huawei semakin menambah pelik persoalan dan mendorong tumbuhnya gerakan “Boikot Apple” di China.

Menurut BuzzFeed News, saat ini semakin banyak pesan anti-Apple dan anti-Trump di Weibo, Twitter versi China.

“Saya merasa bersalah menonton perang dagang. Setelah saya punya uang, saya akan mengubah ponsel cerdas saya (iPhone),” salah satu pengguna memposting di Weibo.

“Saya pikir branding Huawei luar biasa, memotong sebuah apel menjadi delapan bagian,” baca posting lain.

China mendesak AS untuk berhenti “melecehkan perusahaan-perusahaan di luar negeri” dan mengecam keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menandatangani perintah darurat nasional yang melarang perusahaan-perusahaan Amerika menggunakan peralatan buatan luar negeri, dengan alasan kekhawatiran spionase.

Langkah AS, yang secara efektif membidik raksasa telekomunikasi China, Huawei, muncul ketika kedua negara adidaya ekonomi itu terkunci dalam perang perdagangan yang terasa pahit tanpa akhir.

Meski terus dalam tekanan Washington, Huawei mengatakan bahwa mereka masih terbuka untuk menangani masalah keamanan AS.

“Fungsi-fungsi di Huawei dapat dibandingkan dengan iPhone Apple atau bahkan lebih baik. Kami memiliki alternatif smartphone yang begitu baik, mengapa kami masih menggunakan Apple?” kata salah satu pengguna di Weibo.

Ini bukan pertama kalinya gerakan “Boikot Apple” mendapat perhatian di China.

Pada Desember tahun lalu, sejumlah perusahaan China bersatu di belakang raksasa teknologi itu, menawarkan diskon besar-besaran kepada karyawan untuk membeli perangkat Huawei dan menghindari iPhone.

Menurut Nikkei Asian Review, langkah itu dilakukan setelah penahanan Chief Financial Officer Huawei Meng Wanzhou di Kanada atas permintaan jaksa penuntut AS.

Lebih dari 20 perusahaan China juga turun ke media sosial untuk mengumumkan bahwa mereka akan meningkatkan pembelian produk Huawei lainnya.

Pengadilan China pada Desember 2018, juga melarang penjualan dan impor sebagian besar model iPhone setelah memberi Qualcomm perintah terhadap Apple.

Untuk menghindari larangan, Apple merilis pembaruan kecil untuk iOS, mengatakan bahwa iOS versi 12.1.2 berisi perubahan perangkat lunak khusus untuk China.

Meski penjualan terus menunjukkan pelemahan, Apple tetap yakin bahwa bisnis mereka akan tetap berkembang di China.

CEO Apple Tim Cook menyatakan keyakinannya bisnis Apple di negara itu masih memiliki “masa depan yang cerah” dan pendapatan layanan perusahaan telah mencapai rekornya.

“Kami bangga berpartisipasi di pasar China,” katanya.

Sejauh ini akibat sentimen terhadap Apple, Huawei menjadi merek smartphone yang paling diburu di pasar domestik. Sebagaimana laporan Forbes, Sabtu (14/12/201), vendor berlogo mirip bunga merah menyala itu, kini telah menguasai 42% pangsa pasar smartphone di China.

Samsung Beralih ke ODM

Sentimen nasionalis yang kini merebak di tengah masyarakat China, sesungguhnya tak hanya menekan iPhone, namun juga Samsung. Persaingan dengan merek-merek lokal, membuat raksasa Korea Selatan itu tak berdaya di pasar China.

Empat pemain teratas (Huawei, Oppo, Vivo, dan Xiaomi) terus merangsek bagai air bah. Membuat peta dan pangsa pasar berubah drastis dalam rentang waktu terbilang singkat.

Dengan menurunnya animo konsumen, Samsung tak kuasa membendung penurunan penjualan dari berbagai line up Galaxy, terutama smartphone kelas menengah dan high end.

Menurut laporan South China Morning Post, dalam dua tahun terakhir, tak satupun ponsel Galaxy besutan Samsung berhasil masuk daftar 10 ponsel terlaris di China.

