Sunday, August 25, 2019
Home News Feature Irfan Tachrir Raih Excellence in Performance di Ajang Selular Award 2019

Irfan Tachrir Raih Excellence in Performance di Ajang Selular Award 2019

-

Jakarta, Selular.ID – Hadirnya teknologi 3G dan 4G telah mendorong terjadinya perubahan perilaku masyarakat dalam berkomunikasi. Layanan dasar (voice dan SMS) semakin tergeser digantikan dengan data dan konten.

Kehadiran internet cepat, sejatinya memberikan kesempatan bagi operator untuk memonetisasi layanan data yang digadang-gadang akan menjadi revenue center masa depan.

Meski demikian, operator dihadapkan pada sejumlah tantangan yang tidak ringan. Pasalnya kompetisi di Indonesia terbilang brutal, karena jumlah pemain yang beroperasi terbilang masih banyak. Hal ini berujung pada penerapan tarif murah yang berdampak pada turunnya profitabilitas.

Di sisi lain, untuk menjaga kualitas jaringan, operator harus tetap mengalokasikan investasi besar, terutama membangun BTS 4G sesuai dengan kebutuhan layanan data yang terus meningkat.

Pada saat bersamaan, operator juga harus bersaing dengan beragam layanan OTT yang semakin popular. Layanan milik OTT itu pada akhirnya mendisrupsi layanan sejenis, seperti SMS dan voice, yang selama ini menjadi menjadi mesin pertumbuhan.

Tren pergeseran tersebut mencapai puncaknya pada tahun lalu. Akibat revenue yang terpangkas tajam, untuk pertama kali sepanjang sejarah industri selular di tanah air, operator mengalami pertumbuhan negative, sebesar 6%.

Agar tidak hanya menjadi dumb pipe, operator pun segera melakukan transformasi. Demi menemukan kurva pertumbuhan kedua, menjadi digital telecommunication company diyakini menjadi jalan keluar.

Salah satu operator yang konsisten menjalankan visi tersebut adalah Telkomsel. Meski dihadapkan pada beragam tantangan yang tak ringan, anak perusahaan PT Telkom itu, tak surut dalam mengembangkan bisnis digital.

Pasalnya, layanan digital sejalan dengan visi perusahaan dalam mengembangkan ekosistem digital berbasis Device, Network, dan Application (DNA).

Menurut Direktur HCM (Human Capital Management) Telkomsel Irfan Tachrir, sejatinya kemajuan teknologi tidak bisa dibendung. Bisnis operator pun sangat tergantung dengan teknologi.

“Jika ada teknologi baru tentu akan ada produk baru yang keluar. Begitu pun dengan kehadiran 4G LTE, masyarakat diperkenalkan dengan teknologi mobile broadband”, ujar Irfan saat menghadiri ajang Selular Award 2019 di Jakarta (15/7).

Dengan adanya 4G, otomatis banyak produk baru yang mulai bermunculan. Mulai dari e-wallet, music streaming, video streaming, mobile gaming, digital advertising e-commerce, hingga layanan IoT (Intenet of Things).

Menurut Irfan, itu adalah keniscayaan karena memang teknologi akan membawa ke sana. Masalah bisnisnya bisa berkembang atau belum, bukan itu isunya.

“Isu utamanya adalah saat ini kita belum sepenuhnya bisa me-monetizing. Bukan berarti bahwa balik ke core merupakan pilihan terbaik. Pasalnya sudah ada ekosistem DNA di sana. Ini semua sudah terbangun. Namun di atas itu, yang terpenting adalah kebutuhan riil masyarakat”, beber Irfan.

Dengan mobile broabband, bisa disimpulkan bahwa, jaringan yang dimiliki operator hanya menjadi jalan atau pengantarnya saja. Tapi yang jadi uang adalah transaksinya, tambah Irfan.

Pria yang lebih senang memakai busana kasual ini, mengatakan bahwa teknologi, pasar dan perilaku konsumen akan selalu berkembang sesuai tuntutan jaman. Karenanya demi merespon perubahan tersebut, wajib bagi operator untuk terus melakukan transformasi.

Untuk bisa berjaya di era digital, Telkomsel harus mengembangkan talenta-talenta yang dimiliki sesuai dengan tantangan terbaru.

Budaya Kerja Digital

Beruntung, bagi Telkomsel transformasi bukan barang baru. Sejak 1998, operator yang identik dengan warna merah itu, terus melakukan transformasi demi menyesuaikan dengan iklim kompetisi , kemajuan teknologi dan kebutuhan konsumen.

Berkat konsistensi dan keberaniannya dalam melakukan agenda transformasi, Telkomsel hingga kini dipercaya oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Sepanjang 24 tahun berdiri, Telkomsel tetap menjadi market leader di industri selular.

Namun posisi sebagai penguasa pasar yang disandang cukup lama, dapat menjadi bumerang. Karyawan bisa masuk dalam perangkap comfort zone, complacent (berpuas diri), sehingga sulit untuk berubah, imbuh Irfan.

Karenanya sejak didapuk menjadi Direktur HCM pada April 2017, Irfan bergegas cepat menyusun program transformasi. Tujuannya adalah untuk mengubah cara pikir (mindset), budaya kerja, meningkatkan level kompetensi, dan menumbuhkan semangat inovasi sesuai tantangan era digital.

