Saturday, July 11, 2020
Home News Telco Masa Uji Coba MRT Sebaiknya Dioptimalkan Operator

Masa Uji Coba MRT Sebaiknya Dioptimalkan Operator

-

Jakarta, Selular.ID – Masa uji coba yang diberikan mitra penyedia sarana telekomunikasi pasif PT MRT Jakarta sebaiknya dimanfaatkan oleh operator secara maksimal guna melihat pola trafik komunikasi di sepanjang rute moda transportasi yang melayani masyarakat ibukota itu.

Saran tersebut disampaikan Kristiono, Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel). Selama masa trial tersebut menurut Kristiono dapat dimanfaatkan operator dalam melayani pelanggannya sekaligus mengevaluasi pola trafik di stasiun bawah atau di atas tanah serta selama moda melewati tunnel.

“Setahu saya mitra penyedia sarana telekomunikasi MRT Jakarta itu memberikan kesempatan semua operator untuk melakukan trial (uji coba) gratis di rute moda transportasi itu,” ungkapnya.

Menurutnya, langkah trial bisa dilakukan operator paralel dengan negosiasi bisnis bersama penyedia sarana telekomunikasi pasif sehingga lebih efisien dan tepat waktu kala masa komersial.

“Ikut trial akan memudahkan operator tahu trafik dan kebutuhan pelanggan sehingga memudahkan bagi mereka dalam berhitung cost benefit,” imbuhnya.

Sementara itu, Garuda Sugardo, Pelaksana Dewan TIK Nasional mengingatkan ketersediaan layanan seluler di sepanjang rute yang dilalui moda Mass Rapid Transport (MRT) Jakarta adalah sesuatu yang vital dan wajib dihadirkan operator seluler.

“Di zaman digital ini, ketiadaan sinyal seluler di kota metropolitan, apalagi di arena publik, adalah suatu yang mustahil. Jangan berharap terjadi migrasi pelanggan karena ada blankspot di ruas perjalanan sepanjang MRT Jakarta yang hanya butuh waktu tempuh 40 menit itu. Semua operator sejatinya harus sediakan layanan di sepanjang MRT Jakarta,” katanya.

Menurutnya, ketersediaan layanan seluler tak hanya masalah memenuhi hasrat berkomunikasi pengguna tetapi juga untuk antisipasi jika terjadi sesuatu yang tak diharapkan, misalnya krisis kala MRT berada di dalam terowongan.

“Terowongan MRT bukanlah bandara yang merupakan airspace terbuka. Terowongan adalah dunia bawah tanah di mana tenaga listrik dan redundansi harus tersedia. Terowongan MRT adalah Sangkar Faraday di mana sinyal seluler mutlak memerlukan alternatif. Banyak cerita di mana nyawa manusia dapat tertolong selama ponselnya masih berfungsi. Bila tanpa pilihan, tanpa sinyal, bagaimana komunikasi dapat terjadi just in case of sadness?” tanyanya.

M Ridwan, Sekjen Pusat Studi Kebijakan Industri dan Regulasi Telekomunikasi Indonesia-ITB (PIKERTI-ITB) mengakui penyediaan coverage seluler di rute MRT Jakarta hal yang penting agar masyarakat merasa aman dan nyaman.

“Setahu saya maintenance untuk fasilitas telekomunikasi di jalur MRT Jakarta ini agak kompleks tak sama dengan bandara atau gedung tinggi. Maintenance hanya bisa dilakukan di jam tertentu untuk fasilitas telekomunikasi. Belum lagi soal ketersediaan listrik yang harus 24/7. Jadi, secara teknis memang ini sesuatu yang pertama bagi Indonesia,” katanya.

Ridwan melihat banyaknya operator yang masih terkesan menunggu untuk masuk ke rute MRT Jakarta tak hanya masalah harga sewa tetapi belum bisa memprediksi trafik yang akan didapat.

“Saya lihat ini dampak dari selama ini operator perang tarif sehingga dana untuk re-investasi di jaringan yang masuk segmen baru itu mikirnya agak lama. Ini miriplah dengan menggarap area rural, kan saling menunggu. Kecuali yang memang punya investasi besar, kan mikirnya layanan utama,” ulasnya.

Padahal, tambah Ridwan, jika melihat animo dan strategisnya rute yang dilalui MRT Jakarta, sepertinya trafik yang dihasilkan lumayan menjanjikan.

“Operator kalau mau maju memang jangan saling menunggu, harus ada inisiatif. Ini kan masalah brand image juga, masa sih sampai ada layanan seluler absen di MRT Jakarta yang katanya simbol peradaban baru bangsa Indonesia,” tegasnya.

Seperti diketahui, MRT Jakarta telah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada Minggu (24/3) lalu.

Hingga Rabu (27/3) baru ada sinyal Telkomsel dan Smartfren yang bisa dinikmati sepanjang 13 stasiun oleh para penumpang moda transportasi itu.

Telkomsel adalah pemasang layanan pertama di MRT Jakarta dengan memasang 48 BTS di 13 stasiun yang dilewati MRT Jakarta. Smartfren baru saja mendapatkan kesepakatan untuk memasang dan menghidupkan perangkat di MRT Jakarta pada (27/3).

Padahal, MRT Jakarta bersama mitranya telah menyediakan antena In buiilding Solution (IBS) di 408 titik pada 13 lokasi yang dilalui moda tersebut sepanjang 15,6 Km. Ada juga antena repeater sepanjang rel (24,9 km), ruang BTS (8), dan backhaul ke fiber optik masing-masing calon penyewa. Kapasitas yang disediakan meliputi 74 sektor.

Latest