Sebelum kebangkitan vendor-vendor domestik, Samsung merupakan pemain dominan di negara itu. Menurut catatan Strategy Analytics, pada 2011 pangsa pasar Samsung di China sebesar 12,4%. Bahkan sempat melonjak menjadi 19,7% pada 2013.

Namun, pencapaian Samsung pada tahun-tahun berikutnya menjadi anti klimaks. Pada 2015, pangsa pasar vendor asal negeri Ginseng itu langsung anjlok menjadi 7,6%.

Kemudian di kuartal pertama 2017, amblas lagi menjadi 2,7%. Puncaknya pada kuartal terakhir 2017, market share Samsung tinggal tersisa 0,8%.

Menukiknya pangsa pasar, pada akhirnya membuat Samsung mengambil keputusan drastis. Vendor yang berbasis di Seoul itu, terpaksa menutup pabrik terakhirnya di Huizhou. Padahal sebelumnya, pabrikan asal Korea Selatan itu sudah menghentikan fasilitas produksi ponselnya di Tianjin.

Rentang penutupan pabrik di Tianjin dan Huizhou terbilang cukup dekat. Untuk Tianjin dilakukan pada Desember 2018 dan tak kurang dari setahun kemudian pabrik di Huizhou juga dinyatakan gulung tikar.

Kendati menutup pabrik smartphone terakhirnya, bukan berarti Samsung menyerah. Pabrikan tersebut akan terus berjuang dan bersaing di pasar China.

Sebagai ganti dari pabrik yang ditutup, Samsung akan memindahkan ke fasilitas lain di seluruh dunia. Sementara itu, untuk tetap memperluas kapasitas produksi, mereka mengandalkan pabrik yang ada di India dan Vietnam, di mana biaya produksi lebih murah.

Meski resmi menutup pabrik, Samsung tetap menekankan pentingnya China, mengingat negara ini merupakan pasar smartphone terbesar di dunia.

“China tetap menjadi pasar yang penting bagi Samsung dan kami secara aktif berpartisipasi dalam kebijakan di China dengan mendorong pertumbuhan komponen industri,” jelas representatif Samsung.

Untuk bisa bertahan di China, belakangan perusahaan Korea Selatan itu dilaporkan meniru strategi para rivalnya tersebut, yakni dengan mengalihkan sebagian produksi ponsel ke Original Device Manufacturer (ODM) di Negeri Tirai Bambu.

ODM dimaksud adalah perusahaan bernama Wingtech, kontraktor yang konon juga memproduksi beberapa merek smartphone China yang terkenal, seperti Oppo, Xiaomi, dan Huawei.

Strategi outsourcing macam demikian bisa menghemat ongkos produksi Samsung, apalagi jika kontraktor bisa memproduksi ponsel lebih cepat. ODM pun bisa mendapat pasokan komponen dengan harga lebih murah ketimbang pabrik brand.

Dengan begitu, boleh jadi harga sebagian ponsel Samsung yang produksinya dialihkan ini bakal lebih murah. Sehingga bisa bersaing dengan tawaran-tawaran vendor China, terutama di segmen entry level.

Belum jelas model smartphone mana saja dari Samsung yang produksinya dialihkan ke Wingtech. Namun, menurut laporan Reuters yang dihimpun Selasa (19/11/2019), ODM itu akan menangani manufaktur seri Galaxy A.

Sony Berharap 5G

Langkah drastis dengan menutup pabrik, sejatinya tidak hanya dilakukan Samsung, namun juga oleh Sony.

Demi memangkas biaya pada bisnis ponsel yang terus bermasalah, Sony akhirnya memilih untuk menutup pabrik di Beijing pada April 2019. Fasilitas produksi yang sebelumnya dipusatkan di ibu kota China itu, kini sepenuhnya dialihkan ke Thailand.

Seperti dilansir Reuters, penutupan pabrik tersebut merupakan bagian dari tujuan untuk membalikkan kondisi bisnis smartphone yang masih terus merugi pada April 2022 mendatang.

Sony menegaskan, keputusan itu tidak terkait dengan masalah perdagangan AS-Cina yang meruyak sejak tiga tahun terakhir. Sony juga tidak mengungkapkan jumlah pekerja yang akan terpengaruh akibat penutupan pabrik.