Salah satu mindset yang dibangun adalah adalah break free from business as usual. Pendekatan ini dilakukan untuk mengubah pola kerja dengan pendekatan baru, karena pola lama tak lagi sesuai dengan tantangan dan bisnis saat ini.

Program transformasi yang diusung Telkomsel, selain untuk senior leader, juga menyasar kalangan milenial. Hal ini terbilang penting, mengingat sebanyak 67% karyawan Telkomsel berusia di bawah 40 tahun.

Dengan banyaknya kalangan kerja muda usia, maka leadership style harus berubah. Misalnya membangun organisasi dengan model kepemimpinan yang “tidak mengikat”, terus menjelajahi dan membuka potensi tim, membangun lingkungan kerja yang kolaboratif, memupuk budaya inovasi di tempat kerja, dan memberi mereka kesempatan untuk memimpin.

Untuk menumbuhkan budaya inovasi, Irfan memperkenalkan rumus 4D, yakni Discover, Define, Develop, dan Deliver.

Discover adalah menentukan segmen pelanggan, menemukan masalah pelanggan, mensintesis wawasan, dan memvalidasi pelanggan.

Define adalah menyempurnakan konsep, memprioritaskan solusi, menentukan nilai proposisi, dan merumuskan model bisnis.

Develop adalah bereksperimen dengan solusi, melakukan percobaan dengan asumsi tersebut, serta mempersiapkan rencana untuk implementasi.

Terakhir, Deliver. Langkah-langkah yang dilakukan adalah menerapkan konsep, memvalidasi konsep, dan mengulang konsep tersebut.

Di sisi lain, guna mendorong tumbuhnya semangat inovasi, Irfan juga membeberkan sejumlah kiat dan program. Diantaranya adalah menggelar program Digital X.
“Melalui Digital X kita menjalankan, mengaktivasi digital itu dalam hal design thingking dan experimental, serta cara kerja baru. Kesemuanya bertujuan menciptakan digital behavior”, ujar Irfan.

Terdapat tujuh perilaku digital, yaitu creativity, innovation and agility, anticipatory, risk taking, networking, experimental dan open minded. Kesemuanya mendorong kompetensi yang tengah dibangun Telkomsel untuk masa depan.

Open Minded

Menurut Irfan, perilaku open minded dengan mau menerima pendapat orang adalah sangat penting. Karena pekerjaan seperti itu adalah pekerjaan yang bersifat horizontal, tidak bisa vertical sendiri.

Di sisi lain, karena pekerjaan di era digital umumnya merupakan lintas disiplin, maka orang-nya juga harus punya kemampuan berkolaborasi. Jika tidak bisa berkolaborasi, maka tidak akan bisa bekerja dalam satu tim, imbuh Irfan.

Selain Digital X, program lain untuk meningkatkan inovasi adalah InnoXtion. Program ini mirip dengan NextDev. Namun lebih ditujukan kepada karyawan.

Untuk membangun lingkungan kerja yang kolaboratif, sekaligus memupuk inovasi di tempat kerja, pihaknya juga telah mendirikan DMob XLab (Device Mobile Experience Laboratorium), hasil kerjasama dengan ZTE, yang berlokasi di Bandung.

Di sisi lain, agar karyawan selalu update dengan industri dan cepat belajar untuk meningkatkan kapabilitasnya, Irfan menginisiasi pembuatan online learning, hasil kerjasama dengan portal edukasi global. Platform mobile ini ditargetkan dapat live sebelum akhir tahun. 

“Sekarang jamannya mobile, jadi semua harus bisa dilakukan lewat smartphone. Dengan adanya online learning, karyawan bisa belajar dimana saja dan kapan saja. Just in time. Kapan perlu baca, bisa, meskipun dalam waktu yang mepet seperti dalam perjalanan atau sedang menunggu”, lanjutnya.

Irfan mengakui, era digital telah mendisrupsi layanan operator. Sehingga untuk bisa bertahan dan memenangkan persaingan, operator pun harus bertrasnformasi. Operator wajib mencari dan mengubah model bisnis yang sejalan dengan tren digital.

Meski demikian, transformasi yang dijalankan tidak semudah membalikkan telapak tangan.

“Transfomasi itu butuh komitmen dan konsistensi, sebab hasilnya tidak akan langsung terlihat. Ia seperti marathon, bukan sprint. Hanya perusahaan yang percaya dengan masa depan yang akan melakukan transformasi”, tegas Irfan.

Pria ramah ini menambahkan, kompetisi antar operator dan pemain lainnya seperti yang terjadi saat ini, esensinya adalah pertarungan sumber daya manusia (SDM).

Dapat diyakini, operator dengan SDM mumpuni dan memiliki kompetensi digital, akan mampu survive dan memenangkan pertarungan yang semakin sengit di masa datang. Tidak hanya dengan pemain telko, namun juga dengan pemain non telko.

Dengan visi yang kuat, dibarengi program yang terarah dalam mengembangkan SDM Telkomsel, Irfan Tachrir layak dianugerahi “Excellence in Performance” di ajang Selular Award 2019.

Latest