Tak dapat dipungkiri, persaingan yang keras membuat kinerja unit mobile Sony terus dalam tekanan.

Dalam lima tahun terakhir, pangsa pasar Sony semakin digerus oleh vendor-vendor asal China. Barisan vendor yang dipimpin oleh Huawei, Oppo, Vivo dan Xiaomi, membuat Sony seperti anak kemarin sore dalam bisnis smartphone.

Dalam tiga bulan terakhir (April-Juni 2019) Sony hanya sanggup mengapalkan 900 ribu unit ponsel. Perlu diingat, hasil tersebut tercatat sebagai angka penjualan per kuartal terburuk sepanjang sejarah bisnis ponsel Sony. Angka ini juga jadi kali pertama bagi Sony yang gagal menjual kurang dari 1 juta unit ponsel dalam satu kuartal.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama si tahun lalu, Sony masih mampu menjual 2 juta unit perangkat. Akibatnya, penurunan ini memaksa perusahaan untuk mengubah target penjualan ponsel mereka dari 5 juta unit menjadi 4 juta unit sepanjang tahun fiskal 2019 (1 April 2019-31 Maret 2020).

Padahal, sebelum kebangkitan merek-merek China, Sony telah menjadi salah satu kekuatan industri ponsel sejak periode 2000. Sony bahkan berani mengakuisisi Ericsson pada 2011, setelah beberapa tahun sebelumnya kedua perusahaan melakukan merger.

Sony kini dalam posisi yang sama dengan LG. Kuat di bisnis elektronik, entertainment dan home appliance, namun loyo di bisnis smartphone.

Bahkan di Jepang, smartphone buatan Sony terus mengalami penurunan penjualan, sehingga berimbas pada meningkatnya kerugian.

Dalam laporan keuangan yang berakhir pada Maret 2019, Sony mengatakan divisi mobile mengalami kerugian sebesar 97 miliar yen atau lebih dari Rp 12 triliun.

Meski mengalami kerugian yang signifikan, namun Sony tidak berniat untuk menyuntik mati divisi smartphone. Lantas apa yang menyebabkan Sony tetap berupaya eksis di bisnis ini?

Rupanya Sony yakin kedatangan era 5G perlu tetap ditunjang dengan produksi ponsel sendiri.

“5G penting bagi strategi smartphone kita di masa depan. 5G adalah teknologi dengan potensi luar biasa karena bisa mengkoneksikan semua perangkat portabel ke cloud. Untuk benar-benar memanfaatkan teknologi ini kita perlu mempertahankan kapabilitas riset dan menciptakan aplikasi yang berhubungan,” kata CFO Sony, Hiroki Totoki.

“Dengan terus mengerjakan 5G di bisnis smartphone, kita bertujuan untuk mengembangkan teknologi 5G sebagai sebuah kompetensi yang dapat digunakan di seluruh grup Sony,” tambah Hiroki.

Sony pun menargetkan divisi smartphone bisa meraih untung pada 2021. Caranya antara lain dengan memindahkan pabrik dari China ke Thailand.

Selain itu, perusahaan juga menggabungkan unit mobile menjadi bagian dari divisi Electronics Products & Solutions mulai 1 April 2019. Dengan langkah restrukturisasi tersebut, Sony berharap dapat memangkas pos-pos pengeluaran hingga 50%.

TERBARU

Perluas Bisnis, WhatsApp Buka Lowongan Kerja di Indonesia

Jakarta, Selular.ID - Facebook terus melirik pasar Indonesia. Kali ini, platform perpesanan WhatsApp dilaporkan...

Peluncuran iPhone 12 Akan Ditunda

Jakarta, Selular.ID - Usai banyaknya prediksi waktu peluncuran iPhone 12 yang beredar, Apple rupanya...

Samsung Galaxy Note 20 Bakal Dirilis Agustus Tahun ini?

Jakarta, Selular.ID - Meskipun situasi pandemi Covid-19 tak kunjung usai, Samsung dilaporkan bakal tetap...

Latest